Ketua Pengprov Porlasi Banten Asep Yusuf Syahril (kiri) dan atlet layar Banten berfoto bersama pelatih asal Selandia Baru, Brush Kendall.

SERANG-Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia  (Porlasi) Banten optimistis mampu meningkatakn prestasi pada multi event Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2020. Itu tidak lepas dari potensi atlet yang dimiliki saat ini.

Ketua Pengprov Porlasi Banten Asep Yusuf Syahrir mengatakan, alih-alih memikirkan persiapan jangka panjang untuk menghadapi babak kualifikasi PON (Pra-PON) 2019 agar mampu melolskan banyak atlet, pihaknya sudah jauh memikirkan soal peluang meraih medali emas di Bumi Cendrawasih nanti.

“Kalau untuk Pra-PON, insya Allah dengan syarat tiga besar yang ditetapkan KONI Banten, kami bisa minimal meloloskan empat atlet. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana meraih tiga atau empat medali emas di PON nanti. Dan itu kita persiapkan mulai sekarang sesuai amanah ibu ketua umum KONI Banten (Rumiah Kartoredjo-red),” kata Asep kepada Radar Banten, Rabu (4/4) siang.

Asep menambahkan, agar peluang meraih medali emas PON semakin besar, ia mengaku pihaknya sedang memikirkan untuk memakai tenaga pelatih asing khususnya saat menjalani Pelatda PON 2020 nanti. Rencana ini dikemukakan Asep lantaran dirinya melihat kemampuan empat atlet Banten yang saat ini tergabung di Pelatnas Asian Games 2018 mengalami peningkatan kemampuan yang sangat signifikan dengan ditangani dua pelatih asing asal Selandia Baru dan Polandia.

“Pelatih Selandia Baru, yakni Brush Kendall menangani atlet selancar angin yakni Ratiah dan Dexy Priany. Sementara Marek pelatih Polandia menangani atlet nomor perahu yang diikuti Kirana Wardojo dan Gregory Roger Wardojo. Saya cukup yakin jika dipoles oleh dua pelatih ini, atlet Banten akan bisa mempersembahkan medali lebih banyak dari PON di Jawa Barat lalu,” imbuhnya.

Keempat atlet yang diyakini mampu tampil di Papua nanti adalah atlet penghuni Pelatnas Asian Games 2018, yakni Ratiah yang juga peraih medali emas PON XIX Jawa Barat 2016, kakak-adik Kirana Wardojo dan Gregory Roger Wardojo, serta peselancar muda Dexy Priany. “Keempatnya saat ini tengah ditempa di pelatnas di Pantai Karnaval, Ancol. Untuk saat ini keempatnya merupakan atlet nomor satu Indonesia di masing-masing nomor. Tanpa mengecilkan arti atlet lainnya, dengan status tersebut syarat tiga besar Pra-PON yang ditetapkan KONI Banten untuk dapat tampil di PON Papua diyakini dalam genggaman keempat atlet tersebut,” ungkap Asep.

Hanya saja untuk menggunakan pelatih asing, ia mengakui kesulitan untuk memenuhi gaji dua pelatih asing tersebut. Karena dibutuhkan dana ratusan juta untuk menggunakan jasa keduanya. “Di Pelatnas mereka dibayar Rp8 juta, bukan perbulan tapi per hari. Tapi dengan kedekatan kami, Insya Allah kita bisa membujuk mereka untuk bisa menerima bayaran yang lebih murah dalam satu paket. Tapi tetap saja harganya masih ratusan juta,” beber Asep.

Pelatih Layar Banten Joko Sulistyo menyatakan, pihaknya berencana akan mengakali penggunaan kedua pelatih asing tersebut tidak sepanjang Pelatda PON. Namun keduanya digunakan saat akan menghadapi PON saja, yakni dua sampai tiga bulan saja.

“Kami butuh bantuan dari KONI untuk bisa merealisasikan hal tersebut. Karena dana yang tidak sedikit untuk mendatangkan keduanya. Kalau pun ada pihak swasta yang mau menanggung biaya keduanya lewat program bapak asuh, kami juga berharap,” ucapnya. (dre/ibm/ags/RBG)