Persoalan Belajar Daring Makin Kompleks

0
869 views

SERANG – Tahun ajaran baru 2020/2021 tetap menggunakan metode belajar dalam jaringan (daring). Bukannya meringankan siswa, belajar daring malah makin kompleks seperti yang diungkapkan orangtua siswa.

Mereka mengungkapkan terkendala koneksi internet, keterbatasan kuota, beban biaya yang memberatkan, tolok ukur tidak jelas, dan sebagainya. Kegiatan belajar mengajar (KBM) daring dinilai kurang efektif.

Juhri, warga Kampung Darmaga, Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, mengaku terkendala dengan akses internet di wilayahnya. “Akses internet susah, kartu apa pun yang dipakai susah buat internetan. Bukannya enggak kebeli kuota internet, tapi memang jaringan internet ini yang susah,” katanya kepada Radar Banten.

Menurutnya, bila nanti pembelajaran dilakukan secara daring akan menyulitkan anaknya. Ia berharap, ada kebijakan lain yang memudahkan siswa melaksanakan KBM.

Begitupun  yang dikeluhkan orangtua siswa di Kota Cilegon. Mereka menganggap sistem belajar daring tidak  efektif dan membuat boros biaya internet. Ardiansyah, salah satu orangtua siswa mengutarakan,  belajar daring membuat siswa susah menangkap mata pelajaran. “Penjelasannya kurang jelas,” paparnya.

Orang tua siswa lainnya, Mega Lestari menilai belajar daring selain tidak efektif juga membebani ekonomi masyarakat. Biaya untuk internet melonjak berkali-kali lipat. “Kalau belajar di sekolah gak perlu keluar biaya pulsa,” tuturnya.

Orangtua siswa asal Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Rohmawati juga mengeluhkan paket internet yang digunakan untuk proses belajar di rumah. Menurutnya, biaya pembelian paket internet menambah beban. “Kita usahanya juga lagi susah, ditambah beli paket internet buat belajar anak,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Anis, warga Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak. Kata dia,  pembelajaran daring tidak efektif dibanding dengan tatap muka. “Serba sulit, kalau pembelajaran tatap muka juga khawatir Covid- 19. Karena anak-anak belum begitu paham. Tapi, dengan daring  membebani orangtua,” katanya

Terpisah, siswa asal Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Aula Nisa sama mengeluhkan soal belajar di rumah. Kata dia, belajar melalui daring sulit dipahami ketimbang belajar tatap muka di kelas. “Kurang ngerti yang dijelasin, kalau langsung di ruangan kelas kan paham,” katanya.

Ia mengatakan, komunikasi antara siswa dengan guru terbatas jarak. Ia berharap proses belajar mengajar tatap muka bisa segera dilakukan. “Kalau waktu pertama-pertama sih biasa saja belajar di rumah, tapi lama kelamaan jadi bosan, pengin sekolah lagi,” ujarnya.

Orangtua siswa lainnya asal Kota Serang Dewi Komalasari mengaku pembelajaran daring membuat bingung, sempat mengalami kesulitan keuangan untuk memenuhi kebutuhan paket data anaknya. “Anak saya sampai murung di rumah. Karena memang kendala keuangan. Saya juga sempat bingung waktu itu,” ujarnya  di lingkungan Kelurahan Unyur, Kecamatan Serang, Minggu (19/7).

Dalam posisi kesulitan ekonomi, anaknya sempat tak mengerjakan tugas sekolah. Ia berharap, pembelajaran daring segera berganti menjadi tatap muka. “Penginnya belajar bareng. Biar anak saya juga tidak banyak melihat handphone-nya. Biar ceria lagi,” terangnya.  Kata dia, kalau dihitung kebutuhan paket data lebih dari Rp60 ribu per bulan. “Kewalahan kalau kondisi sulit begini mah,” tambah Dewi.

KERJA SAMA DENGAN TV

Sementara itu Komisi V DPRD Banten meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten memetakan SMA/SMK Negeri yang terancam mengalami kendala KBM melalui daring. Ketua Komisi V M Nizar mengungkapkan, untuk sekolah di pelosok yang kesulitan sinyal internet diperbolehkan menggelar KBM tatap muka secara terbatas. “Ini yang kita minta untuk dipetakan Dindikbud, sehingga kita ingin mendapat kepastian tahun ajaran baru berjalan efektif,” kata Nizar.

Politikus Gerindra ini menyebutkan, pandemi Covid-19 memaksa pembelajaran di sekolah menggunakan sistem online. Namun mengacu pada tahun ajaran 2019/2020 metode belajar daring hanya 60 persen berhasil. “Untuk tahun ajaran baru, kita ingin tolok ukurnya jelas. Mana sekolah yang full belajar daring, dan mana yang diperbolehkan belajar tatap muka terbatas sesuai protokoler kesehatan,” tegasnya.

Nizar memastikan, Komisi V akan memonitoring pelaksanaan belajar dari di SMA/SMK Negeri yang saat ini dikelola Dindikbud Banten. “Kami juga akan melakukan inspeksi mendadak (sidak), untuk mengukur keberhasilan pembelajaran daring,” tuturnya.

Ia menyarankan Dindikbud Banten untuk menambah media pembelajaran daring agar berjalan sesuai yang diharapkan. “Selama internet belum merata, dan piranti yang dimiliki siswa tidak sama. Belajar daring tidak menghadirkan keadilan. Perlu ada evaluasi bersama untuk mencari solusi, misalnya dengan kerja sama dengan media elektronik lokal, seperti yang dilakukan Kemendikbud bekerja sama dengan TVRI,” saran Nizar.

Sebelumnya, Dewan Pendidikan Provinsi Banten meminta Dindikbud Banten untuk mengombinasikan belajar daring dengan variasi berbagai media/alat pembelajaran sesuai kondisi yang ada di delapan kabupaten/kota.

Menurut Ketua Dewan Pendidikan Banten, Dadang Setiawan, pembelajaran daring kurang efektif dibandingkan dengan belajar secara konvensional atau tatap muka di kelas. Itu lantaran ada beberapa kendala yang mengganggu interaksi antara peserta didik dengan gurunya. “Belajar daring di tengah pandemi Covid-19 memang lebih baik dibandingkan siswa libur belajar. Namun perlu ada kreatifitas dari Dindik untuk melakukan terobosan agar belajar di rumah berjalan efektif,” kata Dadang.

Beberapa kendala yang menggangu proses belajar daring di Banten, baik tingkat SMP maupun SMA, adalah tidak semua siswa memiliki kemampuan yang sama dalam hal kepemilikan fasilitas gadget. Masih banyak siswa yang hanya memiliki handphone biasa sehingga tidak mendukung untuk belajar daring.

Ia berharap, Dindikbud Banten bisa bekerja sama dengan pihak lain untuk menyukseskan pembelajar daring. “Kemendikbud bekerja sama dengan media elektronik untuk mendukung belajar daring, karena radio atau televisi bisa menjangkau seluruh wilayah sehingga memudahkan siswa untuk tetap belajar di rumah,” pungkasnya. (bam-dib-den-jek-nce-fdr/alt)