Perfilman Indonesia Perlu Dibenahi

0
99

JAKARTA – Dunia perfilman tanah air tumbuh subur. Hampir tiap tahun puluhan genre film bermunculan. Entah itu remaja, horor, action  maupun yang lain. Sayangnya, pertumbuhan tersebut masih belum didukung dengan kualitas film yang apik. Tak salah, respons penonton makin sedikit. Tak banyak di antara film-film hanya bertahan sebentar di gedung bioskop.

“Permasalahan yang sudah berlangsung lama ini masih belum dapat teratasi seperti kualitas karya yang masih butuh peningkatan, kesejahteraan para pekerja film yang masih membutuhkan jaminan, dan kualitas kerja yang belum memadai serta masih banyak lagi persoalan yang ada,” ujar Marcella Zalianty, Ketua Parfi ’56, saat ditemui di kawasan Antasari, Jakarta Selatan, Rabu (10/5).

Berdasarkan latar belakang itulah, Persatuan Artis Film Indonesia 1956 (Parfi ’56) menghelat studi strategis untuk melihat posisi artis di dalam persoalan-persoalan publik. Melalui metode FGD yang mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), akan ada hasil studi yang memiliki beberapa tujuan strategis. Di antaranya, menjadi salah satu acuan dalam proses pembuatan kebijakan berbasis bukti, terkait regulasi dunia perfilman, dan mengetahui bagaimana pemahaman artis terhadap persoalan publik dan regulasi yang terkait profesi mereka. Selain itu, memetakan permasalahan, kekuatan, dan mitra strategis artis di dalam industri perfilman.

“Dalam FGD Parfi ’56, pertanyaan mendasar yang akan didiskusikan, bagaimana strategi memperkuat posisi dan daya saing pekerja seni peran Indonesia dan bagaimana strategi terbaik dalam mendorong peningkatan kesejahteraan pekerja seni peran di Indonesia,” katanya.

Kegiatan ini pun diharapkan menelurkan rekomendasi untuk seterusnya dibawa ke regulator. Pada kesempatan yang sama, akan ada pemaparan sehubungan jaminan ketenagakerjaan bagi para aktor oleh BPJS Ketenagakerjaan sekaligus pemberian kartu BPJS.

“Apa yang dilakukan Parfi ’56 ini merupakan langkah positif untuk menempatkan para insan perfilman Indonesia berjaya dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” katanya.

Tak hanya itu, Marcella pun berharap dengan kegiatan semacam ini dapat mencetak aktor-aktor profesional yang pada akhirnya membangkitkan antusias dan kecintaan publik terhadap film Indonesia.

“Yang pada akhirnya melalui film dapat menjadi perekat persatuan di masyarakat yang berbudaya dan kreatif,” terang Marcella. (jpg/air/dwi)