Perpustakaan Saidjah Adinda: Gedung yang Unik dengan Ribuan Koleksi Buku

0
1.998 views
Perpustakaan Saidjah Adinda berdiri megah di Jalan RM Nataatmaja, Kecamatan Rangkasbitung. Foto: Mastur/Radar Banten

Jalan-jalan ke Rangkasbitung tidak sempurna jika belum mengunjungi Perpustakaan Saidjah Adinda di sisi timur Alun-alun Rangkasbitung. Gedung perpustakaan berdiri cukup megah dengan arsitektur seperti leuit (tempat menyimpan padi).

Gedung Perpustakaan Saidjah Adinda dibangun pada 2015-2016. Bangunan berbentuk leuit tersebut terletak di sebelah Museum Multatuli dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Lebak. Bahkan, anak-anak muda di Lebak yang berkunjung ke Alun-alun Rangkasbitung menyempatkan diri untuk selfie dengan latar gedung perpustakaan atau Museum Multatuli.

Gedung tiga lantai tersebut dibangun Pemkab Lebak dengan menghabiskan anggaran kurang lebih sebesar Rp10 miliar. Lantai dasar digunakan untuk parkir dan areal perkantoran, sedangkan lantai dua digunakan untuk menyimpan koleksi ribuan judul buku. Sementara itu, lantai tiga digunakan untuk menyimpan berbagai arsip daerah dan kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Lebak.

Rencananya, Pemkab Lebak akan meresmikan Perpustakaan Saidjah Adinda bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2017. Namun, sejak akhir 2016, perpustakaan dengan 15 ribu judul buku tersebut sudah dibuka untuk umum. Bahkan, sejumlah pegiat taman bacaan masyarakat di Lebak aktif melakukan diskusi di dalam perpustakaan. “Masyarakat sudah kita izinkan untuk masuk ke dalam perpustakaan. Mereka bisa membaca buku dan diskusi tentang berbagai persoalan di Lebak,” kata Asep Komar Hidayat, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah, kemarin.

Dijelaskannya, Pemkab Lebak sengaja mengambil nama Saidjah Adinda untuk perpustakaan terbesar di Kota Multatuli tersebut. Nama Saidjah Adinda cukup fenomenal, karena dikenalkan ke dunia internasional oleh Max Havelar dalam karya sastranya. Harapannya, masyarakat Lebak yang membaca buku di Perpustakaan Saidjah Adinda bisa mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang luas. Sehingga masyarakat Lebak bisa mendunia. “Seperti filosofi leuit sebagai tempat menyimpan bahan pangan. Saya ingin, perpustakaan ini jadi sumber pengetahun yang bisa memajukan dan menyejahterakan masyarakat Lebak di masa yang akan datang,” harapnya.

Mantan Kepala Dindikbud Kabupaten Lebak ini mengatakan, wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia bisa menikmati berbagai koleksi buku di dalam perpustakaan. Dengan tempat dan fasilitas yang memadai, dia optimistis Lebak akan dikenal luas. “Karenanya, setiap wisatawan akan kita ajak berkunjung ke perpustakaan. Tentunya, ke depan jumlah koleksi judul buku akan terus ditambah,” terangnya.

Menurut Asep, buku-buku di Perpustakaan Saidjah Adinda variatif. Mulai dari buku untuk balita, anak-anak, remaja, hingga orangtua. Jadi, masyarakat yang berkunjung ke perpustakaan akan terpenuhi kebutuhannya dan mereka juga bisa membaca buku keagamaan, sejarah, politik, dan yang lainnya. “Tahun ini, kita akan tambah koleksi buku. Pokoknya, pada peresmian nanti, koleksi judul buku akan bertambah hingga puluhan ribu buku,” paparnya.

Ahmad Lugas Kusnadi, aktivis TBM di Lebak menyatakan, Perpustakaan Saidjah Adinda tidak hanya menjadi destinasi wisata baru di Lebak. Perpustakaan juga akan menjadi sumber ilmu pengetahuan dan tonggak sejarah kemajuan Lebak. Jika masyarakat Lebak cerdas maka daerah ini akan maju dan sejahtera di masa yang akan datang. Karenanya, lelaki yang akrab disapa Ugas ini terus menyosialisasikan gerakan membaca kepada masyarakat di daerah. “Kita dukung pemerintah daerah untuk menambah koleksi buku dan menjadikan Perpustakaan Saidjah Adinda sebagai pusat ilmu pengetahuan dan simbol kemajuan peradaban di Kabupaten Lebak,” tukasnya. (Mastur/Radar Banten)