Perilaku Pelajar Bolos, DPRD Lebak Prihatin

LEBAK – Sejumlah anggota DPRD Lebak mengaku prihatin dengan perilaku pelajar yang bolos sekolah. Mereka meminta kepada pihak sekolah dan orangtua agar intensif melakukan pengawasan, agar tidak ada ruang bagi para pelajar untuk bolos dari sekolah.

Anggota Fraksi Gerindra DPRD Lebak Zaenal Faozi menyatakan, Bupati Iti Octavia Jayabaya memiliki program Lebak cerdas. Program tersebut harus didukung oleh semua elemen masyarakat, termasuk satuan pendidikan di Lebak.

Oleh karena, jika tidak didukung, maka program itu tidak akan terwujud. “Saya sedih melihat puluhan pelajar berkeliaran pada jam belajar. Mereka akhirnya terjaring operasi penertiban oleh anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lebak,” kata Zaenal Faozi kepada Radar Banten, Rabu (18/9).

Ke depan, kata Faozi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Lebak dan Pemprov Banten memberikan perhatian khusus untuk penanganan siswa yang bolos sekolah.

Oleh karena, jika persoalan itu diabaikan maka akan merusak generasi muda di Lebak. “Bagaimana output pendidikan di daerah berkualitas jika para pelajarnya banyak yang bolos sekolah. Karena itu, sekolah tidak boleh lepas tanggung jawab. Mereka harus meningkatkan disiplin para pelajar di sekolahnya masing-masing,” katanya.

Faozi mengaku mendukung upaya Dinas Satpol PP Lebak yang rutin melakukan operasi penertiban pelajar. Dia meyakini, kegiatan itu dapat memberikan efek jera terhadap para pelajar yang bolos sekolah. Anggota Fraksi Partai Demokrat DPRD Lebak Ucuy Masyhuri mengaku tidak ingin melihat lagi ada pelajar di Lebak yang diangkut Satpol PP.

Oleh karena itu, sekolah harus mencegah sedini mungkin agar para pelajar tidak bolos. “Tentunya orangtua pun harus ikut melakukan pengawasan. Harapannya, ada sinergi antara sekolah dan orangtua,” katanya.

Menurut Ucuy, siswa yang sering bolos sekolah dikhawatirkan terpengaruhi nilai negatif. Misalnya narkoba, tawuran pelajar, dan perilaku menyimpang lainnya yang dapat merugikan masa depan generasi muda di daerah.

“Para siswa yang bolos sekolah tidak akan terkontrol oleh guru. Mereka bisa memicu terjadinya gesekan dengan siswa lain, sehingga berpotensi meresahkan masyarakat,” katanya. (tur/zis)