PHRI Minta Keringanan Pajak

Syarif Ridwan

Berharap Cilegon Tidak Lockdown

CILEGON – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cilegon meminta keringanan pajak untuk para pengusaha hotel dan restoran di Kota Cilegon. Keringanan itu diminta karena selama masa pandemi virus corona atau Covid-19 tingkat kunjungan hotel dan restoran di Kota Cilegon alami penurunan yang cukup signifikan.

Ketua PHRI Kota Cilegon, Syarif Ridwan menuturkan, sejak masuknya kasus Covid-19 di Provinsi Banten, secara bertahap tingkat kunjungan tamu ke hotel dan restoran di Kota Cilegon alami penurunan. Menurutnya, sejauh ini untuk hotel, okupansi alami penurunan hingga lima persen, sementara restoran alami penurunan melebihi okupansi hotel.

“Penurunan signifikan terjadi sekira dua pekan terakhir,” ujar Syarif, Rabu (1/4).

Kondisi tersebut sangat dikeluhkan oleh manajemen hotel dan restoran, karena secara otomatis, dengan menurunnya tingkat kunjungan maka terjadi penurunan pendapatan. Di sisi lain, pengeluaran yang harus dikeluarkan oleh manajemen tidak berbeda.

Bahkan, sejumlah hotel dan restoran terpaksa harus mengurangi karyawan atau pegawai agar keuangan perusahaan tetap stabil. “Jadi ada yang digilir kerjanya sampai keadaan kembali normal,” tutur Syarif.

Selain mengurangi pegawai, sejumlah restoran pun dikabarkan tutup untuk sementara waktu, hal itu seiring dengan adanya sejumlah kebijakan baik yang diambil pemerintah maupun oleh pihak lain seperti manajemen mal.

Diketahui, saat ini, Cilegon Center Mal (CCM) untuk sementara waktu menghentikan operasional. Hal itu secara otomatis berdampak kepada pengusaha restoran yang membuka tenan di mal yang berlokasi di Kecamatan Jombang tersebut. Atas dasar pertimbangan dan kondisi tersebutlah, PHRI meminta kepada pemerintah untuk memberikan keringanan pajak terhadap para pengusaha hotel dan restoran di Kota Cilegon.

Selain berharap ada keringanan pajak, PHRI Kota Cilegon pun berharap Pemkot Cilegon tidak melakukan karantina wilayah atau lockdown karena akan berdampak sangat besar terhadap jalannya bisnis hotel dan restoran.

Meski alami penurunan secara drastis, namun sejauh ini masih ada beberapa tamu yang datang, dan jika pemerintah menerapkan lockdown maka hotel dan restoran akan sepenuhnya kehilangan tamu. “Saat ini pengunjung hotel di Cilegon masih ada. Seperti pekerja-pekerja dari luar daerah. Jika lockdown, industri tidak beroperasi, kami sangat terpukul,” ujarnya.

Sementara itu, soal keringanan pajak, Walikota Cilegon Edi Ariadi pihaknya akan mempertimbangkan harapan dari asosiasi pengusaha hotel dan restoran tersebut. Menurutnya, Pemkot Cilegon bisa saja memberikan keringanan, tapi perlu ada perhitungan secara teknis keringanan tersebut. “Belum kita hitung ya. Berapa keringanan pajak hotel dan restoran,” ujarnya.

Soal karantina wilayah, sebelumnya, Edi pun mengaku belum terpikirkan untuk melakukan hal itu. Ia pun menilai kebijakan karantina wilayah akan berdampak kepada berbagai sektor di Kota Cilegon. “Kita belum berbicara soal itu (lockdown), sejauh ini di Kota Cilegon belum ada yang positif Covid-19, dan kita masih berusaha agar itu tidak terjadi di Cilegon,” ujarnya. (bam/air/ags)