Prioritaskan Pasien Miskin, Komisi V Sidak RSUD Banten

0
324 views

SERANG – Guna memastikan masyarakat yang tidak mampu mendapatkan layanan kesehatan di rumah sakit milik Pemprov Banten, Komisi V DPRD Banten melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Banten, Selasa (19/11).

Pantauan Radar Banten, rombongan Komisi V tiba di RSUD Banten sekira pukul 10.00 WIB. Mereka langsung berkumpul di depan gedung IGD RSUD Banten. Sedikitnya ada enam anggota Komisi V yang melakukan sidak.

Selain meninjau langsung sejumlah ruang di IGD, anggota Komisi V juga sempat menjenguk pasien dan keluarga pasien yang sedang dirawat. Mereka juga sempat berbincang dengan pasien yang sedang mendapat penanganan di IGD.

Usai meninjau gedung IGD, sidak dilanjutkan ke layanan informasi, kemudian ke lantai tiga Gedung RSUD Banten tempat ruang bedah/operasi dan rawat inap. Lantai tiga gedung RSUD Banten kondisinya memprihatinkan, lantaran atap bangunan ambruk akibat hujan disertai angin kencang yang terjadi pekan lalu.

Layanan bedah/operasi terpaksa dihentikan selama satu pekan terakhir, karena RSUD Banten masih menunggu perbaikan atap bangunan yang ambruk. Bahkan bila terjadi hujan, air langsung masuk ke sejumlah ruangan di lantai tiga.

Usai meninjau sejumlah ruangan di lantai tiga, rombongan Komisi V melakukan audiensi dengan manajemen RSUD Banten di aula rapat yang berada di lantai tiga.

Ketua rombongan Komisi V, Ishak Sidik mengatakan, pihaknya sengaja melakukan sidak lantaran RSUD Banten menjadi salah satu layanan publik yang menjadi korban bencana hujan disertai angin kencang yang terjadi di Kota Serang pekan lalu.

“Kami ikut prihatin atas kondisi yang terjadi di RSUD Banten, kami datang kesini untuk mengetahui seberapa terganggunya layanan kesehatan di RSUD Banten akibat musibah tersebut,” ungkapnya.

Politikus PAN ini menambahkan, dari pantauan langsung Komisi V, lantai tiga Gedung RSUD Banten yang kondisinya paling parah dan membahayakan pasien dan petugas yang ada di rumah sakit.

“Kami mendapat laporan dari manajemen RSUD Banten, lantai tiga untuk sementara tidak difungsikan, termasuk layanan operasi. Sehingga pasien yang tadinya rawat inap di lantai tiga dievakuasi ke ruangan lain yang lebih aman di lantai dasar, dan pasien yang harus dioperasi dirujuk ke rumah sakit yang lain,” ungkapnya.

Kendati kondisinya cukup memprihatinkan Ishak tetap meminta manajemen RSUD Banten untuk tetap memberikan layanan kesehatan yang maksimal pada masyarakat Banten.

“Terutama untuk pasien yang miskin, kami minta RSUD Banten tetap memberikan prioritas penanganan terbaik. Bila mereka tidak bisa dioperasi di RSUD Banten, harus dibantu agar bisa dioperasi di rumah sakit lain secara gratis,” tegasnya.

Sementara Direktur RSUD Banten dr Danang H Nugroho mengungkapkan, hanya aula rapat yang masih bisa dipergunakan di lantai tiga, sementara ruangan lainnya seperti ruang rawat inap, ruang operasi tidak bisa digunakan. “Sudah satu pekan kami tidak menggunakan ruang bedah, pasien yang harus dioperasi terpaksa dirujuk ke rumah sakit lain di Banten,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Danang, perbaikan atap bangunan RSUD Banten belum bisa dilakukan lantaran pihak kontraktor baru melakukan penandatanganan kontrak. “Hari ini (kemarin-red) baru dilakukan penandatanganan kontrak perbaikan atap rumah sakit yang rusak. Hasil penghitungan sementara, perbaikan atap dan bangunan yang rusak membutuhkan anggaran Rp150 juta. Mulai besok (hari ini-red) perbaikan segera dilakukan,” ungkapnya.

Terkait layanan kesehatan terhadap pasien miskin atau pasien dengan surat keterangan tidak mampu (SKTM), Danang memastikan RSUD Banten komitmen untuk tetap memberikan layanan yang optimal. “Untuk pasien yang tidak mampu, tapi harus mendapatkan penanganan di ruang operasi langsung kami rujuk ke RS Sari Asih. Biayanya kami yang tanggung,” tegasnya.

Selama ini, hanya RSUD Banten dan RSU Malingping yang menggratiskan pengobatan gratis bagi pasien dengan surat keterangan tidak mampu (SKTM). “Jadi kami tetap bertanggung jawab melaksanakan program Pemprov Banten yakni memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat Banten yang tidak mampu,” tuturnya.

Tahun depan, lanjut Danang, renovasi total akan dilakukan menggunakan APBD tahun anggaran 2020. “Perbaikan gedung yang dilakukan saat ini hanya sementara, secara permanen renovasi gedung baru bisa dilakukan tahun depan,” tegasnya.

Juru Bicara Komisi V DPRD Banten Furtasan Ali Yusuf mengapresiasi komitmen manajemen RSUD Banten yang tetap memberikan layanan prima terhadap pasien yang tidak mampu.

“Tadinya kita khawatir pasien miskin yang harus segera dioperasi, tidak dibantu oleh RSUD Banten. Namun ternyata manajemen RSUD Banten telah komitmen menanggung semua biaya operasi di rumah sakit yang jadi rujukan,” katanya.

Musibah yang terjadi, lanjut Furtasan, tidak menjadi alasan bagi RSUD Banten untuk tidak menolong pasien yang tidak mampu. “Alhamdulillah hanya layanan operasi yang dihentikan, layanan kesehatan lainnya tetap dilakukan di RSUD Banten pasca musibah yang terjadi,” ujarnya.

Furtasan hanya memberikan masukan, agar manajemen RSUD Banten menjaga kebersihan di lingkungan rumah sakit, sehingga pasien dan keluarga pasien nyaman. Serta meningkatkan profesionalisme pegawai rumah sakit. “RSUD Banten ini kan sebenarnya rumah sakit rujukan. Kita ingin lingkungan bersih dan pelayanannya profesional melebihi pelayanan di rumah sakit swasta,” tuturnya.

Ia mengingatkan manajemen RSUD Banten, agar tahun depan memperbaiki instalasi kabel AC. “Tahun depan kan RSUD Banten akan direnovasi total, kita minta instalasi kabel AC diperbaiki jangan sampai semrawut seperti sekarang ini. Pak Gubernur punya mimpi mewujudkan RSUD Banten menjadi rumah sakit terbaik di Indonesia, kalau tidak segera melakukan pembenahan, mimpi itu sulit direalisasikan,” cetus Furtasan. (den/alt/ags)