Petani Jagung di Kabupaten Serang Keluhkan Kekurangan Biaya Tanam dan Panen

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah saat melakukan panen raya jagung.

SERANG – Petani jagung kekurangan biaya untuk produksi jagung di lahan tidur. Mereka ingin Pemerintah Kabupaten Serang memberikan bantuan dana untuk meningkatkan jumlah jagung pipil di Kabupaten Serang.

Hal ini dialami para petani di Kecamatan Jawilan. Sebagaimana diketahui, Pemkab tengah gencar-gencarnya mencanangkan swasembada jagung. Sedikitnya sudah 3250 hektare lahan tidur sudah tergarap pada 2017. Tetapi, dalam kenyataannya, petani mengeluhkan kurangnya biaya tanam hingga panen jagung.

Petani, Sopian Sauri mengatakan ada keterbatasan pembiayaan untuk produksi jagung. “Karena tidak merata dengan antar petani. Ada yang sudah mampu, ada yang belum. Harapannya sentuhan pemerintah, ada tidak pembiayaan tunai yang bisa diakses oleh kami sembari memperbaiki kelompok tani kami. Kompak lembaganya, kompak juga petani dan usaha tani. Sehingga ketika bisa dipercayakan untuk meminjam, kami bisa mengembalikannya,” terangnya usai panen raya jagung di Desa Pagintungan, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Selasa (6/3).

Ia bersama kelompok tani lainnya, terus berupaya memaksimalkan komoditi pipil jagung. Dengan luas 200 hektare, pada musim panen kali ini, ia berhasil memanen 110 hektare dengan hasil yang didapat sekitar 7.4 ton per hektare. “Kami akan berusaha mengarah ke 9 ton per hektar sampai 12 ton per hektare,” tuturnya.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan terkait kebutuhan dana untuk para petani, ia beserta jajaran Pemkab telah membuat suatu kebijakan untuk membantu para pelaku usaha termasuk petani. Salah satunya kredit murah yang disimpan di BPR Serang tanpa bunga.

Pinjaman dana tersebut, merupakan dana milik Pemkab. Kata dia, BPR Serang hanya boleh mengenakan biaya operasional maksimal 4 persen. “Kalau bisa 3 persen nanti untuk UMKM,” tandasnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com).