Potret Pendidikan Masa Kolonial di Serang: Serang Kota Penghasil Guru

0
1.605 views
Normaal School di Serang berdiri 1910. Gedung sekolah pendidikan calon guru ini, kini difungsikan sebagai Makorem 064/ Maulana Yusuf, di Cimuncang, Kota Serang, sejak 17 Mei 1966. Foto: REPRO BUKU DATA BASE BPCB SERANG

Di pusat Pemerintahan Kota Serang dulu, pemerintah Kolonial Belanda pun membuka sekolah pengajaran bernama Normaal School voor Hulp Onderwijzer. Dari sini, banyak dihasilkan guru-guru mumpuni.

KEN SUPRIYONO – Serang

Tepat pukul 09.30 WIB. Sirene di Stasiun Kereta Api Serang berbunyi. Tanda tibanya kereta api dari Batavia, nama untuk DKI Jakarta pada masa kolonial.

Di antara keramaian penumpang, turun seorang pria Eropa. Tampangnya tinggi tegap. Pakainnya rapi, mengenakan jas hitam yang lengkap berdasi kupu-kupu.           

Ya, orang itu adalah guru bantu yang biasa diundang pemerintah untuk ikut mengajar di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Sekolah pendidikan bagi calon pegawai-pegawai Bumiputra pada zaman Hindia Belanda. Juga mengajar bahasa di Normaal School voor Hulp Onderwijzer. Sekolah pendidikan untuk calon guru, yang resmi dibuka tahun 1910.

Dari stasiun menuju lokasi Normaal School cukup dekat. Hanya berjarak 1,9 kilometer atau butuh waktu tempuh sekira 10 menit. Gedung itu, tepat berdiri di Jalan Maulana Yusuf Nomor 9 Cimuncang, Kecamatan Serang, Kota Serang. Kini, gedung yang banyak melahirkan pahlawan tanda jasa itu, difungsikan sebagai Markas Komando Resor Militer (Makorem) 064/Maulana Yusuf, sejak 17 Mei 1966.

Bangunan yang menghadap barat itu masih terawat baik. Dengan denah persegi panjang dan pola simetris jadi ciri khas. Hanya saja, ada beberapa bagian yang diubah, seperti pintu dan jendela yang diganti kaca. Juga lantainya yang menggunakan keramik dan tambahan ornamen batu alam.

Gedung itu kini dominan berwarna hijau, dengan terpampang tulisan ‘Gawe Kuta Baluwati Bata Kalawan Kawis’ di muka ruang utamanya. Ruang yang dari 1910 sampai 1927 dijadikan tempat para siswa Normaal School menempa pengetahuan.

Setidaknya, sebelas mata pelajaran harus mereka tamatkan. Mulai bahasa Melayu, bahasa Sunda/Jawa, menulis, berhitung, ilmu ukur, ilmu bumi, dan sejarah. Lalu, ilmu alam, menggambar, ilmu mendidik, hingga kecakapan bernyayi. “Lama studinya empat tahun, tiga tahun untuk pelajaran biasa dan satu tahun praktik mengajar,” kata Sejarawan Banten Mufti Ali.

Sampai 1862 sekolah pendidikan guru hanya ada tiga tempat. Tiga kota itu Surakarta, Majalengka, dan Tanobato. Namun, saat kebijakan politik etis mulai diberlakukan, jumlah sekolah mulai menjamur. Tahun 1907, ratusan sekolah di perdesaan mulai dibangun Pemerintah Kolonial. Bahkan, hingga 1913, di Banten telah tercatat sebanyak 136 sekolah desa. Sebarannya 70 di Serang, 60 di Pandeglang, dan 16 di Lebak. “Pendidikan yang semula dimonopoli untuk orang Eropa dan kelas elite, saat itu mulai dirasakan warga desa,” kata Mufti.

Pada buku Banten dan Pembaratan, Sejarah Sekolah 1833-1942 yang ditulis Mufti Ali, tercatat dokumen surat Kepala Sekolah Normaal School J.S Bakker tertanggal 4 Juni 1915. Ia meminta kepada Direktur Pendidikan dan Agama di Jakarta memberikan bantuan subsidi penyelanggaraan ujian calon guru bantu.

Dalam surat tersebut dijelaskan, berlangsung ujian untuk mendapatkan akta guru di Serang pada 8-9 Maret 1915. ada enam orang yang mengikuti ujian, yakni Atmojoyo, Jayadisastra, Martodijoyo, Nyi Supiah, Ratu Alimah, dan Tubagus Martadijaya.  “Semuanya berhasil mengikuti ujian dan mendapat sertifikat untuk mengajar,” kata dokter lulusan Leiden University Belanda itu.

Dalam perjalanannya, siswa Normaal School semakin banyak. Puncaknya pada 1931 yang mencapai 225 orang. Termasuk 30 siswa dari luar Kota Serang. Banyaknya siswa tidak sebanding dengan kapasitas kelas.

Gambaran itu, terekam dalam pemberitaan wartawan de Banten Bode. Koran lokal Banten itu menyebut, sebanyak 161 siswa kelas akhir sekolah calon guru kekurangan kelas. Akibatnya, para siswa harus berdesak-desakan. Padahal, siswa-siswa itu jelang ujian akhir yang menjadi prasyarat kelulusan. Suasana dan fasilitas yang ada terasa kurang memadai.

Berdirinya Normaal School yang tidak lepas dari pemberlakuan kebijakan etis, diutarakan Peneliti Banten Heritage Dadan Sujana. Politik etis yang mulai berlaku 1901 dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk pribumi. Salah satunya pendidikan yang berdampak pada pembangunan sekolah. “Sebelum berdiri sekolah yang ditujukan untuk mencetak pegawai-pegawai rendahan,” katanya.

Sejalan dengan tuntutan perubahan masyarakat pribumi, Pemerintah Belanda mulai meningkatkan mutu pendidikan. Sekaligus mendapatkan tenaga terdidik dari kalangan pribumi. Kata Dadan, diadakannya Normaal School tidak lepas dari adanya Kweenschool sebagai sekolah pendidikan tertua sejak awal abad ke-19.

Pada awalnya, sekolah ini adalah kursus yang didirikan pada sending dan missie. Kemudian, Pemerintah Hindia Belanda menyelenggarakan kursus bagi guru yang diberi nama Normaale Curcus yang dipersiapkan menghasilkan guru desa. “Normaal itu artinya pengajaran, kenapa sekarang dinamakan lain?” tanya Dadan. (Habis)