Pilkada Tangsel, Milenial Jadi Lumbung Suara

TANGERANG – Generasi milenial punya posisi sangat strategis dalam kontestasi Pilkada Tangsel, tahun depan. Mereka merupakan lumbung suara yang jadi penentu kemenangan. Menurut catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tangsel tercatat 60 persen jumlah pemilih di Tangsel adalah generasi milenial. Demikian terungkap dalam diskusi bertajuk ‘Tangsel Millennials Need Future Leaders’ yang digelar di Resto Kampung Anggrek, Senin (28/10).

Kegiatan itu menghadirkan tiga narasumber yang juga bakal calon walikota Tangsel yang berasal dari generasi milenial. Mereka adalah Fahd Pahdepie (33), Suhendar (37), dan Aldrin Ramadian (41).

Kegiatan ini digagas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).

Ketiganya diuji gagasannya oleh lima panelis di antaranya, Djaka Badranaya selaku akademisi, Athari Fahrhani ketua Permahi, Chavcay Sarfullah budayawan, Jumaedi Achmad Ketua SMSI Tangsel dan perwakilan HIPMI Tangsel Asep Solahudin.

Dalam sambutannya, Asda III Teddy Meiyadi yang mewakili unsur pemerintah, menyambut baik niatan anak-anak muda menjadi pemimpin Tangsel. “Tahun 1928, para pemuda punya tampil mengindentifikasi persoalan bangsa ini menjadi tiga, yakni tanah air, bangsa, dan bahasa satu yang sekarang dikenal dengan nama sumpah pemuda,” kata Teddy.

Fahd Pahdepie mengatakan keberadaan milenial tak bisa dipandang remeh. Generasi milenial bisa menjadi penopang pertumbuhan Kota Tangsel. “Kota Tangsel ini, pertumbuhan ekonominya tertinggi 7,2 persen. Tapi, kalau dibedah lagi ternyata masyarakat miskin penghasilannya satu hari hanya Rp28 ribu. Kalau di Tangsel, uang segitu hanya cukup untuk sekali makan,” katanya.

Untuk itu, sambungnya, perlu adanya dorongan dan kebijakan menciptakan kaum milenial menjadi kelas menengah yang kuat. “Pembinaan kaum milenial harus dilakukan supaya impian Tangsel menjadi kota yang sejahtera tak hanya sekadar mimpi,” tandasnya.

Sementara, Suhendar mengatakan kaum milenial di Tangsel seolah-olah tak ada harapan. Ajang konstestasi politik ini, membangunkannya untuk berjuang. “Saya mencalonkan untuk mendobrak pembangunan sumber daya manusia (SDM) kaum muda meskipun kita sudah menjadi kota layak pemuda,” jelasnya.

“Tapi, pembangunan untuk kaum muda tak tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Jika saya jadi pemimpinnya akan memasukkan kebijakan untuk pemberdayaan anak muda,” tukasnya.

Aldrin Ramadian menyatakan kaum milenial harus diberikan ruang. “Kita ingin pemuda bisa membangun daerahnya dan berkolaborasi. Supaya anak muda bisa tumbuh menjadi penggerak perekonomian,” singkatnya. (you/asp)