Produktivitas Industri Turun 20 Persen

Sejumlah truk pengangkut logistik dan hasil industri di Kota Cilegon melintas di depan kawasan industri KIEC, Damkar, Kota Cilegon, Rabu (29/4).

CILEGON – Dampak wabah Covid-19 mulai terasa oleh para pelaku industri di Kota Cilegon. Salah satu dampak negatifnya adalah penurunan produktivitas perusahaan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Cilegon, Tommy Rahmatullah menjelaskan, dampak negatif wabah Covid-19 mulai terasa belum lama ini.

Menurutnya, hal itu karena terjadinya penurunan permintaan produk dari mitra-mitra di pasaran.

“Terpaksa produksi harus distop sebagian, maka secara otomatis berpengaruh terhadap pendapatan,” ujar Tommy kepada Radar Banten, Rabu (29/4).

Kata Tomyy, jika dihitung rata-rata, penurunan produktivitas terjadi sebanyak 20 persen. Namun, sejumlah perusahaan ada yang alami penurunan lebih dari itu.

Dampak tersebut tak hanya terjadi pada industri-industri kecil padat karya, tapi juga industri besar pada sektor kimia dan baja. “Semua industri termasuk kimia dan baja,” ujar Tommy.

Kendati terjadi penurunan produktivitas, tapi sejauh ini belum ada satu perusahaan pun yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada karyawan maupun buruh outsourcing. Sikap perusahaan menyikapi penurunan produktivitas tersebut hanya pengurangan jam kerja, meniadakan lembur, serta penerapan Work From Home (WFH).

Menyinggung terkait permintaan buruh agar aktivitas perusahaan diliburkan sepenuhnya, menurut Tommy hal itu tidak mungkin. Sebab, bisa berdampak buruk terhadap perekonomian. Tak hanya Kota Cilegon, namun Indonesia secara umum. “Buruh juga yang akan rugi kalau diliburkan total,” paparnya.

Penurunan produktivitas industri pun berdampak buruk terhadap bisnis logistik atau jasa antar barang.

Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten, Syaiful Bahri menjelaskan, akibat wabah Covid-19 terjadi penurunan hingga 40 persen. Kondisi tersebut sudah terjadi sejak pertengahan April.

“Itu di Kota Cilegon, kalau di daerah lain yang menerapkan PSBB bisa mencapai 50 persen penurunannya,” papar Syaiful.

Dampaknya, perusahaan harus menerapkan sistem shift atau pergantian pada supir. Dan hal itu secara otomatis berdampak pada pendapatan mereka.

Dengan kondisi tersebut, menurut Syaiful, para pengusaha berharap mendapatkan stimulus dari pemerintah. Selain dengan memberikan  keringanan pajak, upaya lainnya yakni dengan mendorong kebijakan pengurangan  bunga perbankan.

“Kalau perlu selama relaksasi tidak ada bunga. Karena posisinya sangat luar biasa. Kita sangat kesulitan keuangan,” paparnya.

Para pengusaha berharap masa pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga situasi bisa kembali membaik. (bam/air)