Plafon Naik Rp190 Triliun, UMKM Ditantang Serap KUR

0
2.106 views

SERANG –  Para pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Banten yang butuh modal ada peluang untuk menyerap dana kredit usaha rakyat (KUR). Tahun 2020 plafonnya menjadi Rp190 trilun dari Rp140 triliun tahun lalu. Bunganya juga rendah, hanya 6 persen per tahun.

Kepala Bidang Pembinaan Pelaksaan Anggaran (PPA-2) Kanwil Dirjen Perbendaharaan Banten Nur Amalia mengungkapkan, penambahan plafon tersebut sebagai dukungan upaya pemerintah untuk membuka akses usaha seluas-luasnya kepada pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha.  “Pelaku UMKM semakin banyak yang bisa mendapatkan tambahan modal untuk usaha,” katanya kepada Radar Banten, Selasa (28/1).

Ia mengatakan, jumlah plafon ini akan terus bertambah. Bahkan pemerintah sudah mengumumkan hingga 2024 jumlah plafon KUR akan mencapai Rp325 triliun.  “Ini sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pelaku UMKM agar jumlah yang mendapatkan akses semakin banyak,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah bukan hanya menambah plafon secara keseluruhan, tetapi juga plafon KUR mikro yang sebelumnya maksimal Rp25 juta menjadi Rp50 juta. Dengan nilai plafon yang lebih besar memberikan keleluasaan kepada pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha sehingga bisa cepat berkembang. Untuk skema KUR yang lain tidak ada perubahan. “Kalau Rp25 juta rasanya tanggung bagi pelaku usaha, sehingga plafon naik 100 persen menjadi Rp50 juta,” katanya.

Ia menjelaskan, pemerintah juga memberikan kemudahan lain yang menjadi syarat dalam memperoleh KUR yakni lama usaha dari enam bulan menjadi tiga bulan. “Jadi pelaku usaha bisa semakin cepat mendapatkan akses penambahan modal,” jelasnya.

Kepala Seksi PPA2 B Kanwil Dirjen Perbendaharaan Banten Royana Dewi mengatakan, untuk pembagian KUR ke bank penyalur langsung di daerah bersumber dari kantor pusat masing-masing bank. Untuk itu, Kanwil Dirjen Perbendaharaan Provinsi Banten tidak ada pembagian plafon di daerah karena lebih kepada bank penyalur. Untuk di Banten ada 23 bank penyalur. “Kanwil Perbendaharaan lebih pada melihat realisasi,” katanya.

Menurutnya, pemerintah bukan hanya menambah plafon tapi menurunkan suku bunga dari 7 persen menjadi 6 persen. Dengan begini, pelaku usaha lebih ringan dalam urusan cicilan karena relatif kecil dan terjangkau. “Cicilannya semakin ringan sehingga semakin memudahkan pelaku UMKM,” tuturnya.

Ia menambahkan, penyaluran KUR di Banten pada 2019 lalu lebih banyak pada sektor perdagangan. Meskipun pemerintah terus mendorong penyaluran pada sektor produksi. Untuk itu, peranan pemerintah daerah dengan bank penyalur harus terus ditingkatkan agar penyaluran KUR tepat sasaran. “Saat ini, penyaluran juga mulai berjalan hingga 28 Januari ada 2.000 debitur yang memanfaatkan KUR,” katanya.

Dihubungi terpisah, pimpinan BNI Cabang Serang Rahmanto mengungkapkan, pada 2019 BNI Serang menyalurkan KUR sekitar Rp139,2 miliar untuk 4.700 debitur. “Penyaluran lebih dominan pada sektor perdagangan,” katanya.

Ia mengungkapkan, pada tahun ini, target penyaluran belum diinformasikan dari kantor pusat. Mungkin target akan baru diinformasikan pada awal Februari 2020. “Kemungkinan target penyaluran akan naik karena plafon dari pemerintah naik,” katanya.

Meskipun target belum ditentukan, tetapi BNI sudah mulai menyalurkan KUR sebanyak Rp6 miliar untuk 25 debitur. (skn/alt/ags)