Pesantren Alquran Shaleh Ma’mun, Sumber Keilmuan Alquran Seluruh Pesantren

0
2.710 views
Pengasuh Pesantren Alquran Shaleh Ma’mun, Tubagus Soleh Mahdi (berpeci merah) saat mengajar santri mengaji.

Selepas wafatnya Tubagus Shaleh, pengelolaan Pondok Pesantren Alquran Shaleh Ma’mun diwariskan kepada anaknya Tubagus Bai Mahdi Shaleh Ma’mun. Melalui tangan dinginnya, pola ajar mengenai keilmuan Alquran di ponpes ini dilakukan secara disiplin dan ketat kepada santri-santrinya.

RIFAT ALHAMIDI – Serang

Sosok Tubagus Bai Mahdi Shaleh Ma’mun dikenal oleh anak-anaknya sebagai figur yang disiplin dalam mengajarkan ilmu Alquran. Tubagus Bai Mahdi bahkan memperlakukan anak-anaknya sama seperti santri lain saat mengikuti pengajian di Pondok Pesantren Alquran Shaleh Ma’mun.

Di mata anak-anaknya, Tubagus Bai Mahdi tidak pernah membedakan siapa pun yang ingin mendalami ilmu Alquran di Ponpes Shaleh Ma’mun. Kedisiplinan ini merupakan tradisi yang diajarkan langsung oleh orangtua Tubagus Bai Mahdi yang merupakan pendiri ponpes mulai dari Syekh Tubagus Ma’mun hingga ke Tubagus Soleh.

Semasa hidupnya, Tubagus Bai Mahdi juga tidak segan untuk menegur siapa pun yang dinilai keliru dalam melafalkan ayat suci Alquran. Bahkan, kepada seorang qari terkenal pun, beliau secara tegas mengingatkan jika bacaannya ada yang keliru.

Pernah dalam sebuah momentum, Tubagus Bai Mahdi menghentikan dan menyuruh qari yang sedang melantunkan ayat suci Alquran di tempat hajatan warga untuk turun. Bagi yang belum mengenal figur Tubagus Bai Mahdi, tentu akan kaget dan syok atas tingkah tersebut. “Jadi, Babah (Tubagus Bai Mahdi) itu enggak ada kata tawar-menawar sama orang yang ia anggap salah saat mengaji. Ketegasan itu yang beliau ajarkan ke anak-anaknya juga, enggak pandang bulu,” kata putra Tubagus Bai Mahdi, Tubagus Soleh Mahdi.

Ketegasan Tubagus Bai Mahdi itu bukan tanpa alasan. Beliau menginginkan agar orang yang mempelajari ilmu Alquran bisa melafalkannya dengan benar. Sebab, salah penyebutan satu kalimat saja, bisa mengakibatkan arti dari ayat Alquran itu menjadi tidak benar.

“Dulu juga pernah di hajatan, qari yang mau naik itu menyetor Alfatihah dulu ke Babah kalau Babah hadir di sana. Soalnya, daripada disuruh turun di tengah-tengah sama Babah, mending menyetor dulu. Nah, kalau kata Babah boleh, ya qari itu naik,” ujarnya.

Dalam mengajarkan di pondok pesantren, Tubagus Bai Mahdi menerapkan pola kedisiplinan tersebut kepada santri-santrinya. Tak jarang, santri di ponpes tersebut memerlukan waktu sedikitnya tiga bulan untuk dinyatakan lulus dalam melafalkan ayat pembuka Alquran, yakni Alfatihah.

Terkait dikenalnya Ponpes Alquran Shaleh Ma’mun sebagai pesantren yang mencetak qari dan qariah terkemuka, sebetulnya tidak ada proses istimewa yang harus dilakukan santri jika menginginkan hasil tersebut. Santri hanya diharuskan belajar secara disiplin agar bacaannya dinyatakan benar.

“Babah mah sebenarnya enggak ngajarin yang khusus buat santrinya. Sama saja. Kita anak-anaknya juga enggak dibedain sama Babah. Kalau salah, ya dihukum sama kayak santri lain,” ungkapnya.

Jika menginginkan jadi seorang qari, ada sebuah tradisi unik yang harus dilalui para santri. Mereka akan disuruh untuk berendam di Sungai Cibanten yang berada di belakang ponpes pada waktu subuh. Setibanya di sungai, santri disuruh teriak sekencang-kencangnya agar pernapasan mereka menjadi panjang.

Untuk melalui tradisi ini, santri harus dinyatakan lulus terlebih dahulu oleh Tubagus Bai Mahdi secara hukum dan bacaan Alquran. Waktunya pun tidak sebentar. Setidaknya butuh waktu sedikitnya delapan tahun jika ingin dinyatakan lulus oleh Tubagus Bai Mahdi. Jika proses ini tidak dilakukan, santri akan terus belajar hingga mereka dinyatakan lulus sepenuhnya.

“Dulu geh pernah ada qari yang sudah bagus suaranya, terus belajar ke sini. Tapi, cuma beberapa bulan doang karena enggak kuat. Saya sendiri waktu itu masih SD yang ngajarinnya,” kata pria yang akrab disapa Entus itu.

Kini, sepeninggal almarhum Tubagus Bai Mahdi, Ponpes Alquran Shaleh Ma’mun sedang menghadapi masa transisi. Entus dipercaya oleh keluarga untuk meneruskan ponpes tersebut. Sebelum meninggal pun Tubagus Bai Mahdi menitipkan pesan kepada Entus agar ponpes tersebut terus dijaga apa pun kondisinya.

Nama Pondok Pesantren Alquran Shaleh Ma’mun sudah dikenal secara luas di seluruh wilayah di Indonesia. Hal itu bukan tanpa alasan. Dulu pernah ada anggota MUI berkunjung ke ponpes tersebut dan mengatakan bahwa sumber keilmuan Alquran di semua pesantren di Indonesia selalu bermuara di Pondok Pesantren Alquran Shaleh Ma’mun. Ponpes ini juga sudah tercatat di Kementerian Agama RI sebagai salah satu pesantren Alquran tertua di Indonesia. “Babah meninggalnya tahun 2008. Beliau kasih pesan ke kami anak-anaknya, jangan sampai ilmu Alquran ini putus. Harus terus diajarkan ke yang lain, apa pun rintangannya,” pungkasnya. (*)