Kalau dilihat dari penampilan, Wiwi (52) nama samaran memang terlihat sederhana dan terkesan cuek. Tapi, ketika ditemui di rumahnya di salah satu kampung di Kota Serang, tempat tinggal beserta kendaraan pribadinya berbanding terbalik dengan gaya berpakaian wanita ramah itu. Maklumlah, ia memang sebenarnya berasal dari keluarga berada. Puas merasakan hidup bergelimang harta, Wiwi bercerita, dulu saat muda ia menginginkan tipe lelaki setia.

    “Cowok ganteng dan kaya saat zaman saya itu banyak, Kang. Tapi kesetiaan dan kebahagiaannya enggak bisa dijamin. Makanya waktu itu sama orangtua juga dinasihati cari suami harus hati-hati,” kata Wiwi kepada Radar Banten.

    Wiwi bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga berada, tidak membuat dirinya sombong dan angkuh. Selalu memberi senyum sapa nan hangat kepada teman atau tetangga, itulah pribadi Wiwi yang memesona. Dengan status sang ayah sebagai tokoh masyarakat, ditambah sosok Wiwi yang manis dan menarik, membuat orang-orang menaruh hormat padanya. Tidak sembarang melayangkan rayuan gombal, para lelaki di kampung mengagumi secara diam-diam.

    Sampai usia beranjak dewasa, kedua orangtua menginginkan Wiwi segera menikah. Karena pribadinya yang pendiam dan jarang bergaul bersama teman-teman, ia saat itu belum memiliki pasangan alias jomblo. Apalah daya, tak ada yang bisa dilakukan Wiwi selain terus berdoa sambil memperbaiki diri.

    Hingga suatu hari, datanglah dua lelaki mengaku ingin meminang Wiwi. Untuk hal ini, ia tak ingin menyebutkan nama. Wiwi hanya mengizinkan ditulis ceritanya saja. Oke deh. Jadi begini, dua lelaki itu datang bagai malaikat penyelamat di saat Wiwi galau menanti datangnya jodoh.

    Lelaki pertama datang membawa kedua orangtua dan menyampaikan tujuan ingin meminang. Namun, katanya, pihak keluarga sang lelaki menginginkan anaknya menunda pernikahan lantaran sang anak harus menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu. Hal ini yang membuat Wiwi berpikir dua kali.

    Sedangkan lelaki kedua datang bersama wali yang merupakan kakak tertua. Ia adalah pengusaha dari Kalimantan. Tentu saja, mereka datang untuk tujuan sama, yakni melamar Wiwi menjadi istri. Tapi, ada syarat yang harus dilakukan. Jika bersedia, Wiwi harus mau diajak tinggal di kediaman sang lelaki. Sedangkan ia menginginkan hidup di rumah bersama ibu dan ayah.

    Bagai menggantung kepastian, Wiwi meminta waktu menentukan pilihan. Datangnya dua lelaki yang hendak menikahi bukannya bahagia, ini malah semakin membuat galau tingkat dewa. Wiwi pun berulang kali curhat pada orangtua dan saudara, hasilnya, mereka menginginkan Wiwi menikah dengan lelaki kedua yang berprofesi sebagai pengusaha.

    Namun apalah daya, di tengah kebimbangan menentukan pilihan, datanglah lelaki ketiga, sebut saja namanya Wowo (63), yang saat itu datang memberi harapan. Dikenalkan lewat peran seorang teman, Wowo memberi kesan positif saat pertama kali berjumpa. Bertegur sapa di acara nikahan salah satu teman sepermainan. Lantaran kagum dengan sosoknya yang sederhana dan hangat, Wiwi tersipu malu ketika Wowo dengan gagah berani meminta kontak dan alamat rumah. Wih, luar biasa banget nih Kang Wowo.

    Seperti diceritakan Wiwi, Wowo memang terkenal ramah dan humoris. Memiliki banyak teman mulai dari yang seusia sampai jauh di atasnya, Wowo kerap menjadi pusat perhatian ketika berkumpul bersama masyarakat kampung.

    Terlahir dari keluarga sederhana, ayah buruh tani dan ibu tak bekerja, Wowo memiliki masa muda berwarna. Ya, meski dari segi ekonomi biasa saja, tapi anehnya, kalau untuk urusan cinta, ia dikelilingi banyak wanita. Tak heran, saat baru pertama kali bertemu pun, ia langsung berani to the point pada Wiwi.   

    “Hahaha, saya juga waktu itu enggak sadar, kayak di sinetron ya, Kang. Ya sebenarnya sih saya enggak nyangka dia bisa seberani itu, tapi saya enggak peduli, lagian juga saya suka tipe cowok kayak dia,” terang Wiwi.

    Singkat cerita, tiga bulan menjalani masa pendekatan, lantaran sang ayah sudah mengeluarkan lampu hijau. Maka seolah tak menunggu waktu lama, mereka sepakat menuju pelaminan. Pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Wiwi dan Wowo resmi menjadi sepasang suami istri. Lah, terus yang dua lelaki sebelumnya itu gimana Teh?

    “Ya saya bilang baik-baik kalau sudah ada yang cocok. Meski yang pengusaha itu sempat marah dan bikin saya emosi, tapi waktu itu saya enggak peduli” terang Wiwi.

    Di awal pernikahan, mungkin kecewa dengan keputusan Wiwi memilih Wowo sebagai suami, kedua orangtua dan saudara memberi sikap berbeda kepada rumah tangga mereka. Tak pernah memberi perhatian bahkan terkesan menjauhi, hubungan Wiwi dan keluarganya tak harmonis lagi

    Dua tahun berjalan usia pernikahan, Wiwi melahirkan anak pertama, membuat Wowo dan Wiwi bahagia. Hingga sang anak beranjak balita, Wowo memutuskan pindah ke rumah kontrakan sederhana. Tiga tahun berlalu, Wowo dan Wiwi hidup dengan anak yang mulai tumbuh balita, mereka pasangan suami istri yang tidak diperhatikan orangtua.

    Seiring berjalannya waktu, Wowo dan Wiwi terus bersabar menjalani hari. Meski mereka hidup sederhana dengan mengandalkan penghasilan suami sebagai buruh tani. Rasa kepercayaan atas cinta yang sudah terbangun membuat rumah tangga kuat.

    Dan suatu hari, terdengarlah kabar tak sedap dari lelaki pengusaha asal Kalimantan yang dahulu hendak menikahi Wiwi. Katanya, rumah tangga sang lelaki berantakan karena ia menikah lagi di saat masih berstatus sah dengan istri pertama. Astaga, masa sih Teh?

    “Saya juga awalnya enggak percaya, Kang. Tapi kabar itu saya dapat dari teman saya yang kebetulan dulu sempat kerja di pabrik kayu milik lelaki yang mau ngelamar saya itu,” ungkap Wiwi. Wah, ngeri juga ya!

    “Iya, katanya juga ya, dia tuh sering ganti-ganti dan bawa cewek ke pabrik. Duh, untung dulu saya enggak milih dia, amit-amit deh,” tukas Wiwi.

    Sejak tersebarnya berita itu, kedua orangtua dan saudara Wiwi perlahan mengubah sikap mereka selama ini. Ayah yang tadinya cuek dan tak peduli kepada Wowo, tiba-tiba sering menanyakan kabar dan mengundang makan bersama. Hal serupa dilakukan sang ibu yang jadi lebih terlihat jelas memberikan kasih sayang.

    Dengan bertahannya hubungan rumah tangga yang sederhana tiga tahun lamanya, membuat orangtua dan saudara Wiwi yakin kalau Wowo adalah lelaki tepat pilihan sang buah hati. Luar biasanya, tak lama setelah membaiknya hubungan mereka, sang ayah memberi modal kepada Wowo untuk membeli sawah. Widih, enak amat tuh Kang Wowo!

    “Ya, alhamdulillah, Kang. Ini juga hasil panennya kita bagi rata kok sama orangtua. Sejak saat itu sampai sekarang, ya kita bisa hidup berkecukupan,” curhat Wiwi.

    Subhanallah. Semoga Teh Wiwi dan Kang Wowo bahagia selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)