PPDB SMA SMK Online Masih Terkendala Jaringan dan Titik Koordinat

Orangtua calon siswa menyerahkan berkas fisik pendaftaran PPDB Online di SMAN 1 Kota Serang, Selasa (9/6).

SERANG – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA/SMK di Provinsi Banten masih dikeluhkan oleh orangtua siswa. Mereka menilai bahwa PPDB online menyusahkan karena kerap mengalami gangguan jaringan, kesalahan menginput data, dan titik koordinat tempat tinggal siswa yang tidak tepat.

Juhri, orangtua calon siwa yang tinggal di Kampung Darmaga, Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, mengaku kesulitan melakukan pendaftaran anaknya di  SMAN 16 Pandeglang. Kata dia, jaringan internet selalu terganggu hingga memakan waktu yang cukup lama. “Daftarnya susah, enggak tahu juga kenapa susah. Banyakan yang daftar juga mungkin jadi lambat masuknya. Mudah-mudahan ini jangan sampai terulangi lagi, soalnya kami kesulitan,” katanya kepada Radar Banten, Selasa (9/6).

Hal senada disampaikan Uen, orangtua calon siswa di SMAN 1 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Ia juga mengaku kesulitan mendaftarkan anaknya  melalui  jalur online karena membingungkan. Itu karena banyak pilihan yang harus dipilih seperti jalur zonasi, jalur afirmasi, dan lainnya. Akibat kurangnya informasi ia salah memilih jalur tes yang tepat.

“Belum lagi ribet daftarnya karena banyak dokumen yang harus di-scan sebelum diupload. Saya terpaksa memakai jasa orang lain. Ternyata jalur yang dipilih sedikit kurang tepat sehingga kurang menguntungkan anak saya,” kata Uen.

Ia mengatakan, memilih jalur zonasi untuk dapat masuk ke SMAN pilihan anaknya. Padahal, yang lebih menguntungkan untuk anaknya masuk ke SMA melalui jalur afirmasi. “Yang daftar pastinya banyak jadi harus pintar memilih jalur. Salah-salah anak bisa gak diterima. Kalau sudah daftar, tidak bisa diubah lagi. Seperti saya lebih aman adalah jalur afirmasi karena punya Kartu Indonesia Sehat (KIS). Pas mau daftar lagi untuk diubah jalur pilihan, ternyata sudah tidak bisa,”katanya.

Begitupun kata orangtua asal Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang, Rohmawati. Kata dia, saat mendaftarkan anaknya terkendala jaringan saat masuk situs PPDB online. Jaringan kadang tidak bisa dibuka. “Masuknya lama, kalau jaringan internetnya sih bagus,” katanya.

Selain itu, ia juga merasa masih awam untuk mengurus PPDB dengan sistem online. Karena, tidak ada sosialisasi dari sekolah ataupun pemerintah terkait tata cara pengisiannya. “Akhirnya kan kita minta tolong ke pihak sekolah saja,” ujarnya.

MENGUBAH TITIK KOORDINAT

Sementara calon peserta didik baru di SMAN 5 Kota Serang, Devitasari mengaku mengalami sedikit perbaikan dalam proses pendaftaran lewat online. Ia harus mengisi isian google form untuk mengubah titik koordinat yang tidak sesuai dengan alamat rumahnya. “Saya daftarnya di warnet (warung internet-red), jadi titik koordinatnya harus diperbaiki,” ujarnya.

Ia  mengaku lega setelah semua proses tahapan melalui online terdaftar di SMAN 5 Kota Serang. Sebelumnya, mengalami kesulitan karena tidak bisa mendaftar melalui handphone sehingga harus ke warnet. “Kalau sudah terdaftar lega, karena sudah ada daftar namanya, kendalanya cuma titik koordinat mungkin ada kesalahan. Soalnya ngerjainnya di warnet. Sebenarnya bisa dihandphone, cuma agak susah (lambat loading-red),” katanya.

Di Kota Cilegon, kesulitan juga dialami oleh orangtua calon siswa baru. Sunarsih Hafsari, salah satunya. Orangtua calon siswa itu mengaku menghabiskan waktu lebih dari satu jam agar bisa mengisi formulir pendaftaran untuk anaknya.  “Gak tau karena sinyal di tempat saya tidak  bagus atau memang ada masalah di sananya,” ujar Sunarsih, Selasa (9/6).

Cerita lain diungkapkan orangtua lainnya, Nufus. Ia juga mengeluhkan karena tak bisa mengubah kesalahan dalam penginputan data.  “Saya salah memasukkan bulan lahir anak saya, pas mau diganti tidak bisa karena sudah telanjur klik,” ujarnya.

Ia mengaku sempat khawatir namun setelah berkonsultasi ke pihak sekolah, hal itu bisa diubah saat verifikasi administrasi.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten saat dikonfirmasi mengenai banyak keluhan dari orangtua calon siswa itu, M Yusuf mengatakan, berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan pihaknya, semua pelaksanaan PPDB lancar. Adapun keluhan-keluhan disampaikan ke sekolah karena masing-masing sekolah punya cara dalam mengedukasi calon peserta.

Kata dia, sudah memberi pengumuman dan informasi kepada peserta. “Ada yang langsung sosialisasi ke sekolah, sampai ada yang melalui spanduk-spanduk, ada yang melalui daring dan macam-macam cara sekolah menyampaikan informasi kepada calon peserta,” terangnya.

Ia mengatakan, server PPDB berada di masing-masing sekolah dan tidak sentral.  Sedangkan data di Dindikbud itu hasil laporan sekolah.  “Jadi problemnya tidak sama, maka jangan disamaratakan, kita percaya sekolah. Saya rasa setiap pekerjaan mungkin ada keluhan tapi keluhan itu terus kita dorong untuk diminimalisir,” ujar Yusuf.

Kata dia, apabila ada keluhan, maka masyarakat bisa menghubungi panitia sekolah secara daring. “Kita dorong sekolah buka komunikasi,” tuturnya.

Ia mengatakan, problem setiap sekolah tidak sama apalagi jumlah sekolah negeri ada 230-an. Dengan begitu, jumlah panitia sekolah juga ada 230-an sehingga masing-masing mempunyai standar operasional (SOP) sebagai dasar dalam melaksanakan penerimaan siswa baru.

“Ada juga peserta atau orangtua peserta tidak membuka web, tidak baca syarat tetapi inginnya ketemu langsung dengan panitia,” ungkap Yusuf. Bahkan, ada juga yang langsung isi aplikasi, tetapi syaratnya belum baca sehingga salah isi.

Kata dia, hal ini menjadi pengalaman pertama kondisi Covid-19 dengan tidak boleh berkerumun, tetapi mindset masyarakat masih seperti kondisi normal. “Kita harus belajar dari Covid-19, semua kita dipaksa berubah,” terang pria yang menjabat sebagai Staf Ahli Gubernur Banten ini.

TERIMA LAPORAN

Dihubungi terpisah,  Kepala SMKN 1 Kota Cilegon Widodo mengaku sempat menerima laporan tentang kesalahan input data pada formulir. Kata dia, hal itu tidak masalah karena setelah proses pendaftaran akan dilakukan verifikasi. “Saat itu nanti data-data akan disesuaikan,” ujarnya.  Ia berharap masyarakat tidak khawatir jika salah menginput data, yang terpenting telah memiliki nomor registrasi.

Kepala SMAN 1 Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Iva Havidania mengatakan, ada empat jalur PPDB tahun ini. Yakni jalur zonasi dengan kuota 50 persen dari daya tampung, jalur afirmasi dengan 15 persen daya tampung, jalur perpindahan orangtua dengan 5 persen daya tampung, dan jalur prestasi dengan 30 persen daya tampung. PPDB sudah dibuka sejak 26 Mei sampai 27 Juni 2020.

“Di sekolah kami jumlah kuota yang tersedia 216 siswa yang terdiri dari 6 rombongan belajar. Setiap rombongan belajar berjumlah 36 orang siswa,” kata Iva.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Cikande, Kabupaen Serang, Mulyadi membenarkan, beberapa persoalan yang dihadapi orangtua calon siswa. Yakni jaringan, titik koordinat, hingga pengisian berkas. “Yang lagi ramai itu soal titik koordinat,” katanya.

Ia mengatakan, ada beberapa orangtua siswa yang mengupload titik koordinat di luar zonasi. Bahkan, ada warga Kecamatan Cikande yang di titik koordinatnya malah berada di Samudera Pasifik. “Ini yang bermasalah ini kebanyakan pakai handphone,” ujarnya.

Ia mengaku sudah melakukan supaya pendaftar dapat terakomodasi dengan baik. Para pendaftar dikoordinasikan di masing-masing SMP asal sekolah. “Jadi di sana diperbantukan untuk tata cara pendaftarannya,” ucapnya. (dib-ncejek-fdr-nna/alt)