PKL Nekat Mau Jualan Lagi di Stadion Maulana Yusuf

0
616 views

SERANG – Pertemuan pedagang kakil lima (PKL) dengan Pemkot Serang, di aula Sekretariat Daerah (Setda) Kota Serang, Rabu (27/2), tidak menemukan titik temu. Kedua belah pihak sama-sama ngotot dengan keputusannya.

PKL tetap ingin berjualan di kawasan Stadion Maualana Yusuf, Ciceri. Sedangkan Pemkot, tetap dengan keputusannya untuk memindahkan PKL ke eks Terminal Kepandean.

Pemkot berdalih penataan PKL sebagai upaya menata ketertiban dan keindahan. Terlebih, Stadion peruntukannya sebagai kawasan olahraga dan ruang publik. Karenannya, meski belum seratus persen lokasi relokasi siap, PKL harus tetap pindah dari stadion Maulana Yusuf.

Sedangkan PKL menginginkan bisa berdagang pada Sabtu dan Minggu. Mereka akan menuruti kebijakan Pemkot Serang pindah eks Terminal Kepandean sudah seratus persen ditata.

Pertemuan hari ini tindak lanjut pertemuan Rabu (20/2) lalu, saat PKL berdemo dan diterima berdialog dengan Walikota Serang Syafrudin dan Wakil Walikota Subadri Ushuludin. Pertemuan hari inj dipimpin Asisten Daerah (Asda) II Pemkot Serang Mochammad Poppy Nopriandi. Ikut mendampingi Kepala Disdagperinkop dan UMKM Ahmad Benbela dan Kepala DPU PR Muhammad Ridwan.

Awalnya pertemuan berjalan biasa. Masing-masing pihak menyampaikan pendapatnya. Termasuk perwakilan dari Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Kota Serang, Forum Peduli Kota Serang, dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Tensi pertemuan menjadi tegang saat PKL merasa tidak diakomodir aspirasinya. Lima perwakilan mereka yang didampingi mahasiswa, akhirnya memilih walkout (pergi) meninggalkan pertemuan.

Sambil meninggalkan ruang rapat mereka menyatakan akan tetap berdagang pada Sabtu-Minggu. “Kita mengikuti program pemerintah, tapi ada enggak pemerintah ikuti kita? Kita butuh makan. Kepandean coba-coba, perut Anda bisa dicoba-coba enggak? Ini keadilan,” cetus Koordinator PKL kawasan Stadion Maualana Yusuf Iman Setiabudi.

“Saya akan berjualan. Walau pun saya harus dipukul, digotong (petugas Satpol PP). Saya akan tetap berjualan. Kami butuh makan,” timpal Hamdanah, pedagang pakaian yang menangis di samping Budi.

Budi mengaku siap dipindahkan dengan catatan Pemkot sudah selesai melakukan penataan. Bukan hanya sebatas memindahkan, namun tidak memperhatikan kelayakan tempat. “Kalau mau mindah konsepnya yang jelas. Jangan di sini ngomong begitu (penataan), tapi nol besar,” cetusnya.

Menanggapi hal itu, Asda II Setda Pemkot Serang Mochammad Poppy Nopriandi mengatakan, kebijakan publik harus berdasarkan aturan. Harus menyeimbangkan antara hak dan kewajiban. Ada hak orang berdagang, namun ada hak orang lain untuk menggunakan stadion sebagai ruang terbuka dan kawasan olahraga. “Semua harus saling menghormati,” katanya. (Supriyono/Aas)