Polri Monitor Warga Banten yang Terlibat ISIS

0
878 views
Walikota Serang Tubagus Haerul Jaman menyampaikan sambutan pada acara Sosialisasi Paham Antiradikalisme oleh Tim Humas Mabes Polri di aula Setda Pemkot Serang, Pusat Pemerintahan Kota Serang (Puspemkot), Kota Serang Baru, Selasa (1/8). FOTO: QODRAT/RADAR BANTEN

SERANG – Dari 660 warga negara Indonesia (WNI) yang berangkat ke Syiria dan Iraq serta bergabung dalam Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS), ada beberapa orang berasal dari Banten. Namun, belum diketahui berapa jumlah warga Banten yang tergabung dalam ISIS.

“Beberapa orang berasal Banten. Tapi, memang saya tidak lihat secara keseluruhan berapa jumlahnya,” ujar Staf Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono dalam acara Sosialisasi Paham Antiradikalisme oleh Tim Humas Mabes Polri di aula Setda Pemkot Serang, Pusat Pemerintahan Kota Serang (Puspemkot), Kota Serang, Selasa (1/8).

Kata Pudjo, WNI yang tergabung ISIS itu bisa pulang ke Tanah Air. “Dipastikan mereka yang masih hidup bisa kembali ke Indonesia, kita terus monitor,” terangnya.

Lebih lanjut, Pudjo mengungkapkan, di Indonesia kelompok radikal yang melakukan teror tidak terkait dengan kekuasaan. Mereka hanya mencari eksistensi dengan menyerang aparat yang dianggap kafir. “Tentu saja kita memerhatikan gerakan-gerakan kelompok radikal di wilayah Banten,” tambah Pudjo.

Kata dia, saat ini, Polri sedang menggencarkan sosialisasi deradikalisasi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Banten. “Supaya mereka yang radikal bisa kembali,” katanya.

Wakapolres Serang Kota Komisaris Polisi (Kompol) Tidar Wulung Dahono mengatakan, aktivitas yang mengarah terhadap radikalisme terjadi di wilayah hukumnya. Data ini didapatkan dari informasi intelijen. “Datanya ada dari intelijen. Tapi, alhamdulillah semua masih dalam pengawasan kami,” katanya singkat.

Walikota Serang Tubagus Haerul Jaman mengakui di Kota Serang tidak menutup kemungkinan ada warganya yang terlibat dalam jaringan kelompok radikal. Ia meminta rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW) di Kota Serang untuk sama-sama mewaspadai aktivitas gerakan radikal.

“Kita bisa melihat juga ada warga kita (Kota Serang-red) berstatus sebagai guru terlibat. Kita kecolongan. Walaupun sebelumnya terdeteksi, tapi memang kita tidak mengetahui sejauh mana keterlibatannya,” kata Jaman.

Jaman menjelaskan, gerakan radikal disebabkan oleh beberapa faktor seperti masalah ekonomi. “Kita bisa menguatkan faktor-faktor tersebut dengan menyiapkan sarana dan prasarana. Termasuk kita ikut sertakan ASN dalam kegiatan ini untuk dapat menindaklanjutinya,” tandasnya. (Fauzan D/RBG)