Persiapan Menuju Final Bintang Sains: Tambah Jam Belajar, Ajak Orangtua Bekerja Sama

Beberapa siswa sekolah dasar di Kecamatan Kramatwatu belajar di kelas untuk menghadapi final Bintang Sains Kabupaten Serang 2020, kemarin.

Sebanyak 290 finalis dari 29 kecamatan di Kabupaten Serang sedang melakukan persiapan menuju final Bintang Sains 2020 pada 20 Februari mendatang. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari menambah jam belajar hingga mengajak orangtua bekerja sama.

Haidar – Serang

Lomba dengan hadiah Piala Bergilir Bupati Serang, uang pembinaan, dan study tour ke Malaysia dan Singapura itu menjadi ajang yang penuh gengsi. Para kepala sekolah,  pengawas, dan guru di setiap wilayah ingin menunjukkan hasil maksimal dari proses belajar siswa di final nanti.

Berbagai persiapan pun dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh para guru dan siswa di SDN Kramatwatu 3, Rabu (12/2). Suasana belajar tampak seperti biasanya. Para siswa terlihat memperhatikan guru yang sedang menjelaskan mata pelajaran. Ketika bel tanda kegiatan belajar mengajar (KBM) berakhir berbunyi pukul 12.15 WIB, para siswa berhamburan keluar kelas dan pulang ke rumah masing-masing.

Namun, tidak dengan dua siswa finalis Bintang Sains perwakilan Kecamatan Kramatwatu, yakni Ignatius Howell dan Alfa Algifari. Siswa kelas IV dan V itu harus tetap bertahan di sekolah untuk mendapat jam pelajaran tambahan tentang IPA dan matematika bersama gurunya.

Setelah makan siang dan salat zuhur, keduanya kembali lagi ke kelas. Raut wajah mengantuk tampak di keduanya, tetapi semangat belajar mereka tetap membara. Ketika gurunya datang, alat tulis serta buku pelajaran IPA dan matematika langsung dikeluarkan.

“Pulangnya sore, soalnya harus belajar lagi supaya di final Bintang Sains nanti juara,” kata Ignatius Howell.

Hal serupa dilakukan finalis lainnya dari SDN Kragilan 5, Desta Radiawan yang sudah mulai mendapat perhatian khusus dari guru terutama soal pelajaran sains. Bukan hanya mendapat pelajaran tambahan, siswa kelas V itu juga mendapat tugas tambahan untuk dikerjakan di rumah.

Tugas biasanya dikerjakan secara berkelompok. Siswa yang menjadi finalis dibantu dengan siswa lainnya untuk sama-sama mengerjakan tugas. Tujuannya, agar kegiatan belajar di rumah menjadi lebih menyenangkan, para siswa bisa saling membantu jika ada soal atau pertanyaan yang sulit. “Belajar kelompok biasanya seminggu tiga kali,” ungkap Desta.

Proses belajar pada jam tambahan itu berbeda dengan kegiatan belajar biasanya. Siswa diajak untuk belajar secara aktif, yakni dengan metode tanya jawab soal IPA dan mencongak atau pembagian dengan sembarang bilangan untuk pelajaran matematika.

“Kami berusaha semaksimal mungkin untuk menyiapkan bekal pelajaran menuju final,” kata Sri Mulyani, guru SDN Kramatwatu 3.

Selain itu, para guru juga mengajak orangtua siswa yang menjadi finalis untuk bekerja sama guna menjaga ritme belajar si anak. Salah satu upayanya dengan mengontrol waktu bermain anak di rumah, terutama membatasi waktu bermain gadget.

“Tujuannya, agar siswa fokus meningkatkan kemampuan dan tidak mudah lupa saat berlomba di final,” kata Sri Mulyani.

Hal itu juga diakui orangtua siswa yang menjadi finalis dari Kecamatan Kramatwatu Santimer Sinaga. Setiap malam, ia rutin menemani anaknya, Ignatius Howell, belajar matematika dan IPA. Bukan cuma itu, Howell juga mengikuti kursus sains setiap sore.

“Saya benar-benar menjaga dan mengontrol aktivitas harian anak supaya dia fokus dan jadi juara,” katanya.

Sementara itu, pengawas SD Kecamatan Ciruas Siti Fatimah mengungkapkan, kemampuan sains siswa di seluruh sekolah akan diuji pada final nanti. Katanya, terkait siapa pun yang menjadi juara, itu urusan nanti. Yang terpenting ialah persiapan matang menjadi kunci keberhasilan.

“Lomba ini menjadi motivasi untuk lebih giat belajar dan bersaing,” pungkasnya. (*)