Polisi Bongkar Prostitusi ABG di Hotel

0
1146

JAKARTA – Empat ABG diamankan polisi atas dugaan prostiusi di sebuah hotel berbintang di Sunter, Jakarta Utara, Senin (25/1). Empat perempuan muda itu dikenai tarif jutaan rupiah oleh seorang mucikari untuk sekali kencan.

“(Tarif) tergantung kesepakatan, kurang-lebih dari anak-anak itu hanya Rp 1,2 juta,” ujar Kapolsek Tanjung Priok Komisaris Polisi (Kompol) Hadi Suripto seperti dilansir detik.com, Rabu (27/1).

ABG itu rata-rata berusia 15 tahun dan 17 tahun. Awalnya polisi mendapatkan informasi transaksi perdagangan orang di hotel tersebut. Tim Unit Reskrim Polsek Tanjung Priok kemudian melakukan penyelidikan terhadap ciri-ciri orang yang dimaksud di hotel tersebut dan mengamankan RSD di lobi hotel.

Polisi kemudian menginterogasi RSD dan menggeledahnya. Dalam penggeledahan itu, polisi menemukan sejumlah uang pada tersangka RSD.

“Yang bersangkutan mengakui telah menyiapkan empat orang perempuan di bawah umur untuk disiapkan sebagai job ke om-om inisial R,” katanya.

Polisi kemudian bergerak ke hotel tersebut. Dalam penggeledahan, polisi menemukan keempat ABG dalam kondisi tidak berbusana.

Setelah diamankan, empat ABG itu mengaku menyesali perbuatannya.

“Secara psikologis saya lihat anak-anak tadi begitu tertekan, menyesali. Ketika anak-anak mulai menyesali, harus ada upaya-upaya serius pendampingan psikologis kepada mereka, mengarahkan anak-anak, dan tentu saja mengembalikan rasa kepercayaan diri mereka. Saat ini mereka benar-benar tidak memiliki rasa percaya diri. Mereka merasa hina, buruk, dan sebagainya. Nah, upaya ini yang harus kami lakukan ke depan,” ujar Sekjen Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Heni Adihermanoe dalam jumpa pers di Polsek Tanjung Priok, Rabu (27/1).

Heni mengatakan keempat ABG tersebut adalah korban. LPAI mendorong agar keempatnya mendapatkan rehabilitasi. “Tadi kita semangati anak-anak bahwa kejadian ini bukan semata-mata menjadi dunia runtuh bagi anak-anak. Masa depan mereka masih panjang, harus dilakukan rehabilitasi secara psikososial supaya anak-anak bisa kembali pulih dari trauma yang mereka hadapi,” tuturnya.

Di sisi lain, Heni menilai peran orang tua sangat penting dalam memberikan edukasi terhadap para korban yang sedang dalam masa pertumbuhan.

“Dalam hal ini LPAI juga meyakini bahwa apa yang dilakukan anak-anak adalah korban dari pergaulan, korban dari orang tua yang mungkin abai terhadap kehadiran mereka. Tentu saja hal ini harus jadi bagian penting yang kita lakukan bersama edukasi ortu,” ucap Heni. (dtc/nda)