Perusahaan Sembunyikan TKA, Petugas Imigrasi Kesulitan Memeriksa

0
698 views
Safety
Ilustrasi/ Inet

SERANG – Kesulitan mendeteksi keberadaan tenaga kerja asing (TKA) di berbagai perusahaan dialami petugas Kantor Imigrasi Kelas I Serang. Banyak perusahaan besar yang terkesan menutupi bahkan menyembunyikan TKA.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas I Serang M Reza Alkahfi mengatakan, bersama tim penanganan orang asing (timpora) mendatangi perusahaan satu demi satu, tetapi mereka malah mengulur-ulur waktu. “Ketika saya datangi (perusahaan-red), kami disuruh menunggu hingga berjam-jam. Ini membuat kami marah. Saya bilang, ‘Saya ini dapat tugas dari pemerintah dan ini resmi.’ Ini kan membuat kami semakin curiga,” ujar Reza melalui telepon seluler, Sabtu (7/1).

Kata Reza, TKA paling banyak tersebar di Kabupaten Serang dengan jumlah di atas 1.600 orang. “Di Kabupaten Serang itu banyak perusahaan besar, Mas, makanya banyak TKA. Tapi, relatif seimbang dengan tenaga kerja lokal. Misalkan, ada 1.000 tenaga kerja lokal, TKA-nya cuma 40,” tuturnya. Di Kabupaten Lebak, jumlah TKA ada sekitar 150, Kabupaten Pandeglang 20 TKA, dan Kota Serang hanya 13 orang.

Kata Reza, perusahaan di Lebak kurang seimbang dalam mempekerjakan tenaga kerja lokal dan TKA. “Contohnya, TKA 30 orang, tapi tenaga kerja lokal cuma 70 orang. Itu persentase TKA di atas 20 persen,” ujarnya seraya menambahkan di Kota Serang kebanyakan WNA izin tinggal karena punya keluarga di sini atau investasi.

71 Pekerja Asing Dideportasi

Sementara itu, deportasi warga negara asing (WNA) lantaran pelanggaran dokumen izin tinggal di Kota Cilegon meningkat dari tahun sebelumnya.

Data Kantor Imigrasi Kelas II Cilegon pada 2015 mencatat, ada 45 WNA dideportasi dari Cilegon. Sementara, Januari 2016 hingga kemarin, ada 71 WNA dideportasi. Di luar jumlah itu, ada dua WNA yang dipidanakan karena memalsukan dokumen.

Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Keimigrasian (Wasdakim) Kantor Imigrasi Kelas II Cilegon Hendra Kurniawan mengatakan, banyaknya WNA di Kota Cilegon karena semakin banyak proyek baru di Cilegon yang mempekerjakan pekerja asing. “Mereka yang bekerja sering kali izin tinggalnya tidak sesuai atau dipalsukan,” katanya kepada Radar Banten, Sabtu (7/1).

Kata Hendra, sebagian besar WNA menggunakan izin kunjungan atau wisata, tetapi mereka malah bekerja. “Termasuk ada juga yang mempunyai izin uji coba bekerja, tapi saat kami cek ternyata dia sudah melakukan aktivitas bekerja,” tuturnya.

Hendra menyebutkan, WNA yang izin tinggalnya bermasalah sering kali melompati tahapan permohonan izin tinggal. Hal yang sering kali dilanggar, salah satunya pembuatan izin mempekerjakan tenaga kerja asing (IMTA). “Kalau IMTA sudah dibuat, pasti izin tinggal mereka tidak bermasalah,” ujarnya.

Hendra menyebutkan, pekerja asing yang paling banyak dideportasi berasal dari Tiongkok, Korea, dan Jepang. Kata dia, persentase pekerja asing asal Tiongkok mencapai 80 persen dari jumlah WNA yang dideportasi. “Sisanya WNA dari Korea, Jepang, dan negara-negara lainnya. Kami harap semua pihak ikut terlibat dalam mengawasi WNA,” ungkapnya. (Haris-Alwan/Radar Banten)