Proyek Tak Mancur, Istri Minta Cerai

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

1. Minta Kejelasan

Mata Dinar (43), nama samaran, merona merah tanda kelelahan. Begitu juga Sabat (36) dan Yogi (28), juga nama samaran. Mereka dan sejumlah pengusaha lain berkumpul di Aula Setda Pemprov Banten, Senin (16/2/2016). Mereka tengah meminta pertanggungjawaban atas pembayaran proyek Dinas Sumber Daya Air dan Pemukiman (DSDAP) Banten yang hingga kini belum dilakukan.

Saat itu, puluhan pengusaha tengah meminta keadilan. Bukan hanya ingin hak mereka berupa pembayaran proyek dipenuhi, namun mereka juga menginginkan kehidupan rumah tangganya kembali.

Nah loh, kehidupan rumah tangga kembali, memangnya kenapa? Ternyata persoalan pembayaran macet membuat rumah tangga mereka berantakan. “Persoalan ini merembet kemana-mana Mas. Sampai ke urusan rumah tangga segala,” ujar Dinar.

Ia mengatakan, dampak kisruh proyek hibah DSDAP membuat rumah tangganya tidak lagi nyaman. Sebab hampir setiap hari Dinar kedatangan orang untuk menagih utang. “Itu yang datang ke rumah, hampir setiap hari. Mulai dari tetangga, rekanan pengusaha, utusan bank, sampai rentenir Mas,” terangnya.

Keluarga Dinar yang sebelumnya adem ayem, tiba-tiba menjadi pusat perhatian para tetangga. Dinar disebut-sebut sebagai pengusaha di ambang kebangkrutan, ini membuat nama baiknya tercoreng. “Muka saya tercoreng, dan itu dampaknya kepada anak. Anak saya diejek teman-temannya, katanya punya ayah banyak hutang,” katanya.

Tidak hanya anak, derajat sang istri di mata ibu-ibu tetangga juga menurun drastis. Gara-gara itu, sang istri menjadi sangat kesal dan hubungan mereka sedang retak. “Kami jadi sering bertengkar. Bagaimana tidak, uang saya benar-benar menipis. Semuanya terkuras oleh proyek itu,” ujar warga Tangerang ini.

Dinar pun menceritakan persoalannya. Ia mengaku baru terjun di bidang proyek. Tahun lalu, Dinar mendapat penawaran untuk mengerjakan salah satu proyek DSDAP Banten, yakni pembuatan Mandi Cuci Kakus (MCK). “Ceritanya saya lagi belajar ikutan proyek Mas. Kira saya hal yang mudah, ternyata bisa serumit ini,” katanya.

Bagaimana tidak rumit, proyek sederhana itu ternyata banyak prasayarat. Dinar mengaku, harus membayar uang pelicin ini dan itu kepada sejumlah pihak. “Belum juga proyek berjalan, saya sudah diminta uang Mas. Artinya saya keluar ongkos dulu dari dompet,” jelasnya.

Bahkan karena banyak hal, Dinar mendapati modal awalnya untuk mengerjakan proyek tidak cukup. Bahkan ketika itu terjadi, petugas pengawas dari dinas mengatakan, jika proyek tersebut harus digenjot.

Lantaran dikejar-kejar waktu, Dinar terpaksa meminjam uang kesana dan kemari. Mulai dari pinjam uang ke bank, tetangga, kenalan pengusaha, hingga pada rentenir. “Saya kan panik, tidak punya dana cukup dalam waktu singkat. Sementara saya tidak mau membuat pemerintah kecewa. Bahkan saya jual semua perhiasan istri ke toko emas biar tambah-tambah biaya,” akunya.

2. Ditagih Rentenir

Itu terjadi di pertengahan November 2015. Dinar memberanikan diri untuk pinjam lantaran pada kontrak kerja, pembayaran proyek akan dilaksanakan Desember. Namun ternyata itu tidak terjadi, sebab hingga saat ini uang pembayaran belum dilunasi Pemprov Banten. “Inilah letak persoalannya, yang proyek belum dibayar-bayar juga. Padahal pekerjaannya sudah selesai Mas,” keluh Dinar.

Gara-gara itu, janji Dinar membawa keluarga liburan di akhir tahun menjadi batal. Jangankan keluar negeri, membuat acara kecil-kecilan di rumah saja Dinar tidak bisa. “Biasanya, minimal bakar-bakar ayam Mas. Kalau ini tidak bisa, orang saya tidak punya uang,” katanya.

Menginjak bulan pertama di 2016, bencana berdatangan. Dinar mulai dikejar-kejar para penagih utang. Sikap sejumlah penagih yang urakan kadang kala menarik perhatian tetangga. Apalagi ketika mereka mulai menyita sejumlah barang milik Dinar. “Sedikit demi sedikit barang-barang dirumah mulai disita, khususnya oleh para rentenir. Mulai televisi, laptop, bahkan kemarin saya harus ikhlaskan motor,” ujarnya.

Gara-gara hal itu, suasana rumah Dinar menjadi kacau. Banyaknya penagih utang membuat istri Dinar menjadi gerah. Terlebih ia menjadi bahan omongan tetangga. Hal tersebut membuat sang istri sangat sedih dan marah. “Istri memarahi saya, agar pemerintah cepat-cepat bayar proyek. Dia kira saya malas-malasan, padahal saya lagi mati-matian ini,” terangnya.

Di sejumlah pertengkaran, sang istri berkali-kali mengancam akan meninggalkan rumah. Ia bahkan mengancam akan membawa anak-anak bersamanya. “Katanya, tinggal di rumah saya sudah tidak aman. Anak-anak bisa kena shock kalau terus begini. Makanya saya diminta cepat-cepat ambil uang proyek,” tutur Dinar.

Mendengar curhatan Dinar, Sabat dan Yogi juga membenarkan. Mereka juga mengaku jadi sering bertengkar dengan istri gara-gara uang proyek yang belum dibayarkan. “Mereka juga sama, enggak mau tahu pokoknya uang proyek harus segera ada. Minimal untuk bayar utang saja, biar lebih tenang enggak dikejar-kejar penagih utang,” katanya.

Wah wah wah, jadi kacau begini ya. Duh semoga yang terkait segera membayarkan kewajibannya deh, Amin. (RB/quy/zee)