Presiden Jokowi: Islam Radikal Bukan Islamnya Bangsa Indonesia

0
731 views

JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengungkap banyak pemimpin dan kepala negara dari berbagai belahan dunia yang mengagumi kemampuan Indonesia mengelola kerukunan dan keberagaman.

“Indonesia bisa sebagai rujukan, menjadi contoh, role model bagi negara lain,” kata presiden yang akrab disapa Jokowi, ketika memberikan sambutan pada Pembukaan Halaqah Nasional Alim Ulama di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (13/7), dilansir JPNN.com.

Presiden meyakini bahwa kekaguman dunia pada kerukunan yang terjadi di Indonesia karena kemampuan umat Islam Indonesia dalam menerapkan Islam yang rahmatan lil alamin.

Semuanya itu bisa terwujud karena peran alim ulama yang terus menerus berperan aktif dalam memberikan tuntunan kepada seluruh ummat.

“Tuntunan untuk mewujudkan Islam yang wasathiyah, moderat, santun dan bukan Islam yang keras, bukan Islam yang radikal. Islam radikal bukan Islamnya Majelis Ulama Indonesia. Islam yang radikal bukan Islamnya bangsa Indonesia,” ucap dia.

Karena itu, mantan gubernur DKI Jakarta ini berharap, alim ulama bisa berperan aktif menuntun umat mempererat tali silaturahmi, kerukunan dan bukan hanya kerukunan di antara umat Islam sendiri tapi sesama anak bangsa dalam semangat persatuan.

Dia mengingatkan bahwa sudah menjadi kodrat bangsa Indonesia selalu ditantang dalam mengelola keberagaman, dalam mengelola kemajemukan dan mengelola kebhinekaan dalam kerangka Pancasila.

Pancasila dengan Islam menurutnya bukan untuk dipertentangkan, bukan pula untuk dipisahkan. Sebab, Pancasila itu dasar negara. Islam itu akidah yang harus kita pedomani.

Dalam kesempatan tersebut, suami Iriana mengajak seluruh umat Islam Indonesia untuk kembali pada semangat bekerja sama, saling tolong menolong dalam semua aspek kehidupan untuk mewujudkan Indonesia yang maju, berdaulat, bermartabat, berkepribadian, adil dan makmur.

“Tidak boleh lagi di antara kita ada yang mempunyai agenda politik tersembunyi maupun yang terang-terangan untuk meruntuhkan NKRI yang Bhinneka Tunggal Ika. Tidak boleh lagi di antara kita ada yang memiliki agenda mengganti Negara dengan sistem pemerintahan dan kenegaraan yang bertentangan dengan Pancasila,” ujar Jokowi.

Turut hadir dalam acara tersebut di antaranya, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala BIN Budi Gunawan, Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PB NU KH Said Aqil Siradj, Tuan Guru Turmudzi, dan KH Maimun Zubair. (fat/jpnn)