Koordinator Relawan Phase Titik Kholawiyah membantu proses evakuasi Pulung, warga terdampak Tsunami menuju rumah sakit menggunakan mobil ambulan Puskesmas Kecamatan Sumur di Kampung Hasem, Desa Cigorondong, Jumat (29/12). Foto: Supriyono

Seminggu sudah badai tsunami menerjang. Warga masih mengungsi di perbukitan. Permukiman terasa senyap. Hanya ada relawan bersama beberapa warga berjaga di posko yang didirikan relawan.

Di tengah suasana yang gelap, Radar Banten bersama tim Relawan Phase baru saja tiba di posko Kampung Hasem, Desa Cigorondong. Akses listrik masih padam. Penerangan hanya memanfaatkan lampu emergency dan lilin. Juga api unggun kecil sembari untuk menghangatkan badan.

Malam itu, rasa letih memang masih menumpuk di badan. Maklum saja, kami baru tiba setelah menempuh perjalan sekira delapan jam dari Kota Serang menuju desa ketiga paling ujung di Kecamatan Sumur.

Lamanya perjalanan bukan soal jarak tempuh. Namun, lantaran laju kendaraan yang ditumpangi tak bisa berjalan lebih dari 20 kilometer per jam. Akses jalan itu penuh lumpur ban bebatuan. Bergelombang juga berlubang lantaran aspal sudah mengelupas.

Kantuk mulai menyerang. Namun, dingin menusuk tulang dan banyak nyamuk. Hati juga masih cukup risau lantaran posko yang kami singgahi jaraknya tak lebih dari 200 meter dari bibir pantai. Bahkan, deburan ombak masih terdengar cukup bergemuruh.

Sembari menghangatkan badan dengan api unggun, seteguk kopi menemani obrolan. Temanya masih tak jauh dari seputar hari saat tsunami terjadi. Entah bagaimana ceritanya, akhirnya mata ini menyerah juga sampai akhirnya ayam berkokok.
Warga dari pengungsian satu per satu mulai kembali ke kampung. Sementara, tim Relawan Phase yang dikoordinatori Titin Kholawiyah dan dokter Cita Dharma bersiap menggelar agenda terapi pascabencana dan pengobatan gratis untuk warga.

Koordinator Posko Relawan Ujung Kulon Adventure Deden Andriana penuh semangat memberi wara-wara. Tak lama berselang warga datang untuk memeriksakan diri.
Sambil berobat, beberapa di antara mereka berkeluh kesah. Juga menceritakan mencekamnya saat kejadian tsunami. Rasa takut panik bercampur baur. Mereka hanya tahu lari secepat-cepatnya menyelamatkan diri. “Nyeri ini kaki, gara-gara lari kocar-kacir saat tsunami,” keluh Mbok Jumi kepada Titin.

“Apalagi, yang pertama (hari sat tsunami-red) datang, enggak bawa celana-celana acan (tidak bawa pakaian sama-sekali-red). Anak doang yang dibawa, bapak (suaminya-red) yang dibawa cangcut (celana dalam) doang,” timpal perempuan paro baya lainnya.

Meski terasa memilukan, pengobatan gratis dan terapi pascatsunami itu membuat warga sedikit terhibur. Apalagi, Titin, Zenti, Munajat, Sofani dan tim lainnya yang ikut program pagi itu segitu antusias. Warga juga tampak senang. Sesekali minta berfoto dan direkam video sambil bercengkerama.

Siang semakin beranjak, tim mulai berkemas untuk sejenak rehat. Tiba-tiba datang seorang perempuan berusia sekira 43 tahun. Entah apa yang disampaikan. Ia hanya berbisik pelan kepada Titin. Tak lama berselang, Titin mengajak saya dan dokter Cita menuju rumah perempuan itu lantaran suaminya tak kuat berjalan.

Kami pun segera bergegas. Rumah itu jaraknya tidak jauh. Tepatnya, di seberang tempat acara pengobatan digelar. Tak jauh juga dari pantai di kampung tersebut. Benar saja, suami perempun itu, yang dikenalkan kepada kami bernama Pulung.

Saat tim tiba, laki-laki berusia 46 tahun itu hanya terbaring di kasur tipis di ruang tamunya. Awalnya kami kira hanya sakit biasanya. Dokter juga kami begitu kaget saat Pulung membuka kaus yang dikenakan. Sebab, jahitan operasi di perutnya lepas.
Hampir saja kami tak percaya. Ini lantaran usus yang terlihat memerah itu di luar perutnya. Pulung hanya membungkusnya dengan plastik putih yang dikaitkan dengan plester.

“Baru dua hari belajar jalan, ini disuruh lari-lari (saat tsunami datang). Jadilah begini (usus keluar karena jahitan bekas operasi lepas-red),” aku Pulung saat dokter Cita memeriksanya.

“Bapak memang habis operasi tumor di perut tiga bulan yang lalu. Dan seharusnya memang masih harus bolak-balik untuk cek lagi,” timpal istri Pulung sembari memapah putri bungsunya.

Saat kejadian tsunami, Pulung dan keluarganya sedang beristirahat di dalam rumah. Mendengar teriakan warga, ia bersama keluarganya ikut berlari mengikuti warga lainnya. Belum lagi pascatsunami berlangsung, dirinya harus ikut bolak-balik bersama warga ke lokasi pengungsian yang berada di perbukitan. “Di rumah kan enggak ada laki-laki. Cuma ada istri dan anak perempuan saja,” keluh Pulung.

Belum tuntas Pulung dan istrinya bercerita, dokter Cita menyarankan membawanya ke rumah sakit. Namun karena jarak rumah sakit dan akses jalan yang sulit dilalui, kami memutuskan membawanya ke rumah sakit darurat milik TNI AD yang berada di Kampung Cibining, Desa Tunggaljaya.

Desa itu sebenarnya tidak terlalu jauh, persis di sebelah Desa Cigorondong. Lagi-lagi, akses jalan yang rusak parah membuat perjalanan memakan waktu sampai sekira 45 menit. Entah berapa lama jika harus di bawa ke Kecamatan Sumur atau Rumah Sakit Berkah yang berada di tengah-tengah kota.

Di rumah sakit darurat, dokter Amrulah menerima kami. Ia bersama stafnya segera memeriksa. Namun, rumah sakit darurat itu tak cukup banyak perlengkapan. Pasien pun harus dirujuk ke rumah sakit daerah. Setidaknya di Puskesmas Kecamatan Sumur untuk mendapat perawatan di ruang steril.

Setelah berembuk dengan pihak keluarga, keputusan diambil untuk merujuknya. Sembari menunggu ambulans datang, Pulung kami antar ke rumahnya. Istrinya juga harus berkemas perlengkapan selama menunggu di rumah sakit. Perkiraan dokter, Pulung setidaknya harus dirawat selama satu minggu.

Beres mengevakuasi Pulung, tim Relawan Phase kedatangan Relawan Paskas. Kami pun berangkat ke posko mereka yang berada di Desa Ujungjaya. Desa paling ujung Kecamatan Sumur.

Sekira satu jam perjalanan, tim sampai pada patung badak bertulis ‘Selamat datang, Welcome to Ujung Kulon’. Tak jauh dari patung itu, posko Relawan Paskas sedang membagikan logistik kepada para korban. Kami pun menggelar pengobatan untuk warga terdampak.

Warga yang semula mengantre mengambil logistik dan pakaian layak pakai pun memeriksa dirinya. Hampir 70 orang datang. Macam-macam keluhannya. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan lansia. Memang mereka butuh pendampingan tim medis dan terapis pascabencana agar kembali pulih secara mental. “Sepertinya memang harus ada terapi trauma healing.” cetus Titin sembari melanjutkan perjalanan. (Supriyono)