Pipa Gas Bocor, PLTGU Cilegon Rugi Miliaran Rupiah

Personel Ditpolair Polda Banten memeriksa lokasi pipa gas milik CNOOC yang bocor di perairan Bojonegara, Kabupaten Serang, Senin (9/7). FOTO: DITPOLAIR FOR RADAR BANTEN

PULOAMPEL – Kebocoran pipa gas milik CNOOC di perairan Bojonegara, Kabupaten Serang, Senin (9/7), membuat Unit Jasa Pembangkitan (UJP) Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Cilegon rugi besar. Unit usaha PT Indonesia Power itu merugi Rp8,4 miliar per hari.

Kerugian terjadi karena PLTGU Cilegon tidak mendapatkan pasokan gas dari China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) International Ltd yang pipa gasnya bocor. Dengan berhentinya pasokan gas itu, dua turbin PLTGU Cilegon sebagai alat yang memproduksi listrik tidak berfungsi.

CNOOC menghentikan aliran gas ke UJP PLTGU Cilegon dengan cara menutup sumber gas yang berada di Pulau Pabelokan di perairan Sumatera. Penutupan dilakukan untuk menghindari ancaman bahaya akibat semburan gas selama penyelidikan penyebab kebocoran pipa gas dan perbaikan pipa berlangsung.

Menurut General Manager (GM) UJP PLTGU Cilegon Edi Syahputra Lubis, untuk memproduksi listrik, UJP PLTGU Cilegon memiliki dua turbin gas dan satu turbin uap. Akibat pasokan gas itu dihentikan, salah satu turbin gas dan turbin uap tidak berfungsi dan tidak menghasilkan listrik.

“Yang mati nomor dua dengan kapasitas 240 megawatt. Dengan berhentinya suplai gas CNOOC ini daya kita yang hilang 350 megawatt, 240 dari gas turbin 110 dari turbin uap,” ujar Edi kepada Radar Banten di ruang rapat UJP PLTGU Cilegon di Desa Margasari, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, Selasa (10/7).

Turbin uap tidak beroperasi karena bergantung pada gas buangan dari gas turbin. Untuk mengoptimalkan gas yang dipasok oleh CNOOC, UJP PLTGU memanfaatkan buangan gas dari gas turbin untuk mengoperasikan turbin uap. “Kerugian itu jika dirupiahkan Rp350 juta per hari kali saja 24 jam, berapa itu?” ujar Edi.

Selain kerugian, menurut Edi, insiden bocornya pipa gas tidak memengaruhi pasokan listrik konsumen. Menurutnya, satu turbin uap yang berfungsi dengan menggunakan gas yang bersumber dari Perusahaan Gas Negara (PGN) masih cukup untuk konsumen.

Listrik yang diproduksi oleh UJP PLTGU Cilegon didistribusikan oleh PT PLN untuk wilayah Banten. Matinya dua turbin tidak memengaruhi distribusi listrik karena PLTGU Cilegon ditopang oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Labuan dan Interbus Transformator (IBT).

Lebih lanjut, Edi menjelaskan, sistem kelistrikan Jawa-Bali sudah terkoneksi. Jika dalam keadaan terpaksa kekurangan pasokan listrik, akan diambil dari jalur tersebut. Selama seluruh sumber pembangkit listrik (PLTGU, PLTU, dan IBT) tidak terjadi gangguan, berarti tidak ada masalah.

“Kalau di PLN ini, semua jadwal pemeliharaan sudah direncanakan jadi dikondisikan supaya tidak terjadi penumpukan sehingga antreannya rapi dan sumber kita ini tidak berbarengan stopnya. Di sistem kelistrikan nasional ada namanya cadangan operasi, jadi sudah disiapkan untuk kondisi darurat seperti sekarang, jadi insya Allah tidak akan ada pemadaman listrik,” ujar Edi.

Disinggung terkait penyebab bocornya pipa sepanjang 66 kilometer dengan diameter 20 inci milik CNOOC, Edi mengaku, belum bisa menjelaskan karena belum ada tindakan lanjut untuk mencari tahu penyebab dari bocornya pipa tersebut.

PT CNOOC, menurut Edi, sudah menyiapkan tim penyelam untuk mencari tahu ukuran lubang pipa gas yang bocor dan juga penyebabnya. Namun, tim itu belum bisa bergerak sebelum ada izin dari otoritas yang berwenang. “Rencananya tadi malam (Senin, 9/7) tim dari CNOOC sudah ada, tapi karena harus ada izin dulu kan,” ujarnya.

Teknis perbaikan terkait kebocoran pipa gas itu menjadi kewenangan SKK Migas. Edi berharap agar perbaikan bisa segera selesai.

Edi mengaku, sudah diperiksa oleh Ditpolair Polda Banten bersama PT CNOOC dan salah satu nakhoda kapal yang berada paling dekat dengan lokasi kebocoran pipa gas, Senin (9/7) malam.

Ditpolair Polda Banten Kombes Pol Nunung Syaifudin saat dikonfirmasi mengatakan, pemeriksaan berlangsung di Ditpolair. Adapun nakhoda kapal yang diperiksa, nakhoda kapal MV Lumoso Raya. “Hasil pemeriksaan tidak bisa kita ungkapkan,” ujarnya.

Menurut Nunung, pemeriksaan itu dilakukan dalam rangka investigasi. Sampai kemarin Ditpolair masih melakukan pendalaman, baik secara verbal dari keterangan pihak terkait maupun secara tindakan dengan terjun ke lokasi. (Bayu M/RBG)