PT KIEC Bakal Kelola PKL Alun-alun Cilegon

Deretan lapak para PKL yang saat ini berada di akses jalan masuk Alun-alun. Untuk menghindari kesan kumuh, rencana PT KIEC akan melakukan pengelolaan terhadap PKL.

CILEGON – Pedagang kaki lima (PKL) Alun-alun Kota Cilegon yang berada di atas lahan milik PT Krakatau Steel akan dikelola oleh PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC). Keputusan itu lahir setelah para pedagang meminta kepada Pemkot untuk bisa tetap berjualan di area seluas 1.600 meter persegi itu.

Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam pada Biro Kesra Setda Kota Cilegon Bayu Panatagama menjelaskan, setelah melakukan pertemuan dengan Pemkot, PT KIEC sepakat sisa lahan yang berada tepat di samping jalan akses masuk alun-alun itu digunakan untuk kepentingan PKL. “Nanti akan dikelola oleh PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) nya kS,” ujar Bayu kepada wartawan, Minggu (19/8).

Menurutnya, area itu nanti akan menjadi pusat jajanan di luar dari area yang sudah disiapkan oleh Pemkot di dalam alun-alun. Namun, ia mengaku belum mengetahui akan seperti apa bentuk tenant yang akan dibuat oleh PT KIEC di atas lahan itu.

Bayu pun mengaku belum tahu akan seperti apa bentuk kerja sama antara para pedagang dengan PKBL nanti. Bayu menilai hal itu menjadi sepenuhnya kewenangan PT KIEC sebagai pihak yang memiliki lahan.

Terlepas seperti apa bentuknya nanti, para PKL bisa terakomodir oleh PT KIEC di lahan tersebut, sehingga kondisinya rapi dan tidak kumuh seperti sebelum-sebelumnya.

Karena, lanjut Bayu, Pemkot Cilegon telah berusaha keras untuk membangun alun-alun itu tampak rapi, indah, dan nyaman. Sehingga, diharapkan jangan sampai karena pedagang yang tidak bisa terakomodir oleh pemerintah kondisi fasilitas umum itu menjadi kumuh.

Keberadaan pedagang di lahan kosong yang berada di samping alun-alun itu, menurutnya, tidak bisa terhindar karena konsep perekonomian, di mana ada keramaian di situ ada pedagang. “Kita pun tidak bisa abai terhadap keinginan masyarakat yang ingin berdagang di alun-alun. Mereka menggunakan lokasi kawasan di luar alun-alun. Karena berdekatan, tetap secara estetik mengganggu alun-alun,” ujar Bayu.

Sesuai dengan Peraturan Walikota (Perwal) Nomor 13 Tahun 2018 tentang Penataan dan Pembinaan Pedagang Kaki Lima, karena itulah Pemkot Kota Cilegon mencoba memfasilitasi antara PT KS dan masyarakat agar tanah milik KS seluas 1.600 meter persegi tersebut bisa difungsikan untuk area PKL.

Sementara itu, Ketua Perkumpulan Pedagang Kota Cilegon (Perpekoci) Feri menuturkan, berdasarkan informasi yang ia terima, PT KS telah menyetujui jika lahan yang sebelumnya disebut-sebut untuk apartemen itu digunakan untuk para pedagang.

“Plt Walikota (Edi Ariadi) sudah bertemu dengan Direktur PT KS, kami juga dari pihak paguyuban sudah menyurati ke KS dan KIEC dan PKBL, intinya KS sudah setuju,” ujar Feri.

Menurutnya, siapapun yang akan membangun tempat tersebut, para pedagang meminta yang mengisi tempat itu harus dari anggota Perpekoci. “Jangan menciptakan pedagang yang baru kang, sebab kami juga akan menampung pedagang sekitar belakang Polres dan sekitar simpang Al-Hadid supaya tidak terkesan kumuh di area tersebut, itu semua atas komunikasi kami dengan pihak kelurahan Ramanuju dan kecamatan,” tuturnya.

Feri melanjutkan, ada sekira 200 orang yang tergabung di paguyuban yang dipimpinnya itu. Menurutnya, masyarakat pun tidak ingin membuat alun-alun tampak kumuh, tetapi karena status lahan belum jelas masyarakat belum mau membangun tenant yang bagus. (Bayu M/RBG)