Proyek Masjid Terapung Banten Dilimpahkan ke Pusat

Wakil Ketua Panitia Pembangunan MTB Embay Mulya Syarif menunjukkan maket pembangunan MTB dan menjelaskan soal penataan pembangunan MTB kepada Menko Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Panjaitan (tengah) di Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, Sabtu (11/8).

CINANGKA – Terkendala anggaran, proyek pembangunan masjid terapung Banten (MTB) di Kampung Cibeureum, Desa Kamasan, Kecamatan Cinangka, dilimpahkan kepada pemerintah pusat.

Sabtu (11/8), Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman Indonesia Luhut Binsar Panjaitan berkesempatan meninjau progres pembangunan MTB. Sekadar diketahui, peletakan batu pertama proyek MTB dimulai sejak 2015. Sebagai pelaksana pembangunan, yakni Yayasan Al-Bahru di bawah kepemimpinan mantan bupati Serang Ahmad Taufik Nuriman. MTB dibangun untuk menghadirkan wisata religi di kawasan objek wisata Anyar-Cinangka. Memanfaatkan kedatangan Luhut, panitia berharap pembangunan MTB bisa diambil alih oleh pemerintah pusat.

Luhut berjanji untuk mengupayakan anggaran untuk pembangunan MTB. Namun, Luhut belum bisa memastikan kapan anggaran dari pemerintah pusat diturunkan untuk pembangunan MTB. “Harus segera dibangun. Kalau tidak, nanti besi-besinya berkarat,” singkatnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Panitia Pembangunan MTB Embay Mulya Syarif mengatakan, pembangunan MTB baru 20 persen. Baru sebatas membangun tiang pancang dan lantai dasar. “Saat ini kita standby dulu (pekerjaan dihentikan sementara-red) karena kekurangan anggaran,” aku Embay yang ditemui Radar Banten di lokasi pembangunan MTB.

Selama ini, diakui Embay, pembangunan MTB hanya mengandalkan anggaran swadaya masyarakat selain donatur dari perseorangan. Sejak peletakan batu pertama, proyek MTB sudah menghabiskan anggaran hingga Rp25 miliar. “Yang paling besar itu pembebasan lahannya sampai Rp10 miliar,” ujarnya.

Embay mengaku, pihaknya sudah sering mengajukan bantuan anggaran untuk menutupi kebutuhan pembangunan kepada Pemprov Banten. Namun, tidak mendapat jawaban. Bahkan, panitia juga sudah melayangkan surat permohonan bantuan anggaran kepada Dewan Masjid Indonesia (DMI). “Berkirim surat ke gubernur juga untuk audiensi tidak pernah ada jawaban,” keluhnya.

Menurut Embay, untuk menuntaskan pembangunan MTB tidak bisa mengandalkan dana iuran masyarakat. Oleh karena itu, salah satu tokoh pendiri Banten itu berharap, pemerintah pusat dapat mengambilalih proyek MTB. “Paling tidak untuk membangun masjidnya saja butuh Rp25 miliar. Kalau keseluruhan dengan fasilitas lainnya sekitar Rp130 miliar,” ungkap pria kelahiran Pandeglang, 4 Maret 1952 itu.

Kata Embay, MTB akan dibangun di atas lahan seluas 2,7 hektare dengan kapasitas 3.000 orang. Embay pun mengklaim, MTB akan menjadi masjid terapung terbesar di dunia. “Sampai saat ini kan belum pernah ada masjid terapung yang bisa menampung jamaah 3.000 orang,” klaimnya.

Selain masjid, lanjutnya, di lingkungan MTB juga akan dibangun Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kelautan, selain akan menjadi Pusat Da’i (Pusda’i) Provinsi Banten. “Di Banten kan belum punya Pusda’i. Kalau ada anggarannya, satu tahun juga bisa selesai,” tutupnya. (Abdul Rozak/RBG)