Pesantren Irhamna Bilquran: Pelajaran Umum Satu Jam, Lebih Banyak Menghafal Alquran

0
2.342 views
Santriwati Ponpes Irhamna Bilquran, Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, sedang mengaji kitab, kemarin.

Santri di Pesantren Irhamna Bilquran, Kampung/Desa Pari, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, mendapat dua pelajaran sekaligus. Pelajaran agama dan umum. Santrinya dicetak untuk hafal 30 juz Alquran dalam waktu enam bulan.

ADIB FAHRI – PANDEGLANG

Kamis (11/4) siang, suasana pesantren Irhamna Bilquran yang letaknya tak jauh dari Pasar Pari, Kecamatan Mandalawangi, cukup ramai. Para santri yang mengenakan sarung, baju koko, dan kopiah bergegas masuk ke dalam kelas. Nuansa islami sangat terasa dengan pakaian muslim yang mereka kenakan.

Hujan deras yang turun tak menyurutkan semangat mereka dalam menuntut ilmu agama. Sebuah buku dan alat tulis dipegang dengan erat. Dua alat belajar itu layaknya harta paling berharga yang mereka miliki. Tegur sapa antarteman menghiasi ruang kelas sebelum pelajaran membaca Alquran dan kitab kuning dimulai.

Penghormatan terhadap guru tampak jelas terlihat. Satu demi satu para murid menyalami guru mereka saat di dalam kelas dengan badan sedikit membungkuk. Diciumi tangan sang guru berkali-kali. Ya, kebiasaan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada guru atau orangtua.

Sekolah yang berdiri sejak 12 Februari 2015 itu kini diisi 250 santri dan diajar 24 guru dengan perbandingan seorang guru mengajar 15 sampai 20 santri. Sebetulnya, jumlah anak yang ingin masuk pesantren ini tidak pernah kurang dari 400 orang setiap tahun. Akan tetapi, pesantren membatasi jumlah santri yang diterima agar kualitas pendidikan terjaga.

“Kita menolak dalam arti positif. Kalau terlalu banyak, khawatirnya pembelajaran tidak efektif,” kata pemilik pesantren Irhamna Bilquran, Ahmad Taftazani, di depan rumahnya, kemarin.

Sembari menikmati secangkir kopi dan pisang goreng, bapak dua anak itu dengan senang hati menceritakan metode belajar yang dipakai di pesantrennya.

Kualitas pendidikan dan efektivitas waktu pembelajaran menjadi kunci keberhasilan menyampaikan ilmu kepada santri. Bukan hanya itu, tenaga pengajar juga menjadi kunci.

“Guru yang kita miliki sangat berkompeten dan memiliki keilmuan yang mumpuni,” katanya.

Pria jebolan Pascasarjana Manajemen Universitas Hasyim Ashari itu melanjutkan, aturan dan komitmen menjadi faktor penting dalam menyukseskan pendidikan di pesantrennya. Larangan yang dibuat sangat ketat, termasuk waktu menjenguk santri oleh orangtua. Mereka dilarang bertemu apabila belum sampai waktu besuk atau menjenguk. Apabila ada yang melanggar, dikenakan sanksi.

“Fondasi kita aturan, kita pegang aturan itu, maka kita akan berhasil. Tentunya harus dibarengi doa setiap waktu,” tegasnya.

Pesantren modern itu tidak hanya mengajarkan ilmu agama, juga mata pendidikan umum lain seperti  matematika, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, ilmu eksak, ilmu sosial, dan lainnya. Hanya saja, waktu belajar untuk mata pelajaran umum tidak lama, hanya satu sampai dua jam.

“Waktu belajar kita 12 sampai 15 jam, sedangkan pelajaran umum hanya satu jam. Kenapa? Karena metode yang kita gunakan sangat memungkinkan seorang santri bisa menghafal 30 juz Alquran,” jelasnya.

Keberhasilan yang didapatkan pria 34 tahun itu tidak mudah. Sebelum mendirikan pesantren, Taftazani harus pergi ke luar daerah agar memiliki jaringan dalam mewujudkan cita-citanya. Selama delapan tahun di perantauan, banyak pelajaran dan pengalaman yang didapatkan, di antaranya menjadi pengamen dan tidur di emperan jalan.

Nasib di perantauan berubah 180 derajat ketika ia menjadi imam di salah satu masjid di Jakarta. Masyarakat yang menjadi makmum banyak yang kagum dengan kemampuannya membaca Alquran yang fasih. Profesi sebagai pengamen kemudian dia tinggalkan dan mulai menjadi penceramah dari satu tempat ke tempat lain. Dari kegiatan itu, Taftazani bisa membangun jaringan hingga akhirnya pesantren Irhamna Bilquran bisa terkenal.

Persoalan terberat yang dihadapi saat awal mendirikan pesantren adalah ketika keluarga besar meragukan dan tidak setuju pembangunan pesantren. Namun, hal itu dipatahkan oleh semangat dan kemampuan manajemen yang dimilikinya. “Awalnya banyak masyarakat yang mencibir, keluarga juga awalnya meragukan. Tetapi, alhamdulillah, sekarang semua sudah terjawab. Selama kita yakin dan dibarengi doa, insya Allah apa yang kita harapkan terwujud,” katanya bangga.

Di tengah perbincangan Radar Banten dengan Taftazani, datang seorang wali murid asal Kota Serang bernama Zarkasih. Jebolan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang itu mengakui metode pendidikan di pesantren Irhamna Bilquran baik.

“Anak saya baru delapan bulan sekolah di sini, tetapi kemampuan agamanya sudah sangat bagus. Selain itu, pendidikan umum yang ada juga seimbang isinya. Sekolahnya bagus makanya anak saya dimasukkan sekolah di sini,” akunya. (*)