Perkosa Anak Tetangga, Opang Dibui

SERANG – Jiman (50), warga Taktakan, Kota Serang, divonis sepuluh tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Serang, Selasa (19/11). Tukang ojek pangkalan (opang) itu terbukti menyetubuhi FSU (6), anak tetangganya.

Jiman juga divonis denda Rp60 juta rupiah subsider enam bulan kurungan. Unsur dakwaan kesatu primer, Pasal 81 ayat (1) UU RI Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak telah terpenuhi.

“Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa berupa pidana penjara selama sepuluh tahun dikurangkan selama terdakwa berada di dalam tahanan,” kata Ketua Majelis Hakim Ade Sumitra Hadi Surya.

Vonis itu lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum Kejari Serang Youliana Ayu Rospita dan Budi Atmoko. Jiman sebelumnya dituntut 12 tahun penjara dan denda Rp60 juta subsider enam bulan kurungan.

Hukuman tersebut lantaran Jiman belum pernah dihukum, telah dilakukan musyawarah dengan keluarga korban, dan menyesali perbuatannya sebagai alasan meringankan. Sedangkan alasan yang memberatkan, perbuatan Jiman telah merusak masa depan korban dan meresahkan masyarakat sebagai pertimbangan memberatkan.

Diuraikan majelis hakim, peristiwa itu terjadi pada 10 Juni 2019. Korban yang sedang bermain diajak masuk ke dalam rumah Jiman. Setelah berada di dalam rumah, Jiman membawa korban ke dalam kamarnya. 

Korban kemudian dipaksa berhubungan badan. PI, ayah korban, mencari anaknya hingga ke rumah Jiman. Saat bertemu Jiman, PI menanyakan keberadaan anak perempuannya. “Terdakwa berbicara bahwa anak korban tidak berada di rumah. Tidak lama kemudian, FSU keluar kamar sambil menangis,” kata Ade.

Lantaran curiga, PI bertanya penyebab anaknya menangis. Jiman menjawab korban tidak akan hamil. Jawaban Jiman membuat PI emosi. Beruntung, emosi PI dapat direda warga yang kebetulan datang usai mendengar suara gaduh di rumah Jiman.

Tak terima, PI melaporkan perbuatan Jiman ke Mapolres Serang Kota. “Besoknya (usai pemerkosaan-red) terdakwa dibawa ke Mapolres Serang Kota,” ujar Ade.

Usai pembacaan vonis, Jiman dan JPU Kejari Serang menyatakan pikir-pikir. “Kami pikir-pikir yang mulia (menyebut majelis hakim-red),” tutur JPU Kejari Serang Ayu. (mg05/nda/ira)