Pulang Dari Bangkok, Nengsih Tampil Seronok (Bag 1)

Love Story

Love Story
Ilustrasi Love Story (Dok: RB)

Tidak selamanya mendapat pekerjaan adalah sebuah anugerah. Ini terbukti pada kasus rumah tangga Dobleh (43) dan Nengsih (37), keduanya nama samaran. Rumah tangga mereka jadi lantaran Nengsih bekerja di Bangkok, Thailand. Tepatnya perpecahan rumah tangga mereka terjadi ketika Nengsih habis kontrak di Bangkok.

Pulang dari Bangkok, Nengsih yang lugu berubah menjadi wanita kekinian. Rambutnya pirang, berkaos ketat you can see, rok pun di atas lutut alias mini, serta menggunakan sepatu sandal yang trendi. “Istri saya berubah setelah pulang dari Bangkok. Ia menjadi gahol abis dan super seksi. Ini membuat saya terpukul,” ujar Dobleh.

Busana kekinian Nengsih membuat Dobleh frustasi. Sebab gara-gara itu, Nengsih jadi pusat perhatian para pemuda dan lelaki beristri di kampungnya. “Paling bikin malu, saya berkali-kali di tegur Pak Kyai dan Ustadz. Mereka meminta saya segera ajari Nengsih agar berpakaian sopan,” tutur Dobleh.

Maklum, kata Dobleh, lingkungan di kampungnya masih terbilang awam dengan pergaulan kota. Lah para wanita di kampung kebanyakan pakai sarung, tapi Nengsih malah pakai baju ketat dan rok mini. “Istri saya mencolok, dia satu-satunya perempuan yang berpakaian seksi. Saya jadi sangat malu,” katanya.

Menurut Dobleh, Nengsih yang ia kenal sebelumnya adalah perempuan alim dan penurut. Maklum Nengsih saat dinikahi adalah santriwati salah satu pesantren di kampung itu. Kebetulan Dobleh juga seorang santri, meskipun tidak satu pesantren. Namun karena sama-sama santri itulah, nasib mempertemukan mereka untuk menjadi pasangan suami istri. “Kami ini orang kampung, lulusan pesantren pula. Dulu Nengsih itu orangnya lugu dan polos. Dia juga menurut apa kata suami, sebab itu memang diajarkan dalam agama,” terangnya.

Setelah menikah, Dobleh diberikan satu petak tanah oleh orangtua. Dibantu masyarakat setempat, Dobleh membangun rumah di atas tanah itu. Untuk kebutuhan sehari-hari, Dobleh menerima murid mengaji. Ia jadi guru ngaji baik di rumah maupun berkeliling ke rumah-rumah. “Dulu saya bekerja keras sesuai bidang, yakni jadi guru ngaji. Habis mau bekerja lainnya, saya tidak pernah sekolah. Sejak kecil saya ikut pesantren, jadi tidak punya ijazah apa-apa,” tuturnya.

Namun seiring waktu, kebutuhan hidup semakin meningkat tajam. Penghasilan seorang guru mengaji tidak lagi bisa mencukupi keluarga Dobleh yang telah dikaruniai tiga anak ini. “Nengsih berkali-kali mengeluh tentang kebutuhan hidup yang tinggi. Sekeras-kerasnya kami mencari cara untuk dapat rejeki lebih, tapi tetap sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelas Dobleh.

Hingga akhirnya pada 2009 lalu, Nengsih mendapat tawaran bekerja di Bangkok sebagai pembantu rumah tangga oleh seorang agen penyalur TKW. Ia diiming-imingi gaji di atas Rp5 juta per bulan, tentu saja tawaran itu langsung diterima. “Lima juta itu baru gaji, belum bonus-bonus lain,” kata Nengsih.

Awalnya Dobleh sempat menolak, ia meminta agar Nengsih tetap di rumah dan mengurus anak-anak. Sayang Nengsih sangat bersemangat, sebab dengan gaji itu maka bisa membuat hidup mereka berubah. “Kata istri, dengan gaji seperti itu maka kami bisa punya tabungan untuk membuka usaha,” jelasnya.

Mendengar perkataan serta melihat tekad Nengsih, hati Dobleh luluh. Ia akhirnya memperbolehkan Nengsih pergi ke Bangkok. “Karena Nengsih terlihat sangat bersemangat, akhirnya saya berdoa kepada Allah mudah-mudahan ini memang jalan terbaik yang harus kami tempuh,” katanya.

Saat pergi, anak-anak Nengsih menangis sedih. Begitu juga Dobleh yang merasa kehilangan sekaligus khawatir. “Nengsih kan perempuan lugu. Saya ragu kalau dia bisa bertahan di sana,” terangnya.

Setelah kepergian Nengsih, mulailah hari-hari Dobleh sebagai orangtua tunggal. Ia mulai belajar memasak serta mengurus anak-anak dengan hati yang sabar. “Sejak saat itu, saya yang mengurus anak-anak sendirian di rumah,” tuturnya. Bersambung…