Masjid Pecinan Tinggi dibangun di sebuah pemukiman etnis Tionghoa pada masa Kesultanan Banten. (net)

SERANG – Sedikit masyarakat Tionghoa pada abad 10 tahun Masehi yang masuk ke Banten beragama Islam. Mayoritas non Islam. Menurut keterangan Sejarahwan Banten, Mufti Ali, setelah memasuki Banten, masyarakat Tionghoa tersebut masuk ke agama Islam.

“Hampir semua yang masuk bukan beragama Islam, setelah masuk Banten, baru memeluk agama Islam. Ada sejumlah faktor, salah satunya pesona atau karisma dari sang Sultan,” kata Mufti Ali kepada Radar Banten Online, Minggu (7/2/2016).

Menurut Mufti, para Sultan di Banten merupakan sosok karismatik. Masyarakat Tionghoa banyak yang kagum terhadap kepribadian Sultan sehingga tertarik juga untuk memperdalam kepercayaan (agama) Sultan.

Kendati saat itu, Sultan menganjurkan kepada para pendatang untuk beragam Islam, tapi tidak ada paksaan terhadap para pendatang tersebut. Sultan membebaskan kepada siapapun untuk beragam asal tidak mengganggu tatanan yang sudah ada di Banten.

“Karena sikap itu, akhirnya banyak masyarakat yang tadinya tidak beragam Islam menjadi Islam. Sejak dulu Sultan sangat toleran, makanya banyak Vihara dan rumah ibadah lain di Banten,” papar Mufti.

Dua tokoh Tionghoa yang sebelumnya bukan beragama Islam menjadi Islam adalah Kaitsu dan Cakra Dana. Dua saudagar ini memeluk Islam setelah dekat dengan sang Sultan. “Kaitsu dekat dengan Sultan sebelum Sultan Ageng Tirtayasa, Cakra Dana mempunyai hubungan dekat dengan Sultan Ageng Tirtayasa,” kata Mufti Ali.

Pendekatan Sultan yang bijaksana yang dibalut dengan pesona dan karismanya membuat masyarakat Tionghoa berbondong – berbondong masuk Islam. “Saya rasa nilai toleransi tersebut perlu terus dijaga oleh masyarakat saat ini, Banten mempunyai catatan sejarah toleransi yang baik, itu sudah dibangun sejak masa kesultanan, dan sekarang harus dipertahankan,” ujar Mufti. (Bayu)