Pilgub Banten: Program Cagub Harus Berbasis Data

0
1.802 views
Banlih Pilgub

KEBERANIAN calon gubernur dan wakil gubernur menggunakan data saat menyampaikan rencana program menjadi senjata ampuh dalam menarik simpati pemilih pemula dan kelas menengah dalam menentukan pilihan. Terlebih, jika penggunaan data dibarengi dengan tawaran solusi persoalan secara tematik dan fokus.

Akademisi Untirta Agus Sjafari menilai bahwa setiap kesempatan para kandidat menyampaikan rencana program kerja menjadi pengayaan bagi masyarakat dalam menentukan pilihannya. Terlebih, pada saat tatap muka atau debat publik yang disampaikan secara live melalui statiun televisi. “Ini jadi pengayaan masyarakat menentukan pilihan, meski pengaruhnya tidak begitu signifikan karena masyarakat pada dasarnya sudah memiliki pilihan masing-masing,” katanya kepada Radar Banten, kemarin.

Namun, para pemilih pemula atau swing voter dapat menentukan pilihan karena melihat proses komunikasi yang dilakukan kandidat selama kampanye. Oleh karenanya, para kandidat dalam paparan visi misi harus tematik dan fokus kepada penyelesaian masalah. “Jangan terlalu luas sehingga jawabannya tidak fokus dan spesifik,” kata Dekan FISIP Untirta ini.

Para kandiat juga harus berani menampilkan data yang valid dalam melihat persoalan. “Misalnya, masalah reformasi birokrasi, mengentaskan kesenjangan utara selatan, problematika kemiskinan dan beberapa masalah krusial lainnya. Para kandidat diharapkan memiliki strategi yang jitu dan terukur berdasarkan data yang otentik,” kata  Agus.

Seperti diketahui, pada Selasa (27/12) lalu, KPU Banten melaksanakan debat kandidat sesi I yang ditayangkan secara langsung di salah satu televisi nasional. Rencanannya, debat kandidat akan dilakukan di sesi-sesi berikutnya.

Menurut Agus, debat kandidat menjadi salah satu pendidikan politik bagi masyarakat. Sayangnya, pada debat sesi I, debat masih berjalan normatif dan belum fokus pada solusi yang ditawarkan. “Saya berharap pada sesi debat kedua dan ketiga nanti para kandidat fokus karena performa masing-masing kandidat dalam debat menjadi pengayaan materi sekaligus penilaian bagi calon pemilih menentukan pilihannya,” ujar Agus.

Senada dikatakan pengamat politik Leo Agustino. Ia mengatakan, debat edisi perdana beberapa waktu lalu tentang peningkatan kesejahteraan, pelayanan publik serta pemberdayaan perempuan masih kurang tajam dari apa yang diharapkan.

Kendati kurang tajam, debat edisi perdana menurut Leo tetap bisa menjadi sarana komunikasi politik antar pasangan calon dengan warga yang mungkin belum dikunjungi selama kampanye. Selain itu, debat kandidat itu juga bisa dimanfaatkan oleh pemilih untuk lebih memahami visi, misi, dan program yang ditawarkan kandidat.

“Saya berharap pemilih bisa menilai karakter calon pemimpin mereka. Sebab, cara berbicara, menjawab, dan menanggapi pertanyaan dapat menjadi bahan penilaian bagi pemilih,” ujarnya. (Supriyono/Radar Banten)