Sulit dimungkiri, ekonomi menjadi faktor penyebab keretakan rumah tangga Yeyen (47) dan Juki (49), keduanya nama samaran. Tapi alangkah malang nasib sang lelaki. Katanya, selain karena memang tak punya nyali, ia tak berani melawan sang istri. Aih-aih, jangan begitu atuh, Kang!

“Ya ini kan ceritanya dulu, sudah lama. Memang susah sih kalau lelaki kalah sama wanita mah, terlebih soal harta. Alhamdulillah sekarang enggak begitu lagi,” terang Juki kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Juki, sejak muda Yeyen memang terkenal dengan sikap egois dan gaya bicaranya yang ketus. Banyak orang yang tak suka padanya. Tak heran jika kedua orangtua pun tampak kesulitan mengurus perempuan bermata sayu itu. Kalau sudah marah karena keinginannya tidak dituruti, wuah, bisa-bisa membuat ribut seisi rumah.

Terlahir dari keluarga miskin, membuat Yeyen semakin tidak bisa mengontrol emosi. Pergaulan semasa sekolah yang menciptakan banyak perubahan pada sikapnya, seolah menjadi awal bagi Yeyen untuk terus bermimpi menjadi orang kaya. Wajar saja, dulu Yeyen sempat dibawa pamannya ke Jakarta dan tinggal di rumah megah. Sedangkan sebenarnya ia hanya anak petani biasa.

Yeyen sebenarnya wanita cantik, memiliki paras nan ayu bawaan sang ibu asli Betawi. Sementara sang ayah warga Serang asli. Ya meski tidak terlalu putih seperti wanita Chinnesse, tapi penampilan Yeyen memang selalu terlihat menarik. Membuat lelaki tak bisa menahan hasrat untuk tidak mencintainya. Apalagi dengan sikapnya yang jutek itu, wah, pokoknya bikin penasaran.

Banyak lelaki yang coba mendekat, namun lantaran sikapnya yang acuh tak acuh, membuat lelaki yang hanya punya cinta alakadarnya, pasti bakal berlalu begitu saja. Berbeda halnya dengan Juki. Ia yang memang sangat mencintai, melakukan segala cara agar dapat menarik perhatian sang pujaan hati. Apa pun akan dilakukan untuk Yeyen.

Tapi lagi-lagi, layaknya sikap Yeyen kepada semua lelaki yang mendekatinya, Juki tetap tidak mendapat respons positif dari sang wanita. Hebatnya, berkali-kali diabaikan, Juki tak kehilangan semangat. Bukannya menyerah, tak lama setelah mendapat pekerjaan di perusahaan swasta, ia nekad datang ke rumah Yeyen menemui orangtua sang wanita. Waw.

“Semua berkat saran teman. Katanya, cewek mah enggak butuh yang cuma main-main, jadi kalau niat mau serius, ya datengin rumahnya,” ungkap Juki.

Singkat cerita, mungkin karena tersentuh akan kesungguhan Juki, Yeyen malah berbalik mencintai. Mungkin karena ketulusan hati yang berjuang mendapatkan cinta, kini justru Yeyen yang bagai cacing kepanasan di kala jauh dari Juki. Aih-aih, kok bisa gitu, pakai pelet ya, Kang?

“Sembarangan, gini-gini saya anti sama yang begituan. Pelet, santet, dan segala macemnya itu, cuma buat orang yang enggak percaya diri,” tukas Juki. Wes, siap. Becanda, Kang saya mah. Wkwkw.

Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk menjalani masa-masa pendekatan, lima bulan pacaran, mereka sudah memutuskan menuju ke jenjang pernikahan. Atas restu kedua orangtua, Juki dan Yeyen mengikat janji sehidup-semati.

Di awal pernikahan, Yeyen dan Juki pasangan yang saling mengerti satu sama lain. Keduanya menjaga perasaan dan menciptakan suasana harmonis. Juki yang penyabar dan kalem, membuat Yeyen ikut terbawa dalam setiap tutur katanya. Menjadi istri yang berbakti kepada suami, Yeyen melayani Juki setulus hati. Mulai dari menyiapkan sarapan, sampai bersedia memberi pijitan sayang sepulang bekerja, semua dilakukan atas dasar cinta.

“Waktu awal-awal sih ya begitu, Kang. Kan lagi sayang-sayangnya” curhat Juki.

Namun, apa mau dikata, namanya juga cobaan hidup, bisa datang kapan pun dan tak terduga. Sedang mesra-mesranya menjalani hidup baru pasangan muda, Juki harus kehilangan pekerjaan lantaran perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Meski di awal sempat berjanji akan menjalani susah senang bersama, tapi ketika menjalaninya, tetap saja ia tak ingin menderita. Oalah, manis di awal pahit di akhir dong!

Kecewa dengan keadaan, Yeyen merutuki diri dan memarahi suami. Sikapnya yang mudah iri dan dengki terhadap tetangga yang setiap bulan membeli barang elektronik, membuatnya semakin panik. Bosan dengan alasan Juki yang tidak lagi berdaya mencari nafkah, Yeyen malah bersikap ketus dan emosian. Kembali ke tabiatnya semula.

Bersabar di tengah tekanan sang istri, Juki terus memutar otak menghidupi rumah tangga. Sikap Yeyen yang selalu kasar, hanya menyisakan perih di hati. Sang suami yang selalu sabar meski dimarahi setiap hari, tak bisa lagi menikmati seduhan kopi hangat istri di pagi hari.

“Benar kata teman dan orangtua, sesuatu yang tidak dipersiapkan dengan matang itu, ujung-ujungnya bakal berantakan dan bikin pusing. Ya, namanya juga berumah tangga, saya mah menikmati sajalah!” keluh Juki.

            Hingga suatu hari, kejadian menegangkan itu terjadi. Lelah keliling sana-sini, bersilaturahmi ke rumah teman berharap mendapat pekerjaan, tetapi rezeki tak kunjung datang. Juki dikagetkan suara pertengkaran dari depan rumah. Saat membuka pintu, kakak wanita tertua alias teteh dan istrinya saling adu mulut.

“Makanya cari istri tuh yang bener, tuh si Yeyen berduaan sama tetangga di dalam kamar!” kata Juki meniru ucapan tetehnya.

Belum sempat ia menanggapi, sang istri nyerocos mengklarifikasi. Katanya, siang itu ia sedang meminta tolong kepada sang tetangga untuk membenarkan genting bocor di dalam kamar. Tapi setahu Juki, meski semalam memang hujan, tak ada air menetes di kamar. Anehnya, Yeyen tak mau mengakui, ia terus berbicara seolah ia paling benar.

Sampai di titik penghabisan kesabaran, sambil berteriak kencang, Juki membentak sang istri. Dalam sekejap Yeyen langsung diam, mulutnya bungkam. Tampak aliran sungai di pipinya. Sambil meringis, Yeyen meminta maaf pada Juki. Yeyen pun disidang di hadapan suami dan keluarga.

Hebatnya, mungkin karena sayang dan rasa memiliki, Juki memberi kesempatan kedua. Sejak saat itu, Yeyen cenderung lebih menuruti kemauan suami, ia tak lagi emosi apalagi marah-marah. Meski ekonomi masih sulit, Yeyen dan Juki tetap bersama. Dua tahun kemudian mereka dikaruniai anak pertama.

Subhanallah, mungkin itu hikmahnya atas peristiwa apa yang terjadi dengan rumah tangga Kang Juki dan Teh Yeyen. Langgeng terus ya! Amin. (daru-zetizen/zee/ags/rbg)