Produsen Semen Merah Putih Bantah Lalai Awasi Muatan Truk

Manajemen PT Cemindo Gemilang saat menjalani pemeriksaan oleh penyidik Disnaker Kota Cilegon.

CILEGON – PT Cemindo Gemilang mengaku tidak mengetahui bila truk muatan klinker yang telah menewaskan seorang sopir bernama Pahrudin (29), lantaran melebihi kapasitas. Truk milik PT Trans Nusantara Sejahtera (TNS), subkontraktor produsen Semen Merah Putih itu terbanting setelah mesin hidrolik pecah lantaran tidak mampu menahan muatan beban yang berlebih.

“Kalau itu sudah masuk ke teknis ya. Kita tahunya (kelebihan muatan) setelah kejadian. Jadi bagaimana prosesnya (klinker), siapa yang pesan dan masuk kemana, itu harus kita pastikan lagi,” ujar HRD PT Cemindo Gemilang, Aldi Saragih usai menjalani pemeriksaan di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), Selasa (2/2/2016) sore.

Lebih jauh dirinya membantah bila manajemen PT Cemindo Gemilang telah berupa mempersulit penyidik ketenagakerjaan saat akan melakukan penyelidikan terhadap insiden tersebut. “Kita tidak mempersulit pihak manapun yang akan memasuki perusahaan kita. Selagi memang tujuan dan fungsi-fungsi itu berjalan sesuai dengan ketentuan. Seperti memasuki plant kita harus sesuai dengan SOP dan memenuhi standar safety,” katanya.

Pantauan Radar Banten Online, pemeriksaan itu juga dilakukan Safety Health Enviroment PT Cemindo Gemilang, Aditomo.

Diberitakan sebelumnya, truk bernomor polisi BK 8366 VN itu memuat klinker dengan kapasitas yang berlebih sekira 6,3 ton dari plant PT Cemindo Gemilang di Bayah, Kabupaten Lebak pada Sabtu (30/1/2016) malam. Truk terbanting saat melakukan bongkar muat di plant PT Cemindo Gemilang di Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon.

Baca juga: Terungkap! Ada Sopir Tewas di Kawasan Proyek Semen Merah Putih

Sementara itu, Penyidik Ketenagakerjaan Disnaker Cilegon, Rachmatullah mengatakan kecelakaan kerja sudah beberapa kali terjadi di dalam kawasan pabrik Semen Merah Putih, Ciwandan. “Saat ini kita sudah lakukan pemeriksaan pada Cemindo, besok rencananya kita juga akan lakukan pemeriksaan pada TNS,” ujarnya. (Devi Krisna)