Produksi Kikil Berbahaya di Pandeglang Dibongkar

Ilustrasi: Inet

SERANG – Produksi pangan berbahaya berupa kikil berpengawet diungkap Satgas Pangan Polda Banten. Senin (26/3) lalu, sebuah tempat produksi kikil bercampur peroxida di Kampung Karya Bakti, RT 002 RW 011, Kelurahan Panimbang Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang digerebek petugas.

Produsen nakal bernama Wiharjo (29) itu diamankan petugas beserta barang bukti. Bahan kimia berbahaya itu digunakan untuk mengawetkan dan berwarna cerah. “Bahan Peroxida dilarang. Jadi tujuan dia agar kelihatan kikilnya bagus dan daya tahan semakin awet,” kata Direktur Reskrimsus Polda Banten Komisaris Besar (Kombes) Abdul Karim di Mapolda Banten, Kamis (7/6).

Sebanyak 20 kilogram kikil yang telah dicampur hidrogen peroxida diamankan petugas. Belum lagi, satu ember kikil siap edar dan kikil yang sudah digoreng. “Karena tidak tahan lama, sebagian kikil sudah kita musnahkan waktu itu juga,” ungkap Abdul Karim.

Abdul Karim mengatakan, praktik produksi kikil bercampur peroxida itu telah dilakukan Wiharjo selama setahun. Setiap hari pelaku mampu memproduksi 100 kilogram kikil. Hasil produksi kikil mengandung bahan berbahaya itu diedarkan di Pandeglang dan pasar-pasar seharga Rp20 ribu per kilogram. “Barang yang digunakan itu bahan yang dilarang sebagai bahan tambahan pangan,” kata Abdul Karim.

Sesuai PP No 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbaya dan Beracun, hidrogen peroxida dikategorikan sebagai jenis bahan beracun. Bahan ini juga bersifat korosif jika dikonsumsi akan mengakibatkan muntah dan iritasi sampai luka pada lambung.

Atas perbuatannya, Wiaharjo disangka melanggar Pasal 136 huruf b jo Pasal 75 ayat (1) huruf b Undang-undang No 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Tersangka terancam pidana 5 tahun penjara dan denda Rp10 miliar. “Warga ketika membeli barang dengan harga murah patut dicurigai. Juga ada ayam berformalin kelihatan bersih, bagus, itu yang perlu diwaspadai,” jelasnya. (Merwanda/RBG)