Prospek UMKM di 2020, Peluang Ekspor Besar dan Pariwisata Potensial Berkembang

0
1.276 views

SERANG – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian Indonesia termasuk Banten. Selain sebagai roda penggerak perekonomian, UMKM memiliki kemampuan menyerap tenaga kerja dan sarana pemerataan ekonomi. “UMKM sebagai penggerak roda perekonomian karena terbukti mampu bertahan dari terpaan krisis ekonomi,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja, Kamis (5/12).

Terkait penyerapan tenaga kerja di tahun 2019, UMKM di Banten mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,98 juta orang atau sekitar 59,15 persen dari jumlah tenaga kerja nonpertanian. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah usaha UMKM mencapai 944 ribu unit usaha atau 97,86 persen dari total usaha nonpertanian Banten.

Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan pada UMKM binaan/klaster BI Banten, perkembangan UMKM cukup baik, tercermin dari peningkatan produktivitas dan juga penjualan yang dilakukan masing-masing UMKM. Hal ini tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, BI, BUMN, swasta yang turut berperan sebagai pendamping dan memberikan pembinaan kepada UMKM. “Ini untuk meningkatkan mulai dari sisi kualitas, kemasan produk, marketing, kelembagaan, perizinan produk sampai dengan ekspor,” katanya.

Ia menilai, seluruh UMKM memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Namun sejalan dengan program yang sedang digalakkan pemerintah terutama terkait dengan pariwisata dan ekspor. “UMKM yang potensial untuk dikembangkan adalah yang terkait dengan jasa atau produk pariwisata maupun yang memiliki kualitas ekspor,” katanya.

Ia mengungkapkan, prospek UMKM di Banten secara umum masih memiliki kesempatan untuk berkembang di tahun 2020. Ini seiring dengan proyeksi pertumbuhan di tahun 2020 dan berdasarkan data historis perkembangan industri pengolahan mikro dan kecil di tahun 2019. Berdasarkan data dari BPS yang dirilis triwulan 2/2019, pertumbuhan produksi industri pengolahan mikro dan kecil sebesar 9,34 persen (yoy) meningkat dibandingkan posisi triwulan 2/2018 sebesar 5,06 persen (yoy). Kemudian Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kisaran 5,1-5,5% (yoy) pada tahun 2020, dan akan mampu tumbuh 5,2-5,6% (yoy) pada tahun 2021 serta meningkat menjadi 5,5-6,1% (yoy) pada tahun 2024. “Dari data BPS juga diketahui tercatat 50,51 persen UMKM menyatakan usaha mereka memiliki prospek yang lebih baik di masa yang akan datang,” katanya.

Ia menambahkan, secara umum yang menjadi kendala UMKM adalah dari minimnya akses ke perbankan. Selain itu, kemampuan dan pengetahuan SDM yang masih rendah sehingga dikelola dengan cara yang sederhana. Penggunaan teknologi yang terbatas dan belum mampu mengimbangi perubahan selera konsumen khususnya yang berorientasi ekspor.

UMKM perlu senantiasa melakukan pengembangan baik dari sisi SDM maupun dari sisi kualitas produk sehingga dapat bersaing di pasar. Di kondisi di mana perubahan terjadi cepat, maka UMKM perlu memiliki kemampuan untuk mengadaptasi perubahan tersebut dan terbuka terhadap perubahan tanpa mengorbankan sisi kualitas. Mulai dari variasi dan inovasi produk, pengelolaan usaha, kemudian ke sisi transaksi dalam hal proses pembayaran maupun penjualan.

“Mengingat saat ini era digital maka untuk pembayaran dan penjualan pun UMKM harus ready untuk go digital dengan menerima pembayaran non tunai baik melalui transfer atau QR dan pemasaran juga mulai dilakukan secara non konvensional seperti melalui market place maupun media sosial,” katanya.

Ia menuturkan, BI Banten memiliki 13 Program Pengendalian Inflasi (PPI) yaitu satu klaster domba, enam klaster cabai, lima klaster bawang merah dan satu klaster padi. Saat ini delapan klaster di antaranya phasing out dan menyisakan lima klaster existing yaitu satu klaster padi di Desa Tambakbaya, dua klaster cabai di Desa Pamarayan dan Desa Baros, dan dua klaster bawang merah di Desa Gombong dan Desa Tonjong. Selain klaster PPI, BI Banten juga memiliki tiga klaster Local Economic Development (LED) yaitu klaster sale pisang di Cilograng, Lebak, anyaman pandan di Kadulimus, Pandeglang dan gula aren di Sobang, Lebak.  “Di luar klaster/binaan, BI Banten juga bermitra dengan beberapa UMKM yang ada di Banten,” katanya.

Di tahun mendatang, program pengembangan klaster UMKM terus perluas. Klaster UMKM komoditas pangan strategis di berbagai daerah, seperti beras, cabai merah, bawang merah, bawang putih, dan sapi, berperan penting dalam pengendalian inflasi. Klaster UMKM di bidang kerajinan sesuai keunikan budaya daerah diarahkan untuk ekspor dan pariwisata. “Klaster UMKM binaan Bank Indonesia terus diikutsertakan dalam berbagai pameran bertaraf nasional dan internasional,” katanya.

Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesai (HIPPI) Kota Serang Isbandi mengatakan, HIPPI Kota Serang yang baru dilantik pada November lalu dengan pengurus mencapai 100 orang akan terus mengembangkan organisasi ini agar mampu memberikan kontribusi untuk pembangunan Kota Serang. “Organisasi juga terus mendorong para pengurus dan anggota untuk terus melakukan inovasi terhadap produk yang dipasarkan agar mampu bersaing,” katanya.

Ia mengungkapkan, HIPPI Kota Serang juga terus komitmen untuk menumbuhkan jiwa wirausaha bagi para anggota. Selain itu, menciptakan produk unggulan agar bisa semakin dikenal masyarakat. “Tentu dengan konsep yang lebih modern dan kekinian seperti burger dendeng, burger ikan, dan lainnya,” katanya.

Founder & CEO Digital Enterprise Indonesia, pakar Ekonomi Digital & Bank4.0 Bari Arijono mengatakan, keberadaan UMKM berkontribusi sebesar 63,82% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan perlu ditingkatkan terus perannya untuk peningkatan ekspor dan investasi, sektor ini memiliki potensi pertumbuhan sangat besar. Jika saja 10 persen UMKM naik kelas, pertumbuhan ekonomi diperkirakan dapat mencapai tujuh persen bahkan hingga 9,3 persen.

“UMKM terbukti menjadi penyelamat krisis moneter 1998. Namun kelesuan UMKM yang terjadi sejak 2015 lalu hingga sekarang akan menjadi dewa kehancuran perekonomian nasional di saat resesi global 2020 tahun depan terjadi,” katanya.

Ia memberikan rekomendasi perlu adanya arah kebijakan dan strategi transformasi digital yang difokuskan untuk optimalisasi UMKM Digital (UMKM Goes Online), Kementerian Komunikasi dan Informatika meluncurkan Paket Bisnis UMKM yang lebih murah dan akses tidak terbatas. Selain itu, peningkatan nilai tambah, lapangan kerja, ekspor, dan daya saing perekonomian melalui penguatan UMKM. jumlah UMKM yang menjalani bisnis online mendapatkan peningkatan kapasitas usaha dengan pendekatan perusahaan rintisan dan mendapatkan suntikan dana (nonbank), Kementerian Koperasi & UMKM memberikan solusi Finansial UMKM sebagaimana Venture Capital membesarkan start up menjadi unicorn. “BUMN harus memiliki satu platform digital UMKM dengan memanfaatkan fitur pembayaran digital LinkAja yang sudah dimiliki saat ini,” katanya.

Ia mengungkapkan, jumlah UMKM Banten masih terlalu sedikit sekira 12.500 atau sekira satu persen dari total populasi penduduk Banten yaitu 11,8 juta. Harusnya wilayah Banten mampu mencetak minimal 100 ribu UMKM di daerahnya dengan mengangkat potensi budaya, pariwisata, industri olahan minuman dan makanan, kerajinan serta fashion. “Produk-produk unggulan UMKM Banten harusnya dipromosikan dengan paket pariwisata lokal dan internasional untuk memberikam stimulus pertumbuhan UMKM di Banten sebesar sembilan persen dengan meningkatnya partisipasi masyarakat menjadi pelaku usaha, baik yang offline maupun online,” katanya.

Ia juga memberikan beberapa tips agar UMKM bisa maju adalah pertama diberikan kemudahan akses permodalan baik dari bank maupun nonbank tanpa kolateral dan bunga rendah, bukan kredit usaha mikro yang selama ini berjalan. Selain itu, sistem jemput bola juga efektif agar pelaku masyarakat Banten yang mau buka usaha semakin teredukasi dengan inklusi keuangan. Selanjutnya, perlu adanya pendampingan yang terus menerus dari kecamatan hingga kelurahan yang didukung oleh dinas-dinas terkait. Jika perlu setiap minggu sekali diadakan kegiatan di masing-masing wilayah dengan pendaftaraan online.

“Selanjutnya dipertemukan dengan pembeli yang potensial baik buyer dalam negeri maupun luar negeri, seperti kegiatan-kegiatan expo, pameran, dan sebagainya sehingga bisa diukur berapa persediaan dan permintaan pasar,” katanya. (skn/air/ags)