Perempuan dan Teknologi di Tengah Pandemi

0
989 views

Oleh : Rd Roro Anggraini Soemadi

Dosen Tetap FEB Universitas Muhammadiyah Tangerang

Berbagai kemajuan yang dimiliki perempuan Indonesia sudah banyak terlihat, semua ini sebagai bentuk partisipasi perempuan dalam kehidupan berkeluarga. Menurut data sensus jumlah perempuan akan mencapai 269,6 juta jiwa yang 134,27 jiwa adalah perempuan.

Menurut publikasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa ada empat pilar profil perempuan meliputi pencapaian pendidikan, kualitas kesehatan, peran perempuan dalam dunia kerja dan akses penggunaan perempuan dalam dunia kerja.

Dalam Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2017 bahwa perempuan lebih tinggi dari laki-laki, dengan angka 26,52 persen sedangkan laki-laki 23,52 persen. Angka tersebut terlihat bagus apabila peran perempuan dalam pendidikan.

Sebagai orang kedua dalam kehidupan berkeluarga, peran perempuan memegang kendali penting di rumah, mulai dari mendidik anak, mengantarkan anak sekolah, dan aktifitas kegiatan rumah tangga lainnya. Dan yang bekerja kantoran akan melakukan aktivitas rumah tangganya bersama asisten rumah tangga.

Saat kondisi pandemi sekarang ini, semua aspek kehidupan berubah yang awalnya mengantarkan anak sekolah berubah menjadi menemani anak sekolah di rumah, yang biasanya ke pasar berubah menjadi pesan aplikasi online, yang biasanya kuota Rp50 ribu berubah nominal menjadi Rp.200 ribu, yang tidak bisa zoom meeting sekarang bisa zoom dan kesemuanya itu menggunakan aplikasi.

Disinilah sangat besar peran seorang perempuan karena berdekatan dengan teknologi agar semuanya bisa dilaksanakan. Keadaan ini mau tidak mau akan dihadapi oleh semua perempuan baik yang bekerja maupun ibu rumah tangga untuk menggunakan teknologi saat ini, tidak mesti kursus karena kebutuhan semakin mendesak dan perempuan dituntut harus update terus menerus dalam satu kotak kecil pintar si smartphone agar pekerjaan dapat terselesaikan dalam menekan tombol-tombol tersebut.

Melihat kondisi pandemi saat ini, kita tidak tahu kapan akan berakhirnya sehingga membuat kaum perempuan harus membuka diri terhadap teknologi. Agar peran ibu dan kaum perempuan dapat terselesaikan, tidak ada yang menduga akan keadaan seperti ini karena begitu tiba-tiba sehingga membuat kita semua yang tidak biasa menggunakan teknologi menjadi akrab dengan teknologi. Semoga perempuan-perempuan Indonesia bisa terbuka terhadap teknologi sehingga jendela dunia akan terbuka buat kita semua.(*)