Pertambangan Ilegal di TNHGS: Polisi Temukan 10 Lubang Besar

Polisi dari Polda Banten dan tim investigasi saat memasuki salah satu lubang pertambangan ilegal di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

SERANG – Sebanyak sepuluh lubang besar yang menjadi lokasi pertambangan emas ilegal (PETI) di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Kabupaten Lebak, ditemukan. Sepuluh lubang besar tersebut ditinggalkan oleh para gurandil pascabanjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kabupaten Lebak pada awal tahun ini.

“Kita banyak temukan lubang (pertambangan emas ilegal-red). Yang besar kita temukan ada sepuluh, lubang yang besar ini masih bisa digunakan untuk aktivitas pertambangan ilegal. Untuk gurandil, sudah tidak ada aktivitas lagi,” kata Karo Ops Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Amiludin Roemtaat saat di lokasi PETI, Kawasan TNGHS, Kabupaten Lebak, Kamis (23/1).

Penertiban PETI yang kedua kalinya tersebut melibatkan 302 personel gabungan baik dari TNI, Polri, Pemkab Lebak, Pemprov Banten, dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK). Operasi tersebut dibagi menjadi dua tim.

“Kita dibagi menjadi dua tim. Tim pertama saya yang pimpin, kita bergerak di Citorek. Personel yang tergabung dalam tim terpadu ini ada 302 orang,” kata Roemtaat.

Di tim kedua dipimpin oleh Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Banten Kombes Pol Dedi Suryadi. Mereka bergerak ke daerah Sobang dan Cikanclak. Kedua lokasi tersebut berada paling jauh.

“Perjalanan mereka perginya saja bisa empat jam (dari Citorek-red). Mereka start sekira pukul 10 tadi (kemarin-red), mungkin sampai pukul dua siang di lokasi,” kata Roemtaat.

Di tim tersebut ada tujuh lokasi yang akan dilakukan penertiban. Ratusan personel akan disebar ke lokasi pertambangan untuk efektivitas penertiban.

“Nanti mereka akan pasang police line di sana. Mungkin mereka tengah malam baru selesai atau mungkin besok pagi (hari ini),” kata mantan kepala Polres Poso itu.

Semua lokasi pertambangan dilakukan penyisiran dan penertiban. Untuk lokasi yang kedua, belum diketahui jumlah lubang pertambangan. Komunikasi antara tim pertama dan kedua terputus lantaran sinyal yang terputus.

“Kami belum mendapat laporan tim yang kedua,” ujar Roemtaat.

Untuk menuju lokasi pertambangan, personel dibuat kesulitan dengan medan yang licin dan jauh. Namun, semua personel dapat menuju lokasi dan melakukan penertiban.

“Kesulitan kita hanya medan saja yang licin dan jauh,” kata Roemtaat.

Operasi tim gabungan tersebut hanya menyasar terhadap penutupan lokasi pertambangan. Sementara penindakan hukum dilakukan oleh Subdit Tipiter Ditreskrimsus Polda Banten.

“Kalau tersangka tanyakan kepada krimsus (Ditreskrimsus-red),” ucap Roemtaat.

Sabtu (11/1), lima lokasi pertambangan di tiga blok Desa Cidoyong, Desa Cijulang, dan Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, sudah dilakukan penutupan. Operasi tersebut melibatkan sekira 70 personel gabungan.    

“Giat tersebut sebagai bentuk tindak lanjut perintah Presiden RI dan instruksi Kapolda Banten Irjen Pol Agung Sabar Santoso dalam upaya tindak penambang liar yang membahayakan keselamatan masyarakat,” kata Kabid Humas Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Edy Sumardi Priadinata .  

Dari ketiga lokasi tersebut, polisi melakukan penindakan dengan memasang garis polisi guna kepentingan penyidikan. “Selain melakukan pengecekan lokasi tambang, kami juga memberikan garis polisi di sekitar lokasi pertambangan liar dan lokasi itu sudah ditinggal oleh penambang,” ucap Edy.

Penindakan langsung ke lokasi pertambangan liar tersebut guna mencegah terjadinya bencana susulan yang dapat merugikan masyarakat.

“Menghindari adanya longsor akibat pertambangan ilegal sehingga masayarakat bisa merasa aman dan tidak resah akibat pertambangan ini,” kata Edy.

Selain melakukan penutupan area pertambangan, polisi juga menyegel empat pengelolaan emas. Lokasi tersebut dua di Kampung Cikomara RT 04 RW 02, Desa Banjaririgasi, Kecamatan Lebakgedong. Dua lokasi lain di Kampung Hamberang RT 04 RW 06, Desa Luhurjaya, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. Terakhir di Kampung Tajur RT 06 RW 04, Desa Mekarsari, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak.

“Sudah dipasang police line (di lokasi-red),” ujar Kapolda Banten Irjen Pol Agung Sabar Santoso.

Dari lokasi pertambangan dan pengelolaan emas, tim Satuan Tugas (Satgas) PETI dari Polda Banten, Bareskrim Polri, dan DLHK Provinsi Banten telah mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya, ratusan alat pengelolaan emas atau gelundung dan merkuri.

“Juga ada batu yang akan diolah menjadi emas,” kata Agung.

Sampai saat ini, lanjut Agung, penyidik telah memeriksa 12 gurandil atau penambang emas ilegal. Mereka dimintai keterangan untuk proses penyidikan PETI  di Kawasan TNGHS.

“Sudah 12 orang (gurandil-red) yang diperiksa. Kita juga telah memeriksa saksi ahli. Jumlahnya ada empat orang,” kata Agung.

Ke-12 gurandil yang diperiksa tersebut selain penambang juga bekerja di pengelolaan hasil tambang emas ilegal di Kecamatan Lebakgedong dan Kecamatan Cipanas. Mereka menjadi gurandil sudah dalam waktu yang lama.

“Saat ini proses pemeriksaan saksi masih berjalan,” kata Agung.

Penyidik belum memeriksa para pemilik pengelolaan emas. Sebab, saat polisi mendatangi rumah para pemilik pengelolaan emas tersebut, mereka sudah tidak berada di tempat.

“Para pemilik juga belum kita periksa karena saat dilakukan penyisiran dan tindakan di lokasi, mereka sedang tidak di rumah, Namun, kami akan terus lakukan interogasi dan pemeriksaan terhadap saksi lain untuk mengetahui peran dan tanggung jawabnya,” tutur Agung. (mg05/air/ira)