PT GSJ Ditenggat 45 Hari Perbaiki Mesin Penghilang Bau Kotoran Ayam

0
461 views

SERANG – PT Gizindo Sejahtera Jaya (GSJ) melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan Pemkab Serang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Rabu (1/2). Perusahaan yang memproduksi telur ayam itu, diberikan tenggat waktu 45 hari untuk memperbaiki mesin penghilang bau kotoran ayam. Jika melanggar, Pemkab sudah menyiapkan sanksi berat.

Sekretaris DLH Kabupaten Serang Kustaman menyatakan, PT GSJ statusnya sudah diberhentikan sementara terhitung sejak 19 Januari. “Kesepakatannya, PT GSJ diberi waktu 45 hari, terhitung 19 Januari lalu untuk mengatasi bau, mengurangi populasi dan kotoran, menerapkan teknologi tepat penghilang bau, serta secara bertahap menyeimbangkan antara populasi dengan sarana mesin kompos yang sudah diperbaiki,” ungkap pria berkumis tersebut saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Jumat (3/2).

Jika mampu diselesaikan, kata Kustaman, maka permasalahan dianggap selesai. Namun, jika melewati 45 hari masih ada keluhan soal bau, maka ada dua pengecualian. Jika bau diakibatkan bencana seperti banjir bisa dimaklumi. Dengan catatan, perusahaan dan masyarakat melapor ke DLH.

Sebaliknya, jika terjadi pelanggaran, maka sanksi bergeser kepada sanksi lebih berat sesuai Undang-Undang 32 Tahun 2009. “Sanksinya, mulai dari pemindahan sarana produksi, pembekuan izin lingkungan, sampai pencabutan izin lingkungan. Ujungnya, menyelesaikan permasalahan,” tegasnya.

Terkait itu, Tim Legal dan Public Relation PT GSJ Joni Patasarani mengklaim, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait permasalahan bau. Namun, kata dia, perusahaan tetap menerima aspirasi masyarakat yang ingin menutup sementara. “Kita sekarang MoU dengan DLH diberi waktu 45 hari perbaikan. Kita sanggup, kenapa tidak. Kita pokoknya ikuti aturan dan mekanisme yang ada,” tegasnya.

Kata Joni, perusahaan sudah melakukan perbaikan sebelum ada keputusan kesepakatan. Bahkan, ia mengklaim, bau sudah mulai berkurang selama tiga hari ke belakang. “Alhamdulillah, sudah enggak bau. Tapi, teknologi manusia ada batasnya,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya terus berupaya mengurangi kadar bau. Di antaranya dengan mengeluarkan dua komposting kotoran sejak ada keputusan penutupan sementara. Per satu komposting sebanyak 200 ton. “Kita juga lakukan pengurangan jumlah ayam, sebanyak enam kandang. Per kandang rata-rata diisi 30 sampai 50 ribu ekor ayam. Pokoknya, kita ikut perintah DLH,” katanya.

Joni menambahkan, produksi telur ayam hitungannya per hari satu telur per ayam. Katanya, masa produktif ayam bertelur hanya enam bulan. Perusahaan juga sudah disurvei oleh DLH dan diberikan semacam pengisap bau dan debu. “Kami juga melakukan proses pemberian kokopit dan mikroba, sudah teruji. Karyawan kita sekira 20 orang dan 80 persen karyawan lokal. Berdiri sejak 2013,” pungkasnya. (Nizar S/Radar Banten)