Pilkada Serentak: Poros Tengah Masih Terbuka

SERANG – Minimnya kaderisasi di mayoritas parpol di Banten membuat persaingan di pilkada kurang menarik. Kendati begitu, sejumlah akademisi menilai pilkada di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, dan Kota Tangsel masih berpeluang untuk menghadirkan tiga pasangan calon (paslon).

Pengamat politik Unsera Ahmad Sururi menilai, peluang adanya poros tengah masih terbuka di empat pilkada di Banten. Terutama di Pilkada Kota Cilegon dan Tangsel yang tidak ada calon petahana. “Poros tengah masih berpeluang bila partai besar tidak memborong koalisi. Aksi borong partai biasanya terjadi apabila ada calon petahana. Jadi Kota Cilegon dan Kota Tangsel berpeluang adanya poros tengah atau tampilnya tiga paslon,” kata Sururi kepada Radar Banten, Minggu (23/2).

Ia mengungkapkan, di Pilkada Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang juga masih terbuka, hanya saja poros tengah paling mungkin datangnya dari pasangan calon independen. “Di Pandeglang sudah banyak calon independen yang muncul, sementara di Kabupaten Serang yang berpeluang membuka poros tengah adalah Demokrat dan NasDem,” katanya,

Saat ini di pilkada Kabupaten Serang sudah ada poros perubahan yang digagas PAN, PKS, Berkarya, dan Hanura. Belakangan, Gerindra ikut bergabung dalam koalisi itu. Sementara poros petahana diusung oleh Golkar dan PDIP.

Kondisi head to head, lanjut Sururi, hanya terjadi ketika politik top down diterapkan yaitu pendekatan elite pusat ke daerah untuk melakukan intervensi. “Kenapa elite pusat intervensi? Karena elite tetap ingin mempertahankan zona nyaman dan tidak mau mengambil risiko parpol di daerah gagal meraih suara,” urainya.

Faktor berikutnya terjadi head to head dan menutup ruang bagi poros tengah adalah minimnya kader partai di daerah yang punya bargaining aktor politic position, akhirnya faktor itu mendorong partai yang sudah kuat di elite dan punya kesamaaan ideologi untuk berkoalisi. “Bila poros tengah tidak ada di pilkada empat daerah di Banten, berarti dua faktor itu yang terjadi,” ungkapnya.

Agar politik di daerah menjadi menarik, Sururi mengaku perlu ada poros tengah. “Parpol di daerah harus didorong dan terus diberikan trust (kepercayaan-red) agar dinamika politik di daerah semakin menarik, dan publik punya banyak alternatif memilih calon pemimpin,” tuturnya.

Terkait rencana Gerindra di Pilkada Kabupaten Serang yang akan merapat ke koalisi perubahan, menurut Sururi bila itu benar terjadi maka peluang poros tengah di Kabupaten Serang semakin kecil. Namun di tiga daerah lainnya, Gerindra tampaknya masih mencari momentum.

“Sebagai parpol pemenang, Gerindra tentu berpeluang membuat koalisi poros tengah. Tinggal komunikasi politik yang dibangun ke luar dan konsolidasi politik ke dalam yang harus menjadi fokus perhatian. Jika pakai teori SWOT, maka mengukur kekuatan dan opportunity-nya harus tepat,” tegasnya.

Dihubungi terpisah,  pengamat politik Untirta Leo Agustino mengungkapkan, peluang poros sering menguntungkan calon petahana. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya benar. “Contohnya Pilkada Kota Serang 2018 lalu, di mana ada tiga paslon yang berkompetisi namun koalisi petahana yang mengusung Ibu Vera (isteri walikota petahana) berhasil dikalahkan. Jika model ini direplikasi, maka bukan tidak mungkin adanya tiga paslon bisa mengalahkan koalisi calon petahana,” ungkapnya.

Poros tengah, lanjut Leo, mesti menjaring sosok yang memang diinginkan masyarakat. Sebab popularitas calon petahana di daerah manapun pasti yang tertinggi dibandingkan calon penantang. “Masih ada cukup waktu untuk menentukan koalisi. Harapan publik tentu semakin banyak pilihan semakin baik untuk kemajuan daerah,” paparnya. (den/alt/ags)