Pilgub Banten: Debat Publik Kedua Dinilai Lebih Tajam

0
452 views
Dari kiri - Wahidin Halim, Andika Hazrumy, Rano Karno, dan Embay Mulya Syarief bergandengan tangan usai debat kedua meskipun sempat terjadi saling serang pertanyaan saat acara.

SERANG – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Banten telah melaksanakan debat kandidat Pemilihan Gubernur (Pilgub) Banten putaran II pada Minggu (29/1) sore. Sejumlah pengamat politik pun menilai debat kedua lebih tajam dan dinamis.

Pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Adit Perdana mengatakan, debat publik putaran II lebih tajam dibanding debat pertama yang digelar akhir Desember 2016 lalu. Pada debat kedua, kedua pasangan calon (paslon) sudah lebih berani untuk saling serang dan berbeda pendapat. Debat kedua lusa kemarin menunjukkan adanya isu-isu yang spesifik dan lebih fokus seperti tata kelola pemerintahan, demokrasi, partisipasi, hukum, dan isu narkoba. “Perbedaan pandangan itu sangat penting, agar pemilih lebih jelas memilih karakter pasangan mana yang mau dituju,” kata Adit melalui sambungan telepon kepada Radar Banten, Senin (30/1).

Secara umum, lanjut Adit, bagian paling menarik pada debat putaran II ‎saat para kandidat berdebat tentang isu komunis dan isu korupsi. Adapun soal program kedua paslon, dirinya menganggap program petahana sedikit unggul karena lebih konkret dan lebih logis dibanding pasangan lawan. “‎Saya melihat bahwa keunggulan petahana memiliki program yang lebih terarah. Itu jelas, tapi memang di mana-mana juga begitu. Petahana selalu lebih unggul soal program,” ungkapnya.

Menurut Adit, pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy selaku penantang petahana terlihat sudah berupaya memunculkan strategi yang jelas dan fokus. Sebab, masyarakat dewasa ini lebih menyukai program konkret bukan lagi janji semata. “Artinya masyarakat selaku pemilih lebih menyukai program yang sederhana, bisa diimplementasikan dan tidak utopis. Kandidat yang memiliki program dan kerja yang paling realistis dan logis itulah yang akan dipilih oleh publik di bilik suara,” jelasnya.

Kendati menilai petahana lebih unggul, tetapi Adit mengingatkan jangan sampai menggunakan program yang sudah dijalankan atau dilaksanakan oleh petahana yang dipresentasikan kembali dan hanya dimodifikasi sedikit. “‎Debat kedua pasti punya dampak ke pemilih. Saya sangat yakin itu, karena pasangan calon telah menyinggung isu-isu yang sensitif,” ungkapnya.

Terpisah, pengamat politik Untirta Leo Agustino sependapat bahwa debat kedua lebih tajam sesuai yang diharapkan masyarakat. “Dalam konteks ini, saya berharap pemilih bisa menilai karakter calon-calon pemimpin mereka. Sebab, cara berbicara, menjawab, dan menanggapi pertanyaan dapat menjadi bahan penilaian bagi pemilih atas calon-calon pemimpin mereka. Apakah emosional, simpatik, atau lainnya,” ungkapnya.

Leo berharap, debat berikutnya jauh lebih menarik‎ dan lebih tajam lagi, karena setiap pasangan calon pasti dievaluasi oleh timnya masing-masing. “Debat selanjutnya semoga antarkandidat beradu program yang ditawarkan, biar masyarakat menilai program mana yang terbaik,” ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua KPU Banten Agus Supriyatna mengatakan, pilkada merupakan pesta demokrasi, rakyat berdaulat penuh untuk memilih kepala daerah dan wakil kepala daerahnya. Kedaulatan rakyat ini jangan dinodai oleh praktek-praktek curang dan melanggar aturan. “Silahkan pilih calon pemimpin sesuai hati nurani masing-masing. KPU memfasilitasi para kandidat melalui debat publik selama tiga kali untuk mengenalkan program dan visi-misi para kandidat,” kata Agus. (Deni S/Radar Banten)