Polda Pastikan Banten Aman dari Penculik Anak

0
853 views
GRAFIS : ARYA BAYU/RADAR BANTEN

SERANG – Kepolisian Daerah (Polda) Banten memastikan bahwa wilayah hukumnya aman dari kasus penculikan anak. Sepanjang 2010 hingga 2016, Polda Banten dan jajaran belum pernah menerima laporan dari warga terkait kasus tersebut. “Setahu saya, tidak ada laporan penculikan anak (2010-2016),” kata Kabid Humas Polda Banten Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Zaenudin ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/3).

Zaenudin mengatakan, sejauh ini Banten tergolong aman dari kasus penculikan anak. Namun, warga diharapkan tetap hati-hati. “Jangan mudah percaya kepada orang yang tidak dikenal,” ujar Zaenudin.

Namun, warga juga tidak boleh memasang kewaspadaan berlebihan. Terlebih, menimbulkan tuduhan keliru terhadap orang lain. “Kalau ada isu-isu terkait masalah penculikan, mayoritas hoax,” katanya.

Zaenudin menyarankan kepada warga untuk segera melaporkan ke aparat desa bila menemukan indikasi upaya penculikan atau kejahatan lain. “Minimal punya nomor telepon polda, polres, atau polsek terdekat. Minimal ada nomor bhabinkamtibmas yang dikenalnya. Di setiap desa sudah ada bhabinkamtibmas dalam rangka memberikan pencerahan dan bimbingan,” ungkap lelaki yang kini melanjutkan studi Doktor Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya (Unbraw) Malang itu.

Perwira menengah polisi itu melarang warga menyebarkan informasi yang diragukan kebenarannya. Soalnya, informasi sesat itu dapat menimbulkan kekhawatiran bagi masyakarat. “Bagi warga pengguna medsos (media sosial), bila mendapatkan informasi atau gambar, manakala informasinya ternyata tidak ada. Bisa dianggap perbuatan melanggar hukum, sebagaimana diatur dalam UU ITE,” jelasnya.

Warga diminta tidak langsung memercayai informasi yang beredar di media sosial (medsos). “Tanyakan dulu kebenarannya kepada kepolisian terdekat,” katanya.

Sementara itu, sosiolog Banten Suwaib Amiruddin mengatakan, meski baru informasi yang siur, kasus penculikan anak harus menjadi perhatian agar tidak terjadi. Tindak kriminal bisa terjadi karena ada kesempatan. “Kalau targetnya anak, itu karena keluarga sudah jarang memperhatikan detail kehidupan anak sehingga orang jahat tidak masuk ke rumah, tapi pancingannya anak,” katanya saat dihubungi Radar Banten, Rabu (8/3).

Faktor lain yang memungkinkan terjadinya kejahatan tersebut, yaitu banyak orangtua yang terlalu sibuk dengan urusan pribadinya. Tak jarang orangtua sering kali lalai dengan kondisi anaknya. “Motif yang digunakan para penculik, bisa saja melalui pancingan mainan, kedekatan. Kalau ada isu anak dihiptnotis, itu karena anak kurang perhatian orangtua,” katanya.

Situasi tersebut, kata Suwaib, menyebabkan keluarga bukan lagi menjadi tempat bagi anak untuk berbagi cerita. “Keluarga bukan yang sakral bagi anak-anak mendapat kasih sayang sehingga ketika ada orang luar yang bisa mengayomi, itu bisa diikuti,” kata pendiri Suwaib Amiruddin Fondation (SAF) ini.

“Bayangkan saja, orangtua sudah bekerja dari pagi hingga malam sehingga anak tidak dikontrol. Apalagi, yang anaknya dititipkan ke pembantu rumah tangga, tentu si anak tidak maksimal mendapat perhatian,” sambung staf pengajar di Untirta ini.

Menurutnya, banyak kasus menunjukkan, penculikan terhadap anak bukan sebagai tujuan utama. Anak hanya sebagai alat bagi pelaku kejahatan untuk mencari keuntungan materi. (Merwanda-Supriyono/Radar Banten)