Pondok Pesantren Bukan Tempat Gerakan Radikal

0
176
Suasana diskusi yang mengambil tema peran pondok pesantren dalam merawat empat pilar kebangsaan di Pondok Pesantren Ummul Quro, Pamulang, Selasa (19/9).

 

PAMULANNG – Pondok pesantren tidak jarang menjadi sasaran dan tuduhan negatif ketika paham radikal menyebar di masyarakat‎. Maka itu, perlu diluruskan pandangan masyarakat tersebut. Justru dari pondok pesantren dimulai pergerakan melawan penjajah yang akhirnya Indonesia bisa merdeka.

Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangsel KH Nasuha Abu Bakar mengatakan, lembaga pendidikan seperti pondok pesantren, harus mau menerima war‎isan dari pendahulu bahwa Indonesia. Berupa keberagaman yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan agama.

”Maka itu, pondok pesantren harus senantiasa mengajarkan santrinya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tidak lupa diajarkan kemandirian dan kewirausahaan. Para santri juga diajarkan menyayangi sesama manusia,” katanya dalam Halaqoh Kebangsaan di Pondok Pesantren Ummul Quro, Pamulang, Selasa (19/9).

Menurutnya, di pondok pesantren juga diajarkan mencintai tanah air adalah bagian daripada Iman. Pengajaran ini suatu bentuk loyalitas pesantren terhadap negara. Maka itu pemerintah harus proaktif melihat keadaan pondok pesantren. ”Baik keadaan bangunan, kesejahteraan dan kelayakan‎ hidup bagi para penebar Rahmatan lil alamin,” imbuhnya.

Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Solihuddin Nasution mengatakan, paham radikal banyak memengaruhi dunia pendidikan, seperti lembaga pendidikan, kampus maupun sekolah serta pondok pesantren. Itu berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan BNPT.

”Maka itu, jika memang ada guru maupun dosen yang mengajarkan paham radikal maka segera dilaporkan kepada BNPT,” ujarnya.

Menurut Solihuddin, paham radikal saat ini tidak hanya menyasar kepada masyarakat menengah ke bawah. Justru, saat ini cukup banyak orang-orang yang berekonomi kuat ikut terpengaruh.

”Buktinya ada masyarakat yang menjual harta bendanya untuk kemudian bergabung dengan ISIS. Jadi anggapan teroris hanya merekut masyarakat menengah ke bawah tidak benar. Semua lapisan masyarakat juga direkutnya,” ungkapnya.

Untuk itu, peran pondok pesantren dan juga keluarga cukup penting sebagai sarana pengetahuan agar anak didiknya cinta tanah air sekaligus dapat menjalankan agama dengan baik.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Ciputat M Amin Nurdin menjelaskan, pondok pesantren selama ini telah memainkan tiga peran besar. Yaitu sebagai mediator dakwah dan penjaga moral bangsa, serta modernisasi Islam di Indonesia. ”Pesantren sebagai produk globalisasi tidak terhindarkan terkena dampak proses globalisasi. Yaitu adanya gejala radikalisasi di Indonesia,” ujarnya.

Amin Nasuha mengambil contoh pesantren di Bogor, yaitu Ibnu Masud yang santri-santrinya dikirim ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Musababnya mereka diberikan paham radikal oleh gurunya di pondok pesantren itu. Padahal paham ini tidak cocok di Indonesia.

Amin menambahkan, bahwa Islam di Indonesia bersifat inklusif, moderat, wasatiyah, yang berada di tengah-tengah. Paham kerukunan di Indonesia sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Alquran dan sunnah. Seorang muslim yang baik pastilah menjadi seorang warga negara yang baik pula.‎ (FIRDAUS/RBG)