Preman Pensiun bisa menjadi referensi film yang ditonton pekan ini. Film hasil adaptasi dari sinetron yang tayang pada 2015 lalu ini disutradarai Aris Nugraha.

Kita dipertemukan oleh bisnis. Bisnis yang oleh Kang Bahar disebut sebagai bisnis yang bagus, tapi bukan bisnis yang baik. Bisnis yang sudah lama ada, jauh sebelum Kang Bahar ada di dalamnya, dan masih tetap akan ada sampai jauh setelah kita meninggalkannya. Kita buktikan pada Kang Bahar yang sudah tenang di sana, di sini kita punya bisnis yang bagus dan juga bisnis yang baik.”

Kalimat itulah yang diucapkan Kang Mus pada anak buahnya setelah pensiun dari bisnis preman. Pesan terakhir Kang Mus tersebut sekaligus mengakhiri tamatnya serial televisi yang populer di 2015. Kalimat tersebut dijadikan pembuka untuk film yang diproduksi MNC Pictures dan ANP Films.

Film ini berlatar waktu tiga tahun setelah kejadian di serialnya. Selepas meninggalnya kang Bahar (Didi Petet), tongkat pimpinan preman diserahkan pada Kang Mus (Epy Kusnandar). Kang Mus memegang amanah dan kepercayaan dari Kang Bahar untuk tetap menjaga anak buahnya. Ia bersama Ujang memilih bisnis kecimpring, sementara anak buah lainnya kembali ke kehidupan mereka masing-masing sebelum menjadi preman. Ada yang jualan di pasar, jadi satpam, pawang kuda lumping, hingga pulang kampung untuk membuka usaha.

Namun, bisnis kecimpring Kang Mus mengalami penurunan. Tak hanya itu, Kang Mus pun harus dihadapkan pada anak perempuannya, Safira (Safira Maharani), yang mulai beranjak dewasa. Tapi ada masalah lebih besar dari itu, yakni masalah yang menimpa anak buahnya.

Latar waktu yang diambil oleh Preman Pensiun menandakan kepergian aktor senior Didi Petet tiga tahun lalu, tepatnya 15 Mei 2015. Tak hanya untuk mengingat kepergiannya, cerita film pun dibuat untuk mengenang sosok Kang Bahar yang akan memasuki 1000 hari kepergiannya.

Pada awal film, penonton disajikan adegan flash back ketika Kang Bahar (Didi Petet) menyerahkan posisinya sebagai pemimpin preman kepada Kang Mus. Adegan tersebut tidak cuma menjelaskan plot kepada penonton awam, namun juga membawa memori tersendiri bagi penggemar setia serialnya.

Kalau belum pernah menonton sinetronnya, mungkin agak sedikit bingung dengan jalan cerita filmnya. Plot di film benar-benar melanjutkan kisah yang ada di sinetronnya. Namun, film ini masih bisa dinikmati. Seiring berjalannya film, penonton akan semakin mengerti jalan ceritanya yang disuguhkan dengan cara kocak.

Perkara yang lebih besar pun muncul di antara mantan anak buah Kang Mus. Salah satunya adalah Gobang (Dedi Moch Jamasari). Setelah pensiun sebagai preman selama tiga tahun dan menjadi peternak lele, Gobang kembali ke terminal untuk mengadakan “reuni” kecil-kecilan bersama kerabatnya. Pertemuan tersebut berkaitan dengan sebuah pengeroyokan yang terjadi di Pasar Baru.

Film ini merupakan kelanjutan versi sinetronnya tiga tahun lalu, bukan reboot atau remake dari serial TV-nya. Pemeran dari karakter di film ini benar-benar sama persis. Mulai dari Kang Mus, Kinanti (Tya Arifin), Imas (Soraya Rasyid), Gobang (Dedi Moch Jamasari), hingga duo preman seram nan menggemaskan, Murad (Deny Firdaus) dan Pipit (Ica Naga). Uniknya lagi, Preman Pensiun merupakan film layar lebar pertama untuk sebagian besar pemainnya, kecuali Epy Kusnandar.

Sama seperti sinetronnya, film Preman Pensiun memilih Bandung sebagai latar tempat. Nah, di film ini, nuansa khas Sunda benar-benar dirasakan berkat musik yang sesuai. Lewat alunan angklung dan seruling, penonton akan merasa seolah-olah sedang berada di tanah Sunda.

Para pemain mulai dari pemeran utama, pemeran pembantu, hingga figuran adalah aktor asli asal Jawa Barat. Hal inilah yang membuat dialog para pemain terasa natural ketika harus menggunakan logat dan kata berbahasa Sunda. Mereka nggak terkesan berpura-pura.

Hmm bagaimana? Tertarik bertemu Kang Mus? (Zee)