PPI Tangsel Tegaskan Tak Ada Kekerasan pada Aurel

Wakil Walikota Tangsel Benyamin Davnie (berpeci) bersimpuh di samping jenazah Aurellia Qurrotain, siswi kelas XI MIPA 3 SMA Islam Al Azhar BSD di Taman Royal 2, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Kamis (1/8). Aurellia adalah anggota Pasukan Pengibar Bendera dalam HUT Kemerdekaan RI ke-74 Tingkat Kota Tangsel. Foto Humas Pemkot Tangsel For Radar Banten

TANGERANG SELATAN – Kematian anggota Paskibra Kota Tangsel Aurellia Qurratuaini (16) secara tiba-tiba, mengundang banyak tanda tanya. Salah satunya, soal adanya dugaan kekerasan selama menjalani pelatihan Paskibra. Namun, Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Tangsel Warta Wijaya membantah adanya prasangka tersebut.

“Tidak ada kekerasan seperti yang beredar bahwa Aurel (panggilan akrab Aurellia Qurratuaini-red) mengalami memar akibat tindak kekerasan diplonco oleh seniornya. Itu hoax,” katanya, melalui pesan singkat WhatsApp yang diterima Radar Banten, Minggu (4/8).

Ia menambahkan, saat pemusatan latihan sejak 22-31 Juli bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), seluruh senior yang bukan pelatih dilarang terlibat dalam bentuk apapun. Seperti diceritakan Aurel dalam diary-nya sebelum meninggal. “Kami sudah membuat aturan, senior yang tidak terlibat pelatihan dilarang ikut melatih,” tandasnya.

Seperti diketahui, Aurel meninggal dunia, Kamis (1/8) sekira pukul 05.00 WIB di rumahnya Kompleks Taman Royal 2, Kota Tangerang. Aurel diproyeksikan menjadi pembawa baki bendera Merah Putih saat Upacara Hari Kemerdekaan RI ke-74 Tingkat Kota Tangsel. Menurut keterangan keluarga, malam hari sebelum meninggal, Aurel sempat menderita panas. Namun, keluarga mengira yang diderita Aurel hanya panas biasa.

Sementara pelatih Paskibra, Letda (Kav) Lanang menjelaskan, anggota Paskibraka masuk pelatihan di Batalion Kavaleri 9, Serpong mulai Senin (22/7) sampai Kamis (25/7) lalu. Mereka dilatih sejak pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.

“Tugas kami (pelatih), hanya melatih pada saat latihan. Selesai latihan, mereka (anggota Paskibraka-red) diserahkan kembali ke PPI dalam hal pengawasan dan pengendalian,” jelasnya dalam keterangan pers yang diterima awak media, Minggu (4/8).

Dia menambahkan, semua anggota Paskibraka Tangsel tidak ada karantina. Mereka latihan dari pagi hingga sore. “Usai latihan, Capaska (calon paskibra-red) kembali pulang ke rumahnya masing-masing,” katanya seraya menambahkan, pada 11 Agustus 2019 barulah anggota Paskibra akan dikarantina di Hotel Marylin Serpong.

Lanang menambahkan, dari buku diary, Aurel menuliskan lebih suka dan semangat dilatih oleh kakak- kakak TNI dari pada dilatih oleh anggota PPI yang penuh dengan tekanan secara moril dan fisik. Soal jadwal latihan Paskibraka Tangsel, sepenuhnya dibuat Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Tangsel.

“Secara teknis di lapangan kami yang bertanggung jawab dalam kegiatan pelatihan Paskibra. Selebihnya untuk pasukan Paskibra diserahkan ke PPI sebagai pengawas sepenuhnya,” sebut Lanang. (you/asp/sub)