Perut Tetap Gemuk Pasca Bersalin? Mungkin Ini yang Anda Alami

0
863 views
Ilustrasi (FOTO: ANGGER BONDAN/JAWA POS/JAWA POS.COM - Model: Cintya)

Banyak para mahmud abas (mamah muda anak baru satu) yang sekarang bikin ngiri. Perutnya balik rata dengan cepat setelah bersalin. Penyanyi Andien dan Kirana Larasati contohnya. Tidak perlu menjadi artis untuk bisa begitu. Sebab, kondisi perut sejatinya diciptakan kembali normal setelah melahirkan.

TUBUH tetap gemuk setelah melahirkan sering dianggap hal biasa. Padahal, tidak semua gemuk itu normal, apalagi di area perut. ’’Kondisi perut melar dan menggelambir yang tidak kembali setelah beberapa bulan melahirkan itu tidak normal,’’ ujar dr Indra Tjahjono SpKFR.

Secara medis, kondisi itu disebut diastasis recti. Spesialis rehab medik RS Husada Utama, Surabaya, tersebut menjelaskan, perut ibu memang terlihat turun setelah hamil. Penyebabnya, rongga tempat janin dikandung kosong. Kulit di area perut yang melar plus lapisan lemak di bawahnya membuatnya jadi menggelambir. Di beberapa bagian tubuh lain yang melar, kadang muncul stretch mark.

Selain mengganggu penampilan, proses melar itu berisiko mengganggu otot di sekitar perut. ’’Jaringan ikat di antara otot rahim dan otot cavum abdomen jadi putus,’’ lanjut Indra.

Dokter Hanny Aditanzil SpOG menjelaskan, kondisi diastasis recti bisa dilihat dengan pengecekan setelah persalinan. Langkah pengecekannya sederhana. ’’Ibu posisi telentang dengan lutut ditekuk, kepala terangkat. Saat itu dokter akan mengecek dan mengukur kontraksi di sekitar daerah pusar,’’ tuturnya.

Jika hasil pengukuran lebih lebar dari tiga jari (sekitar 2,7 cm), sang ibu sangat mungkin mengalami diastasis recti. Spesialis alumnus Universitas Airlangga Surabaya itu juga memaparkan bahwa kondisi tersebut bisa dideteksi dengan bentuk perut ibu yang tidak lazim selama masa hamil.

Sayang, tidak banyak ibu yang awas dengan gangguan tersebut. Umumnya beranggapan bahwa gemuk setelah melahirkan adalah hal normal. ’’Padahal, setelah melahirkan, tubuh ibu dirancang untuk segera menyesuaikan,’’ tegas Hanny.

Spesialis kandungan yang berpraktik di RS Katolik St Vincentius A. Paulo (RKZ) Surabaya tersebut menyatakan, pada tujuh hingga sepuluh hari pertama, bobot ibu umumnya berkurang 5–10 kg. ’’Selama hamil, cairan tubuh kan naik. Nah, setelah hamil, cairan itu dikeluarkan lewat buang air kecil atau besar,’’ tuturnya.

Hal itu ditegaskan Indra. Menurut dia, penurunan bobot tersebut merupakan sistem otomatis. Setelah penurunan drastis pada pekan pertama, bobot ibu akan turun perlahan setelahnya. ’’Biasanya, berat badan turun 0,5 kg per minggu. Soalnya, energi ibu terpakai untuk menyusui dan mengurus si kecil. Nggak perlu diet,’’ paparnya.

Indra dan Hanny menjelaskan, penurunan berat badan tidak perlu disertai diet. ’’Justru asupannya perlu ditambah, soalnya bakal diolah menjadi air susu ibu (ASI). Yang penting, tambahannya tidak berlebihan,’’ tutur Hanny.

Asupan nutrisi yang bagus juga berfungsi mengembalikan kondisi tubuh ibu. Kondisi diastasis recti tidak hanya mengganggu penampilan ibu. ’’Kondisi perut yang turun atau jatuh bisa mengakibatkan nyeri atau sakit punggung sampai hernia,’’ jelas Indra.

Diastasis recti juga bisa mengakibatkan kekuatan otot di area perut yang panggul melemah. Jadi, ibu sering mengalami sulit menahan buang air. Kadang ibu juga mengeluh sulit bernapas karena diafragma (dinding perut) yang memendek. (fam/c15/ayi/tia/JPG)