Pesisir Banten Rawan Gempa

0
1534

Hingga 15 Januari 2021, 44 Gempa Guncang Banten

SERANG – Provinsi Banten merupakan salah satu wilayah yang mempunyai tingkat kegempaan cukup tinggi. Hingga 15 Januari 2021 terjadi 44 gempabumi yang mengguncang Banten. Semetara sepanjang 2020, terjadi 840 gempabumi.

BMKG Stasiun Geofisika Klas I Tangerang mencatat  minggu pertama Januari 2021  terjadi  gempabumi sebanyak 23 kejadian di kedalaman dangkal (kurang dari 60 km). Gempa didominasi oleh kejadian di Barat Lampung, Selatan Banten dan Selatan Jawa Barat dengan kedalaman dangkal.

Berdasarkan kekuatannya, gempabumi kurang dari 3 magnitudo sebanyak 14 kejadian,  kurang dari 5 magnitudo sebanyak 9 kejadian dan tidak ada kejadian gempabumi di atas 5 magnitudo.

Sementara minggu kedua Januari 2021, terjadi gempa sebanyak 21 kejadin. Berdasarkan magnitudonya gempa dengan kekuatan kurang dari 3 magnitudo 10 kejadian, kurang dari 5 magnitudo 11 kejadian dan tidak ada gempa di atas 5 magnitudo.

“Gempa yang dirasakan terjadi pada Selasa (5/1) di Barat Daya Bayah, Lebak yaitu 4,3 magnitudo. Gempa dirasakan di Panggarangan, Lebak; Surade dan Kecamatan Curugkembar Kabupaten Sukabumi, Jabar,” kata Kepala Stasiun Geofisika Klas 1 Tangerang Suwardi, Minggu (17/1).

Kata Suwardi, kegempaan di Banten dibagi menjadi empat zona, yaitu zona A, sumber gempa berasal dari terusan Sesar Semangko dan Ujung Kulon. Zona B, sumber gempabumi dari Sesar Cimandiri yang terbagi menjadi dua, yaitu perpanjangan patahan Cimandiri dan zona patahan Pelabuhan Ratu. Selanjutnya zona C dan D, sumber gempabumi di Selat Sunda.

“Ada dua zona gempabumi yang bisa berdampak ke wilayah Banten yaitu zona Karakatau, patahan-patahan di Selat Sunda yang belum terindetifikasi dengan baik. Serta zona Megathrust, sumber gempabumi di pertemuan lempeng IndoAustralia dan Eurasia yang berpeluang membangkitkan gempabumi sangat kuat yang berpotensi diikuti tsunami,” katanya.

Kata Suwardi, secara spasial sumber gempabumi zona Megathrust terletak di Barat Daya hingga Selatan Banten. “Pada zona tersebut terdapat zona subduksi yang menjadi pemicu terjadinya penglepasan energi di selatan Banten, jika ini terjadi, maka hampir seluruh wilayah di Banten berpotensi merasakan guncangan,” ujarnya.

Pada November 2020, terjadi empat kali lindu di zona Megathrust. Gempabumi di zona ini cukup fluktuatif sepanjang Oktober 2018 hingga November 2020. Rentetannya, di tahun 2009-2010 frekuensi kegempaan meningkat, kemudian menurun di tahun 2011-2016, dan kembali meningkat di 2017-2019.

“Gempabumi kuat di zona Megathrust bisa berpotensi membangkitkan tsunami yang akan melanda  tidak hanya wilayah pesisir Banten namun, juga berpotensi melanda pesisir wilayah Provinsi Lampung dan Jawa Barat,” jelasnya.

WASPADA POTENSI TSUNAMI

Wilayah pesisir Banten memiliki potensi terdampak tsunami yang dibangkitkan dari faktor tektonik (gempabumi kuat di zona subduksi) dan non tektonik (erupsi vulkanik dan longsoran di laut). Saat gempabumi terjadi, masyarakat diimbau segera menunduk, lindungi kepala dan leher bisa dengan bantal helm, maupun kedua telapak tangan, berpegangan pada kolong meja/furniture yang kuat.

“Setelah gempabumi reda segera menuju tempat evakuasi atau titik kumpul  yang jauh dari pepohonan, tiang listrik maupun papan reklame,” kata Suwardi.

Apabila masyarakat yang sedang berada di pesisir wilayah yang rawan tsunami lalu melihat gelombang laut yang tidak biasa (berbuih, menjajar cepat ke arah darat, apalagi disertai suara gemuruh yang keras) atau merasakan guncangan keras atau gempa pelan namun cukup lama maka lakukan evakuasi mandiri sesegera mungkin.

“Hindari menuju pantai untuk memastikan ada tsunami atau tidak. Tunggu di tempat aman hingga ada informasi resmi dari pemerintah atau petugas. Kesiapsiagaan harus selalu menjadi prioritas,” katanya.

Suwardi mengatakan, perlu mitigasi bencana gempabumi dan tsunami seperti pembuatan peta evakuasi, latihan simulasi evakuasi mandiri menjadi sesuatu yang wajib. “Itu karena  merekalah yang berpotensi paling terdampak saat bencana terjadi. Sehingga dengan masyarakat yang terlatih dan terampil menghadapi bencana, niscaya jumlah korban dapat diminimalisasi,” katanya.

Sementara itu pada periode Januari sampai Desember 2020, di wilayah Banten dan sekitarnya telah terjadi gempabumi sebanyak 840 kali.

Dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019 aktivitas kegempaannya meningkat 80 % frekuensi kejadiannya, pada periode tersebut terjadi 467 gempabumi.

Hasil analisa BMKG  Stasiun Geofisika Klas I Tangerang menunjukkan bahwa kekuatan gempabumi yang terjadi bervariasi dari 1,8 magnitudo hingga 6,0 magnitudo.

 Sebaran pusat gempabumi (episenter) umumnya berada di laut, yaitu pada zona pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia di bagian barat Lampung, sekitar Selat Sunda, dan selatan Provinsi Banten hingga Jawa Barat.

GEMPA SULBAR

Pada bagian lain, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat Dwikorita Karnawati mengimbau seluruh masyarakat di Sulawesi Barat, khususnya di Mamuju dan Majene, tidak terpancing informasi sesat terkait gempa susulan berkekuatan magnitudo 8,2 serta isu tsunami.

“Saya mohon masyarakat terutama di Mamuju dan sekiranya, tidak perlu panik dan jangan terpancing isu, apalagi ada mengatakan kekuatan bisa magnitudo 8,2. Ada lagi mengatakan harus keluar dari Mamuju, itu tidak benar,” kata Dwikorita di Mamuju, Minggu (17/1).

BMKG tidak pernah mengeluarkan informasi gempa susulan dengan skala besar dari sebelumnya, bahkan ada informasi potensi akan terjadi tsunami di Majene dan sekitarnya. “Tidak pernah BMKG menyatakan hal seperti itu. Salah sama sekali,” kata dia.

Ia mengatakan, imbauan yang dikeluarkan adalah meminta masyarakat untuk selalu waspada dan menjauhi lokasi yang rawan, seperti bangunan tua, lereng gunung, dan daerah pesisir pantai.

“Kami imbau jauhilah bangunan yang mudah runtuh, cari tempat yang aman, jauh dari runtuhan bangunan, jauh dari lereng yang rawan longsor atau lereng gunung, dan cukup jauh dari pantai,” ucapnya.

Ia mengatakan, yang dikeluarkan BMKG adalah mewaspadai adanya gempa susulan, tapi tidak sebesar 8,2 magnitudo, atau kurang lebih sebesar dari peristiwa kemarin. BMKG juga meminta kepada seluruh masyarakat tidak perlu panik secara berlebihan dan meninggalkan Kota Mamuju, tetap tenang dan waspada sampai keadaan benar-benar normal kembali. (alt)