Polairud Ciduk Dua Pengedar Obat Terlarang

CILEGON – Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) Polda Banten mengamankan Roni Candra dan Martunis. Keduanya terbukti telah mengedarkan obat keras merek Tramadol, Dexa-m, Merlopam, Trihexyphenidyl, dan Hexymer

Kedua bujangan tersebut mengedarkan obat-obatan tersebut tanpa izin dan tanpa menggunakan resep dari dokter sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-undang Kesehatan.

Kasubdit Gakkum Polairud Polda Banten AKBP Agus Yulianto menuturkan, penangkapan keduanya menindaklanjuti dari keluhan masyarakat terkait maraknya peredaran obat-obatan terlarang di daerah pesisir Kota Cilegon dan Kabupaten Serang.

Informasi itu ditindaklanjuti petugas dengan melakukan operasi dan survei. Hasilnya, pada 21 Agustus lalu, sekira pukul 22.30, petugas mengamankan Roni Candra di salah satu kios di depan Pelabuhan Indah Kiat, Kecamatan Pulomerak.

Di kios itu, selain mengamankan Roni, petugas pun mengamankan sejumlah
barang bukti, di antaranya 75 buah strip masing-masing berisi 10 butir Tramadol ukuran 50 miligram, 93 butir obat berwarna putih yang disimpan di dalam plastik klip bening, 1.010 butir obat berwarna kuning dengan tulisan MF di dalam plastik putih, 119 butir obat berwarna kuning yang dipecah di dalam plastik klip.

Selanjutnya, 350 butir obat merek Dexa-m, 29 butir obat merek Merlopam 2, satu unit smartphone, satu buah dompet berwarna coklat dan uang sebesar Rp2,9 juta.

Mengedarkan barang-barang tersebut, Roni menggunakan modus membuka toko kosmetik.

Usai mengamankan Roni, pada 24 Agustus petugas mengamankan Martunis, di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, sekira pukul 14.30. Sama seperti Roni, Martunis pun diamankan di toko kosmetik miliknya di desa tersebut.

Dari Martunis, petugas mengamankan 126 butir Trihexyphenidyl, 96 butir Tramadol, 1.000 butir Hexymer, 188 butir kapsul berwarna putih, satu unit smartphone, serta uang sebesar Rp3.123.000.

Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku mendapatkan barang-barang tersebut dari seseorang tidak dikenali oleh para pelaku. Barang-barang itupun  dijual kepada para pekerja dan pelajar. “Total obat-obatan
sebanyak 3.763 butir. Pelaku mengaku belum lama mengedarkan obat-obatan itu,” ujar Agus saat press release di Markas Polairud Polda Banten, Senin (26/8).

Akibat melakukan pelanggaran tersebut, para pelaku diancam Pasal 196 Undang-undang Kesehatan dengan hukuman selama 12 tahun penjara. “Kami akan mendalami dari mana asal obat-obatan itu dan masih ada atau tidak pihak lain yang terlibat,” tuturnya.

Salah satu pelaku, Roni menuturkan, ia baru menjual obat-obatan tersebut selama tiga minggu. Ia mendapatkan barang tersebut dari seorang sales yang ia tak dikenali identitasnya. “Saya baru pertama buka langsung datang sales nawarin obat,” ujar Roni.

Roni menjual setiap butir obat dengan harga Rp5 ribu rupiah. Ia sendiri mengaku tahu jika menjual obat-obatan itu harus mendapatkan izin dan resep dokter. Namun hal itu ia abaikan karena banyaknya yang mencari obat tersebut.

“Toko milik saya pak, itu (obat-obatan) buat sampingan aja, sebab kosmetiknya juga laku,” tuturnya. (Bayu Mulyana)