Polisi Cek Kandungan Ketumbar Kimia

0
88
Dua pekerja home industry memanggul dua karung berisi ketumbar yang telah dicampur oleh cairan kimia, di Desa Bendung, Kecamatan Tanara, Sabtu (28/7). DOK. HUMAS POLDA BANTEN

SERANG – Polisi masih menunggu hasil uji laboratarium biji ketumbar yang diduga mengandung bahan kimia berbahaya. Pengujian tersebut dilakukan untuk melengkapi alat bukti perkara pelanggaran pangan.

“Sekarang masih uji sampel ketumbar dan cairan kimia. Kandungan ketumbar itu berbahaya bila dikonsumsi atau tidak,” kata Kapolres Serang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Indra Gunawan ditemui di Mapolda Banten, Jumat (3/8).

Puluhan ton ketumbar itu diamankan dari sebuah gudang di Kampung Bendung, Desa Bendung, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Sabtu (28/7) malam. Home industry milik Subli alias Dobleng itu diduga telah mengolah biji ketumbar dengan carian H202. Cairan kimia yang biasa digunakan untuk tekstil itu ditemukan dalam puluhan jeriken.

“Ketumbar itu dikumpulkan dari banyak tempat. Praktik (pengolahan campuran kimia-red) baru-baru ini sekira tiga bulan. Cairan itu dipakai biar ketumbar terlihat lebih cerah,” ungkap Indra.

Indra mengatakan, sebagian besar ketumbar itu dibeli Dobleng dari Mer dan Kes di Jakarta. Setelah diolah, ketumbar tersebut rencananya dijual kembali kepada Mer. “Bahan kimia itu diakui berasal dari Mer juga, tetapi bukti pembayaran tidak ada. Kalau ketumbar, buktinya ada,” Kata Indra.

Dobleng diperkirakan mengantongi keuntungan ratusan juta rupiah bila ketumbar olahan itu berhasil dijual ke pasaran. “Pekerja ada empat orang,” kata Indra.

Hingga kemarin, asal cairan kimia yang digunakan Dobleng masih ditelusuri polisi. Soalnya, Mer mengelak telah menjual cairan kimia itu kepada Dobleng. “Kita sudah cek ke sana (Mer-red). Dia bukan cuma jual ketumbar, tapi macam-macam. Ada telur juga,” kata Indra.

Sementara ini, sambung Indra, polisi baru dapat menjerat Dobleng dengan UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan. “Sementara baru satu saja. Sampai hari ini masih di polres,” kata Indra. (Merwanda/RBG)