Polda Banten Selidiki Sepuluh Izin Tambang

Salah satu wilayah pertambangan yang masih beroperasi berada di Desa Puloampel, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, Kamis (8/1).Terkait dengan aktivitas itu,Polda Banten memeriksa sepuluh izin pertambangan di Kabupaten Serang dan Kota Cilegon.

SERANG – Polda Banten memeriksa sepuluh izin perusahaan pertambangan di Kabupaten Serang dan Kota Cilegon, Rabu (31/7) lalu. Dari sepuluh perusahaan tambang tersebut, dua aktivitas perusahaan dihentikan lantaran tidak dapat memperlihatkan izin resmi. Sementara delapan perusahaan mengantongi izin resmi dari provinsi.

“Ada yang dihentikan operasinya karena saat diperiksa legalitasnya hanya fotokopi,” ujar Kabid Humas Polda Banten Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Edy Sumardi Priadinata saat ditemui Radar Banten di ruang kerjanya, Kamis (1/8).

Dua perusahaan yang dihentikan operasinya, yakni PT Pasir Angin Jaya Mandiri (PAJM) dan PT Alfa Granitama. Kedua perusahaan pertambangan tersebut berada di Desa Puloampel, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang. Petugas telah memasang garis polisi (police line) di area tambang, termasuk alat beratnya. “Temuan di lapangan hanya ada legalitas fotokopi. Kami meminta pihak terkait untuk menunjukkan dokumen asli,” kata Edy.

Sementara perusahaan lain yang juga turut diperiksa adalah PT Gunung Sakti Abadi (GSA) di Kampung Pulokali, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang, dan PT Trinatha Utama Mineral (TUM) di Desa Puloampel, Kecamatan Puloampel. “Di lokasi tersebut (PT TUM-red) sudah tidak beroperasi sejak Juni 2019, petugas hanya menemukan alat berat stone crusher dan excavator,” ucap Edy.

Kemudian, PT Baet Mall Abadi (BMA) di Toyomerto, Kota Cilegon. Lalu, PT Bukit Sunur Wijaya (BSW) di Desa Margasari, Kecamatan Puloampel; PT Icha Brothers Quarryndo di Jalan Salira Indah, Kecamatan Puloampel; PT Penta Stone Abadi (PSA) di Jalan Raya Bojonegoro-Merak, Desa Puloampel, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang. “Kemudian PT Ria Karya Utama (RKU) di Puloampel juga. Terakhir, perusahaan tambang milik Haji Abbas di Desa Pegaraye, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang,” kata Edy.

Dia mengatakan kedelapan perusahaan tersebut memiliki izin resmi dari Pemprov Banten. Ada beberapa perusahaan yang dipanggil ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten lantaran izinnya tidak berada di lokasi. “Ada yang dipanggil lagi. Mereka mau membawa dokumen-dokumen seperti PT TUM,” ucap Edy.

Dia menjelaskan, operasi penertiban tambang ilegal (peti) tersebut sebagai tindak lanjut tugas kepolisian yang memberikan pengawasan terkait dugaan penambangan ilegal. Operasi tersebut melibatkan ratusan personel baik Ditreskrimsus, Ditreskrimum, Ditsamapta, Satbrimobda, hingga Provos. “Operasi dipimpin oleh Karo Ops Polda Banten Bapak Kombes Pol A Roemtaa,” tutur Edy (jek-mg05/alt/ira)