Program Sanitasi Belum Optimal, Tatu Minta Perusahaan Turun Tangan

0
1506
Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah berdiskusi dengan pengurus Apoksi mengenai sanitasi di pendopo bupati Serang, Senin (30/10).

SERANG – Program sanitasi di Kabupaten Serang belum maksimal. Indikasinya, ketersediaan air bersih yang baru mencakup 60 persen.

Senin (30/10), Pemkab menerima kunjungan dari Aliansi Kota Kabupaten Peduli Sanitasi (Apoksi) di pendopo bupati Serang. Kedatangan Apoksi disambut langsung Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah. Turut mendampingi Tatu, para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Tatu mengakui, ketersediaan air bersih di beberapa wilayah kecamatan minim. Untuk mengatasinya, ia meminta perusahaan-perusahaan yang ada di Kabupaten Serang agar dapat menyalurkan dana corporate social responsibility (CSR) untuk program sanitasi air bersih masyarakat.

“Masih banyak PR (pekerjaan rumah) di Kabupaten Serang. Akses masyarakat untuk mendapatkan air bersih baru 60 persen. Sementara untuk mendapatkan air minum baru 70 persen,” ungkap politikus Golkar itu usai menerima kunjungan.

Tatu mengakui, program sanitasi di Kabupaten Serang masih minim akibat keterbatasan anggaran sehingga belum bisa mengatasi persoalan sanitasi secara maksimal. Lantaran itu, ia meminta kepada perusahaan-perusahaan di Kabupaten Serang, baik perusahaan asing, badan usaha milik negara (BUMN), maupun perusahaan swasta untuk turun tangan mengatasi persoalan sanitasi tersebut.

“Sudah ada beberapa perusahaan asing dan BUMN yang mengalokasikan dana CSR-nya ke Kabupaten Serang untuk program sanitasi air bersih. Seperti PT Chargil Indonesia, USAID, dan beberapa perusahaan lainnya. Saya harap perusahaan lainnya mengikuti,” harapnya.

Direktur Eksekutif Apoksi Josrizal Zain menjelaskan, Apoksi diikuti 465 kabupaten kota di Indonesia termasuk Kabupaten Serang. Adapun kedatangannya ke Pemkab Serang untuk melakukan diskusi soal penanganan sanitasi air bersih, baik sanitasi di sekolah maupun di masyarakat umum.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Dirjen Dikdasmen Kemendikbud RI, kata mantan walikota Payakumbuh dua periode ini, sebanyak 37 persen dari 16.800 sekolah dasar (SD) di Indonesia masih belum memiliki sarana mandi cuci kakus (MCK).

“Padahal, MCK ini sangat penting di sekolah,” jelasnya.

Dikatakan Zain, sanitasi terdiri atas tiga hal meliputi pengelolaan sampah, limbah, dan ketersediaan air bersih. Sanitasi menjadi tolok ukur kesehatan masyarakat. Lantaran itu, pihaknya mendorong perusahaan-perusahaan di daerah untuk membantu Pemkab memperbaiki lingkungannya. Sementara, pemerintah pusat menargetkan masyarakat Indonesia harus sudah 100 persen mendapatkan akses sanitasi air bersih hingga 2019.

“Tugas kita menyosialisasikan dan mengampanyekan kepada walikota dan bupati soal sanitasi ini,” pungkasnya. (Rozak/RBG)